Shalat Jum'at di Masjidil Haram
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 23 Agustus 2014 . in Dosen . 3906 views

Dalam perjalanan ke Khartoum, Sudan, saya menyempatkan singgah ke Makkah untuk umrah dan shalat jum'at di Masjidil Haram. Dengan berniat singgah ke tanah suci itu, maka penerbangan dari Doha tidak langsung ke Khartoum, tetapi ke Jeddah terlebih dahulu, dan kemudian ke Makkah. Rasanya sayang, perjalanan jauh dan sekaligus bisa ke tanah suci, umpama kesempatan itu terlewatkan. Apalagi waktunya agak longgar.

Semula saya mengira, menjelang bulan haji, maka Masjidil Haram sepi. Ternyata dugaan saya keliru. Sekalipun tidak ada lagi jama'ah umrah dari Indonesia, Malaysia, Pakistan, dan lain-lain, ternyata halaman ka'bah masih tetap penuh orang melakukan thawwaf. Mereka itu adalah warga Saudi sendiri dan orang yang datang dari negara-negara wilayah teluk.

Biasanya ketika musim haji sudah dekat, pemerintah Saudi, -------untuk sementara, menutup kegiatan umrah bagi orang dari luar Arab. Namun rupanya kebijakan pemerintah itu dimanfaatkan oleh orang Saudi sendiri dan juga orang-orang dari negara-negara teluk untuk umrah dan shalat di Masjidil Haram. Akibatnya, jama'ah shalat dan juga orang yang melaksanakan umrah masih tetap banyak, kecuali orang dari Indonesia. Orang Indonesia sangat mudah dikenali, biasanya mereka mengenakan sarung, kopyah hitam, dan baju koko.

Untuk melakukan umrah, saya memilih waktu pada malam hari. Saya mengira, pada saat itu akan sepi. Ternyata, perkiraan itu salah. Jumlah orang di Masjidil Haram untuk shalat malam dan kegiatan lain justru tambah banyak. Halaman ka'bah maupun di mas'a atau tempat sa'i, sepanjang malam penuh sesak. Demikian pula pada siang hari berikutnya, pada saat shalat Jum'at, masjid dipenuhi jama'ah hingga pelataran sampai jauh ke luar. Ternyata, keadaan itu tidak ada bedanya dengan pada musim haji.

Sedemikian banyaknya jama'ah Jum'at di Masjidil Haram, menjadikan mereka yang terlambat, sekedar mencari tempat untuk bersujud saja, akan mengalami kesulitan. Oleh karena itu, bagi orang yang sudah terbiasa dan memahami keadaan itu, akan berusaha datang jauh sebelum shalat Jum'at dimulai, agar bisa memilih tempat. Maka ternyata, di masjid itu mencari tempat untuk shalat saja tidak mudah.

Mengalami kenyataan itu, saya menjadi terbayang alangkah indahnya manakala besarnya semangat ke masjid tidak saja di Masjidil Haram melainkan juga masjid-masjid di mana saja, termasuk di Indonesia. Sebenarnya, kaum muslimin di Indonesia sudah sedemikian gemar membangun masjid, tetapi hal yang masih perlu diakui adalah, ternyata mereka belum terlalu gemar mendatangi masjid. Buktinya, banyak masjid berukuran besar dan indah, tetapi jumlah jama'ahnya terbatas, sehingga masih belum maksimal penggunaannya.

Hal lain yang perlu dicacat dari Masjidil Haram ialah, bahwa aliran, dan bahkan juga madzhab yang berbeda-beda, bisa shalat berjama'ah bersama-sama. Tampak misalnya, pada waktu shalat, ada jama'ah yang bersedekap, tetapi ada juga yang tidak. Perbedaan itu tidak dianggap sebagai masalah. Semua sholat secara bersama-sama. Rupanya perbedaan kecil itu tidak dijadikan sebagai sebab perpecahan antar makmum atau umat.

Melihat kenyataan itu, saya membayangkan, umpama saja apa yang terjadi di Masjidil Haram tersebut juga dilakukan di masjid-masjid lain di mana saja, maka sekalipun umat Islam berbeda-beda aliran, golongan, dan madzhabnya, maka masih akan tetap bersatu. Perbedaan itu tidak akan bisa dihilangkan. Akan tetapi, seharusnya tidak boleh dijadikan alasan untuk berpecah belah. Umat Islam seharusnya selalu bersatu, apapun madzhab atau alirannya.

Dari mengikuti shalat jum'at tersebut, saya merenungkan bahwa, sebenarnya shalat dilakukan, di antaranya adalah, agar antar sesama muslim menjadi selalu bersatu, dan bukan justru sebaliknya, berpecah belah atau bercerai berai. Masjidil Haram, selain memiliki daya tarik atau kekuatan menghadirkan orang untuk menjalankan shalat bersama-sama------berjama'ah, ternyata juga sekaligus mampu mempersatukan umat Islam yang madzhab atau alirannya berbeda-beda itu. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up