Pesan Presiden Terpilih 2014
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 2 Agustus 2014 . in Dosen . 886 views

Di dalam pidato kemenangan presiden terpilih, pada tanggal 9 Juli 2014 malam, Joko Widodo dan Yusuf Kalla, menyampaikan pesan menarik, yaitu bahwa, sejak saat itu tidakl ada lagi salam satu jari atau dua jari, melainkan yang ada adalah salam tiga jari. Salam satu jari sudah selesai, begitu pula salam dua jadi. Mulai saat itu yang ada hanyalah salam tiga jari. Artinya bahwa, pendukung salam satu jari dan atau pendukung salam dua jari sudah bersatu kembali di dalam salam tiga jari, yaitu sebagai simbol kemenangan bagi semua.

Dikatakan juga di dalam kesempatan itu bahwa, hendaknya mulai saat itu sudah tidak lagi berbicara tentang pileg dan pilpres. Proses pesta demokrasi itu sudah selesai. Oleh sebab itu maka, para pegawai hendaknya segera kembali ke kantor, para buruh kembali ke pabrik, para pedagang kembali ke pasar, para nelayan kembali melaut, dan atau semua pihak, tanpa terkecuali, hendaknya kembali kepada kegiatannya masing-masing. Lewat statemen itu, Joko Widodo memberikan pesan bahwa, pembicaraan tentang politik yang melibatkan seluruh rakyat harus diakhiri dan dianggap selesai.

Melalui pesan tersebut maka setidaknya ada tiga hal penting yang akan disampaikan. Yaitu pertama, betapa sebenarnya kebebasan telah diberikan oleh pemerintah kepada rakyat untuk memilih calon pemimpinnya pada masa lima tahun ke depan yang dikehandaki. Pada saat pemilihan presiden dan wakil presiden, rakyat dibolehkan untuk berbeda di dalam menentukan pilihan sesuai dengan aspirasinya. Pilihan itu adalah hak pribadi masing-masing rakyat. Tidak boleh ada seorang pun yang memaksa kehendaknya kepada orang lain. Boleh mengajak, membujuk, dan mempengaruhi orang lain, tetapi tidak diperbolehkan untuk memaksa.

Kedua, lewat pidato kemenangan itu, Presiden terpilih juga mengingatkan tentang betapa pentingnya persatuan bagi bangsa Indonesia. Rakyat boleh berbeda-beda pendapatnya tetapi harus tetap bersatu. Persatuan harus diletakkan pada posisi utama atau di atas segala-galanya. Sehebat dan berkelebihan apapun manakala tidak bersatu, maka kelebihan itu tidak ada gunanya, dan bahkan bisa jadi, justru akan menjadi kekuatan perusak atau penghancur. Lihat saja negara-negara yang rakyatnya tidak bersatu, maka di sana tidak ada kedamaian dan apalagi kesejahteraan. Itulah sebabnya, persatuan menjadi sangat fondamental sifatnya.

Sebagai tambahan, bahwa siapapun presiden dan wakil presidennya, manakala rakyat tidak bersatu maka akan selalu berada pada bayang-bayang kekhawatiran dan ketakutan. Apa yang terjadi di Aceh selama beberapa tahun yang lalu, ketika masih terjadi konflik, pemerintah dan rakyat setempat tidak bisa membangun. Pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, keamanan, dan lain-lain tidak bisa diselesaikan dengan baik. Sehari-hari rakyat diliputi oleh suasara khawatir, takut, dan tidak saling percaya. Ketenangan dan ketentraman menjadi barang mahal. Di propinsi itu, -------menjelang sore, suasana menjadi sepi, tidak ada orang berani keluar rumah.

Konflik di daerah dalam waktu lama dengan berbagai akibatnya itu, sebenarnya bisa dijadikan pelajaran tentang betapa pentingnya persatuan dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa persatuan maka usaha dan kemajuan apapun tidak akan bisa diraih. Kejadian yang menakutkan itu, sebenarnya tidak saja di Aceh tetapi juga di daerah-daerah lainnya. Kita masih ingat beberapa konflik antar kelompok yang pernah terjadi, misalnya di Sambas, Ambon, Maluku utara, Poso, dan lain-lain adalah sangat mengerikan. Kejadian itu adalah sebagai akibat dari persatuan masyarakat terganggu. Maka, hal itu tentu tidak boleh terulang kembali.

Ketiga, presiden terpilih mengajak kepada semua rakyat untuk segera kembali menjalankan aktivitasnya masing-masing sebagaimana biasanya. Pesan itu sebenarnya bisa dimaknai bahwa kehidupan rakyat adalah sangat tergantung pada rakyat sendiri. Kesejahteraan petani tergantung kepada petani. Demikian pula bagi pedagang, nelayan, pegawai, buruh, dan lain-lain. Mereka menjadi hebat dan sebaliknya, adalah tergantung pada kualitanya masing-masing. Pemerintah bukan satu-satunya kekuatan penentu. Siapapun pemerintahnya, manakala rakyat tidak melakukan perubahan, maka mereka tidak akan menghasilkan apa-apa.

Pandangan tersebut kiranya sudah tidak kurang lagi buktinya. Di banyak tempat terdapat orang sukses di bidang ekonomi adalah oleh karena kekuatannya sendiri. Inovasi atau prakarsa yang dilakukan adalah atas inisiatif atau buah pikirannya sendiri. Mereka menjadi sukses dan atau kaya adalah tanpa keterlibatan pemerintah. Contoh lainnya di bidang pendidikan, yaitu banyak berdiri pondok pesantren, madrasah, sekolah, dan bahkan hingga perguruan tinggi yang akhirnya memiliki nama besar oleh karena keunggulannya adalah merupakan prestasi yang diraih secara mandiri, tanpa sentuhan yang berarti dari pemerintah.

Berangkat dari kenyataan tersebut maka dengan mudah dipahami bahwa, siapapun pemerintah yang akan berkuasa, sebenarnya kekuatan penentu masih berada di tangan rakyat. Maka, pesan penting yang perlu disampaikan adalah, bahwa untuk meraih kemajuan, kemakmuran, dan kesejahteraan, siapapun tidak harus menunggu kebijakan pemerintah yang baru. Rakyat atau masyarakat sebenarnya mampu mengembangkan insisiatif, berbuat sesuatu, dan bahkan mengubah dirinya sendiri menuju pada keadaan yang lebih baik tanpa menggantungkan diri pada pemerintah. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up