Berkunjung Ke Perpustakaan Mar'asyi An-Najafy
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 26 September 2014 . in Dosen . 1008 views

Dalam kesempatan ke Qom, Iran, saya juga diajak untuk mengunjungi perpustakaan yang dirintis oleh seorang ulama bernama Ayatullah Mar'asy An-Najafy yang kemudian namanya sekaligus dijadikan nama perpustkaaan ini. Perpustakaan ini mengoleksi buku-buku, mulai dari terbitan paling kuno, yaitu ditulis dengan tangan sekitar 1000 tahun yang lalu hingga buku-buku yang dicetak secara modern. Koleksinya lebih dari 68 ribu judul buku.

Perpustakaan yang berada di tengah-tengah kota Qom ini, dirintis oleh seorang ulama yang amat mencintai buku. Kehidupan ekonomi ulama ini tergolong pas-pasan dan bahkan bisa disebut berkekurangan. Akan tetapi, oleh karena kecintaannya terhadap buku, beliau berusaha memperolehnya dengan cara apa saja, asalkan halal. Tatkala tidak punya cukup uang, padahal ada buku yang ingin dibeli, maka ia sanggup menjalankan shalat, puasa, atau bahkan membacakan al Qur'an untuk seseorang agar dibayar, dan kemudian uangnya dibelikan buku. Di kalangan pengikut Syi'ah, terdapat keyakinan, bahwa seseorang yang terpaksa meninggalkan shalat, puasa atau lainnya, boleh dijalankan oleh orang lain.

Atas jasa ulama pencinta buku ini, maka ribuan buku kuno maupun modern bisa dibaca di perpustakaan ini. Buku-buku dimaksud sekarang dirawat dengan baik dari gangguan apapun yang mungkin bisa merusaknya. Bahkan, perpustaan itu juga dilengkapi dengan dokter buku dan beberapa mantri sebagai pembantunya. Dokter buku itu persis seperti dokter manusia atau hewan. Dia mengenali berbagai penyakit buku dan kemudian menyembuhkannya dengan cara-cara modern.

Buku yang sakit akibat serangan penyakit, ------serangga misalnya, hingga mengakibatkan rusak, maka segera disembuhkan oleh dokter yang dibantu oleh para mantrinya. Anehnya, dokter dan juga mantri yang sedang berpraktek juga mengenakan pakaian sebagaimana dokter dan mantri pada umumnya. Di bagian gedung perpustakaan tersebut, disediakan beberapa ruang praktek, dan juga berbagai peralatan modern untuk merawat buku. Buku yang sakit, hingga misalnya sampai bolong-bolong, atas jasa dokter dan mantrinya itu bisa pulih kembali sebagaimana semula.

Kepala perpustakaan Mar'asyi An Najafy ini sangat menguasai buku-buku koleksinya. Dia juga mampu menjelaskan bagaimana para ilmuwan terdahulu menulis dengan ujung rambut dan juga menggunakan kuku. Buku yang ditulis oleh ulama dengan menggunakan ujung rambut dan kuku dimaksud juga dikoleksi di perpustakaan ini.

Hal menarik lainnya, kepala perpustalkaan ini juga bisa menjelaskan tentang perilaku buku pada umumnya. Dijelaskan bahwa sebenarnya, buku itu mirip dengan manusia. Manusia memiliki jiwa atau ruh, maka sebenarnya buku juga memilikinya. Manusia harus mengenakan baju, maka buku juga demikian, memerlukan disampul. Manusia punya nama, maka buku juga memiliki nama atau judul yang berbeda-beda. Manusia bisa memberi kebaikan dan sekaligus kekuatan merusak, maka buku juga bisa berbuat seperti itu.

Selanjutnya, manusia memiliki musuh dan sekaligus juga sahabat, maka buku juga memiliknya. Manusia memerlukan pengakuan dan kasih sayang, maka buku juga membutuhkan hal yang sama. Manusia memerlukan jasa yang bisa menyebuhkan dari segala penyakit yang dideritanya, sedangkan buku juga membutuhkan layanan itu. Maka, harus ada dokter yang menyembuhkan penyakit manusia dan demikian pula buku, membutuhkan orang yang mampu mengembalikan keadaannya, setelah diserang penyakit, hingga menjadi sembuh seperti semula.

Atas kecintaannya terhadap buku, Ayatullah Mar'asyi An Najafy ketika wafat tidak meninggalkan apa-apa kecuali buku yang dicintainya. Menurut penjelasan kepla perpustakaan ini, Ayatullah Mas'asyi bukan seorang bakhil, tetapi tidak pernah memberikan apa yang amat dicintainya, ialah buku, kepada orang lain. Menjelang wafatnya, ia berpesan agar kelak, tatkala dirinya meninggal, supaya dimakamkan di lingkungan perpustakaannya. Dengan cara itu agar kuburnya dinjak oleh kaki orang-orang yang datang memanfaatkan buku yang dikoleksi semasa hidupnya. Wasiat itu dipenuhi, sehingga siapapun yang datang ke perpustakan besar dan megah itu pasti melihat kuburnya dan mendoakannya.

Hal lain yang sangat mengesankan atas penjelasan kepala perpustakaan tersebut bahwa, perintis perpuastakaan ini, ------yakni Ayatullah Mar'asy An Najafy, ketika wafat tidak meninggalkan harta kekayaan, kecuali adalah perpustakaan yang membanggakan umat Islam. Kecintaannya pada ilmu pengetahuan, pada buku, dan pada umat, dinilai oleh banyak orang, termasuk para ulama besar dan terkemuka, oleh karena ia terlalu selektif dalam mengkonsumsi apapun. Pecinta buku dan ilmu pengetahuan ini tidak pernah mau makan apapun yang tidak jelas status kehalalannya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up