Berorganisasi adalah hal lumprah. Lewat organisasi itu, orang akan memperoleh banyak keuntungan. Misalnya, dengan menjadi anggota organisasi maka akan mendapatkan banyak kawan, mempererat tali sillaturakhiem, meningkatkan kualitas pribadi, dan lain-lain. Organisasi dibangun atas dasar bermacam alasan, mulai dari yang paling sederhana, misalnya atas dasar hubungan pertalian darah, kesamaan etnik atau suku, kesamaan agama atau aliran, idiologi, asal daerah, kesamaan profesi, dan lain-lain.
Masyarakat kampus pun di dalam berorganisasi juga tidak jarang masih dilatar belakangi oleh berbagai macam alasan, di antaranya, atas dasar idiologis, sekalipun seharusnya lebih tepat jika berorientasi pada profesinya masing-masing. Contoh yang bersifat idiologis itu misalnya saja adalah agama, aliran, paham tertentu, dan sejenisnya. Organisasi yang bersifat idiologis ini manakala menguat tidak jarang mengganggu proses-proses yang seharusnya lebih berorientasi pada tuntutan kualitas.
Dampak yang disebut sangat tidak menguntungkan dari terlalu kuatnya pengaruh idiologis di kampus karena pasti mempengaruhi iklim akademik, kepemimpinan dan juga politik kampus. Akibat idiologi itu para dosen terpilah-pilah menjadi beberapa kelompok yang kadang sangat mengganggu. Konflik terjadi bermula dari adanya organisasi itu. Memang konflik kadang ada gunanya, agar lembaga menjadi dinamis. Akan tetapi, seringkali juga sangat mengganggu komunikasi antar dosen.
Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan seorang dosen di perguruan tinggi Islam. Ia sangat gelisah dengan keadaan dosen yang terpecah belah akibat organisasi yang ada di kampusnya. Dengan adanya organisasi itu maka dirasakan bahwa obyektifitas, rasionalitas, keterbukaan, dan orientasi kerja banyak terganggu. Padahal nilai-nilai dimaksud seharusnya dijaga secara konsisten oleh kampus melebihi lainnya. Hilangnya obyektifitas dan rasionalitas itu misalnya, seseorang gagal menduduki posisi tertentu hanya disebabkan oleh perbedaan organisasi. Sebaliknya, hanya bermodalkan organisasi, seseorang yang tidak memiliki kelebihan yang menyolok berhasil meraih posisi strategis.
Akhirnya, organisasi yang bersifat idiologis ternyata sangat mengganggu iklim kampus, tetapi semua pihak tidak mampu keluar dari belenggu itu. Organisasi semacam itu ternyata bisa dimanfaatklan oleh pihak-pihak tertentu di dalam perjuangannya meraih posisi-posisi yang dianggap penting dan secara pribadi menguntungkan. Maka, betapapun keberadaannya selalu dipelihara, sekalipun sejatinya mengganggu di dalam pengembangan akademik dan profesionalisme. Tatkala organisasi itu menjadi kuat, maka banyak pihak tidak bisa berkutik, dan pilihannya harus mengikuti kemauan organisasi dimaksud sekalipun tidak sesuai dengan keinginan nurani mereka yang paling dalam.
Oleh karena itu, kampus yang dihuni oleh orang-orang yang masih terlalu beroirientasi pada idiologis itu tidak akan maju. Bahkan yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu kaya konflik, saling menghambat, dan menjatuhkan antar sesama. Iklim kampus yang demikian itu sebenarnya tidak sehat. Nilai-nilai kejujuran, obyektifitas, rasionalitas, dan sejenisnya yang seharusnya dijaga secara konsisten gagal dilakukan. Kampus hanya akan menjadi ajang persaingan dari orang-orang yang tidak jelas orientasinya. Suasana yang demikian itu, sekalipun disediakan anggaran melimpah tidak akan menghasilkan karya-karya akademik yang berkualitas. Semua hal akhirnya akan berpengaruh, tidak terkecuali di dalam pengembangan keilmuannya.
Sebagai kemungkinan jalan keluarnya, organisasi di dalam kampus seharusnya berorientasi pada profesi masing-masing. Ikatan di dalam organisasi bukan berupa idiologi melainkan keahlian, keilmuan atau profesi. Kelompok ilmuwan sejenis membangun organisasi dengan maksud untuk mengembangkan ilmu dan profesinya. Kiranya organisasi seperti itu justru akan bermanfaat dan meningkatkan produktifitasnya. Perbedaan tidak akan bisa digunakan untuk saling menjatuhkan, melainkan sebaliknya, justru melengkapi atau bahkan memperkukuh. Manakala gambaran seperti itu bisa diwujudkan, apalagi di perguruan tinggi Islam, maka akan mempercepat perkembangannya. Sebaliknya, manakala semangat membangun idiologis itu tidak berhasil dikurangi, maka berapapun anggaran dan fasilitas yang disediakan, maka tidak akan menghasilkan kemajuan. Wallahu a'lam.



