Bersilaturrakhiem Dengan Beberapa Ulama Di Qom
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 24 September 2014 . in Dosen . 951 views

Kunjungan saya ke Iran dari tanggal 21 hingga tanggal 29 September 2014, adalah untuk memenuhi undangan dari Lembaga Taqrib Bainal Madzahim al Islamy di Qum. Selain melakukan kegiatan dialog dan seminar, saya juga diajak berkunjung ke beberapa lembaga pendidikan, pusat kajian al Qur'an, perpustakaan, dan juga bersilaturrakhiem dengan beberapa ulama besar di kota Qom.

Dari kunjungan ke beberapa ulama tersebut, ada hal penting yang perlu saya catat. Pertama, saya melihat ulama di Iran seperti tidak punya lelah untuk menyampaikan ilmu pengetahuan, menulis, dan memberikan bimbingan kepada masyarakat yang membutuhkan. Ulama yang saya datangi, usianya sudah lebih dari 80 tahun, tetapi pikirannya masih jernih, dan juga masih relevan dengan kebutuhan masyarakat. Saya berkunjung ke kantor Ayatullah Faqih Misbah, umurnya sudah lebih dari 85 tahun, tetapi tampak masih segar dan bersemangat di dalam mengajar dan mengembangkan ilmunya.

Selain itu, saya juga bersilaturakhiem dengan Ayatullah As Shofi al Gholfaighany di kediamannya. Ulama Qom ini usianya sudah lebih dari 95 tahun, tetapi juga masih mengajar dan menerima tamu-tamu yang datang untuk menanyakan sesuatu yang dianggap penting. Sekalipun usianya sudah setua itu, bicaranya masih jelas, dan pandangannya masih sangat tajam. Dari pembicaraannya itu, menunjukkan bahwa, beliau masih mengikuti informasi yang berkembang di dunia Islam sehari-hari.

Mengetahui bahwa saya dan anggota rombongan lain berasal dari Indonesia, beliau menyebut nama Soekarno, yakni Presiden Pertama Republik Indonesia. Ulama Iran yang sudah berusia 95 tahun itu meminta agar ketika menyebut nama Presiden RI pertama harus secara lengkap, yaitu Ahmad Soekarno. Sebutan Ahmad di depan kata Soekarno menurutnya penting, oleh karena ia pernah melihat keteguhan Ir. Soekarno di dalam menjalankan ajaran agamanya. Pada suatu acara perjamuan yang ia saksikan sendiri, Soekarno disodori minuman keras. Ternyata, suguhan itu ditolak. Presiden Pertama RI ini memilih mengambil air putih. Peristiwa yang telah terjadi puluhan tahun itu, ternyata tidak pernah dilupakan oleh Ayatullah As Shofi al Gholfaighany.

Ulama lain yang saya kunjungi adalah Ayatullah al Uzma Nury Harmadany. Seorang yang berkedudukan sebagai marjak taqlid ini usianya sudah di atas 90 tahun. Adalah sama dengan ulama lainnya, wajah Ayatullah al Uzma Nury Harmadany masih tampak segar, dan fisiknya juga masih sehat. Ulama ini sehari-hari juga masih mengajar dan menerima berbagai tamu yang datang untuk memberikan penjelasan tentang hal yang terkait dengan agama. Dalam kesempatan menerima saya dan teman-teman serombongan, ulama ini menjelaskan tentang betapa pentingnya persatuan umat. Selain itu, beliau juga mengingatkan agar umat Islam membangun kekuatan di berbagai bidang, baik di bidang politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, sosial, dan lain-lain.

Secara lebih tegas lagi, Ayatullah Al Uzma Nury Harmadany juga memperingatkan secara tegas bahwa umat Islam harus bersatu. Dikatakan, tatkala umat Islam tidak bersatu, maka jangan berharap akan kuat dan diperhitungkan oleh umat lain. Selama ini umat Islam di mana-mana dianggap tidak kuat oleh karena tidak mampu bersatu. Sebagai akibat bercerai berai, maka tidak akan mampu mengembangkan ekonomi, pendidikan, ilmu pengetahuan, sosial, dan lain-lain. Disebutkan bahwa, sebab utama dari kelemahan umat Islam selama ini adalah oleh karena gagal di dalam membangun persatuan.

Catatan penting lainnya, saya melihat bahwa hubungan antar para ulama terpelihara dengan baik. Di antara mereka saling menghormati dan memuliakan. Demikian pula, hubungan antara pelajar atau mahasiswa dengan ulama menyerupai anak dengan orang tuanya sendiri. Para pelajar dan mahasiswa sangat hormat kepada guru dan ulama, apalagi ulama yang telah menyandang posisi sebagai marjak, Tampak benar bahwa, oleh masyarakat Qom, para ulama dianggap sebagai kekayaan yang harus selalu dihormati dan dimuliakan.

Ulama di Iran sehari-hari hanya berbicara tentang ilmu dan umat. Keberadaannya dijadikan sebagai anutan, reference person, dan selalu didengarkan fatwa-fatwanya. Ulama semacam itu tidak banyak berbicara soal kekayaan, politik, dan lain-lain. Ulama hanya fokus pada tugas pembinaan umat. Atas perannya itu, ulama menjadi sangat disegani oleh asyarakat oleh karena kualitas perilaku dan ilmunya. Ulama yang keluar dari harapan ideal itu, biasanya akan ditinggalkan oleh umatnya. Oleh karena itu, ulama juga tidak akan sembarangan di dalam menampakkan diri, apalagi di dalam memainkan peran-peran strategisnya. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up