Pesantren Ngalah
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 1 Agustus 2014 . in Dosen . 4678 views

Kata ngalah biasanya digunakan untuk mengambarkan sikap seseorang tatkala menerima perlakuan orang lain apa adanya. Ia tidak membantah, atau tidak melawan, atau juga tidak berusaha untuk merebut. Sikapnya merima apa adanya, sekalipun umpama ia mau berusaha akan menjadi menang. Orang mengalah berbeda dengan kalah. Seorang dikatakan kalah apabila dalam pertandingan tidak mampu mengungguli lawan. Orang mengalah tidak selalu benar-benar kalah.

Di daerah Purwasari, Kabupaten Pasuruan, terdapat pondok pesantren, oleh pengasuhnya diberi nama 'Ngalah'. Sebagai sebuah lembaga pendidikan, pesantren sebenarnya tidak dituntut bertanding dengan siapapun. Oleh karena itu, istilah kalah atau menang sebenarnya tidak dikenal dalam kehidupan pesantren, termasuk juga mengalah. Umpama harus membandingkan, maka yang muncul adalah sebutan pesantren baru atau pesantren tua, atau pesantren salaf dan pesantren modern.

Pesantren yang didirikan dan diasuh oleh Kyai Shaleh yang kemudian diberi nama 'Ngalah' ini sudah cukup dikenal oleh masyarakat luas dan juga tergolong berani dalam melakukan pembaharuan pendidikan. Di lembaga pendidikan tersebut tidak saja diselenggarakan pendidikan tradisional sebagaimana pesantren pada umumnya, tetapi juga dibuka sekolah umum, dan bahkan hingga tingkat perguruan tinggi. Disebut lebih maju lagi, oleh karena, perguruan tinggi yang dikembangkan berbentuk universitas dan membuka berbagai fakultas umum, seperti fakultas teknik, fakultas psikologi, fakultas ekonomi, dan lain-lain.

Oleh karena itu, sekalipun lembaga pendidikan Islam swasta ini diberi nama pesantren ngalah, sebenarnya dalam berinovasi, ia tidak kalah dari yang lain. Justru sebaliknya, pesantren ini dalam pengembangan pemikiran sudah jauh meninggalkan banyak lembaga pendidikan Islam lain yang menyebut dirinya telah maju. Pikiran kyai pengasuh Pesantren Ngalah ini, sebenarnya sudah melampaui pemikiran lembaga pendidikan Islam yang menyebut dirinya modern sekalipun.

Sebagai hal yang agaknya terasa aneh lainnya adalah, bahwa kyai dan pesantren ini sangat terbuka. Siapapun boleh masuk dan belajar ke pesantren ini tanpa melihat latar belakang kehidupan yang disandang, termasuk agama yang dipeluknya. Bahkan, pesantren ini sering mengundang tokoh berbagai agama untuk berdialog bersama, baik tingkat lokal maupun nasional. Suatu saat, saya bertemu dengan Rektor IHDN Bali, ternyata pemuka agama hindu ini bercerita bahwa pernah diundang dan menginap di Pesantren Ngalah bersama beberapa tokoh agama lainnya.

Tulisan singkat ini tidak bermaksud akan menjelaskan tentang lembaga pendidikan Islam yang agaknya terasa unik dimaksud, tetapi untuk mengingatkan tentang betapa pentingnya kata yang digunakan sebagai nama pesantren ini, ialah 'ngalah', bagi bangsa Indonesia sekarang. Dalam masyarakat majemuk, sebagaimana dialami oleh bangsa ini, tidak boleh masing-masing pihak selalu berorientasi agar menang sendiri, sedangkan kelompok lain harus kalah. Sikap selalu ingin menang sendiri itu manakala dikembangkan secara berlebih-lebihan akan membahayakan keutuhan bangsa.

Kyai Sholeh memberikan nama pesantrennya dengan kata 'ngalah', menurut hemat saya, telah sekaligus memberikan peringatan penting bagi bangsa agar pandangan dan sikap itu dikembangkan oleh siapapun, apalagi oleh orang-orang yang merasa sebagai pemimpin bangsa. Pengasuh pesantren ini, -------Kyai Sholeh, telah mengembangkan sikap terbuka, dalam pengertian, tidak saja telah berusaha mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan secara luas, tetapi juga membangun jiwa besar dan berbagai kemungkinan untuk bertemu, berkomunikasi, dan berdialog dengan berbagai tokoh agama yang berbeda-beda.

Mempelajari apa yang dikembangkan oleh Pesantren Ngalah, terasa sedemikian menarik dan sangat relevan dengan tuntutan bangsa sekarang ini. Kondisi bangsa sekarang ini membutuhkan sikap dan pikiran terbuka serta kesediaan untuk saling mengalah. Memaksakan kehendak, misalnya 'harus menang', maka yang diperoleh, ------bisa jadi, adalah justru sebaliknya, yaitu kegagalan bagi semua.

Oleh sebab itu, pada setiap melewati Pesantren Ngalah yang berada di Purwosari, dalam perjalanan dari Malang ke Surabaya atau sebaliknya, saya selalu merasa diingatkan tentang pelajaran hidup yang amat penting ini, ialah harus mau 'mengalah'. Semoga para pemimpin bangsa, demi memelihara keutuhan, kerukunan, dan kekompakan bersama, maka seharusnya bersedia mengembangkan sikap arif dan mulia dimaksud. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up