Demokrasi Masyarakat Semut
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 30 September 2014 . in Dosen . 1735 views

Sejak lama saya suka memperhatikan kehidupan semut. Bagi orang lain, mungkin saja semut dianggap mengganggu. Meja makan yang seharusnya bersih, oleh karena banyak semut, menjadi tampak kotor. Makanan yang seharusnya bersih dari apapun, ternyata dikerumuni oleh semut. Semut juga makan buah-buahan, gula, dan lain-lain, bahkan tidak jarang juga menggigit. Itulah sebabnya, orang tidak menyukai kehadiran semut.

Eringkali saya juga merasa terganggu oleh perilaku semut. Akan tetapi, saya tidak selalu membenci binatang yang dalam kisahnya pernah diuji dan lulus oleh Nabi Sulaiman. Bahkan, sebelum meninggalkan rumah, manakala masih ada waktu, menyempatkan untuk mengambil sedikit gula, kemudian saya sebarkan di belakang rumah agar dimakan semut. Melihat banyak semut datang mengambil butir-butir gula itu, saya merasa senang. Saya membayangkan, semut-semut itu mendapatkan gula sedikit saja sudah bergembira, bahkan mungkin juga bersyukur, berdo'a, bertasbih, dan memuji Tuhan atas karunia yang diterimanya itu.

Suatu saat saya mendapatkan pelajaran berharga dari mengamati semut. Entah dari mana awalnya, ada bangkai belalang yang kebetulan sudah dikerumuni oleh banyak semut. Kejadian itu sebenarnya tidaklah istimewa. Di mana-mana, ada saja sekelompok semut mengerumuni bangkai. Peristiwa seperti itu adalah hal biasa. Karena itu, kiranya tidak ada orang yang tertarik. Seperti tidak ada pekerjaan saja, untuk apa ngurusi semut segala.

Oleh karena menyukai kehidupan semut, saya tertarik untuk memperhatikan semut-semut yang menarik-narik bangkai belalang dimaksud. Tampak jelas bahwa, pekerjaan semut tidak terkoordinasi. Semua menggigit dan menari-narik tanpa arah dan tujuan yang jelas. Bagi masing-masing semut, yang terpenting adalah menggigit dan menarik ke arah yang tidak jelas itu. Sebagian semut menarik ke depan, sebagian lagi ke belakang, ke samping, dan ada yang ke arah lainnya. Bahkan juga ada di antara semut yang mengambil posisi di bangian atas bangkai belalang yang sedang ditarik-tarik itu.

Sekalipun semua semut menarik ke arah yang tidak jelas, bangkai belalang itupun juga kadang bergerak dan berpindah. Akan tetapi, kepindahannya itu tidak terarah, tergantung dari kekuatan semut yang kebetulan menarik ke arah yang sama oleh karena jumlah di bagian itu lebih banyak. Namun sebaliknya, jika kekuatan semut itu berpindah arah lagi, maka bangkai belalang akan kembali pada posisi semula. Ternyata kerja bersama-sama yang dilakukan semut tidak terarah, tidak fukus, tidak terkoordinasi, dan bahkan juga tidak karu-karuan. Itulah masyarakat semut, di mana-mana memang begitu keadaannya.

Di tengah-tengah memperhatikan semut yang sedang menggotong bangkai belalang secara bersama-sama itu, saya teringat kehidupan demokrasi di negeri ini. Semua pihak berniat akan membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik, lebih sejahtera, lebih makmur, lebih adil, dan lebih damai. Niat baik yang dimaksudkan itu, tentu menurut pikiran, persepsi, ukuran, dan pandangan mereka masing-masing. Sudah barang tentu, keadaan itu tidak selalu tetap, atau dalam bahasa lain, bisa saja berubah-ubah, tergantung pada siatuasi, kondisi, kepentingan, tantangan, dan kebutuhan mereka yang berbeda-beda.

Pada suatu saat misalnya, atas dalih kepentingan demokrasi, maka partai politik dianggap tidak perlu banyak dan kuat, namun sebaliknya pada saat yang lain, partai politik dianggap penting dan bebas berkembang. Pada suatu saat, kepala daerah harus dipilih langsung oleh rakyat, tetapi pada waktu lainnya harus kembali dipilih oleh anggota DPRD. Demikian pula, pada suatu saat, Pancasila selalu disuarakan, tetapi pada saat kemudian, falsafah kehiduan bangsa dan negara tersebut hampir-hampir dilupakan, atau setidaknya tidak banyak disebut dan atau dibicarakan. Tentu masih banyak lagi berbagai contoh lainnya yang menyerupai perilaku semut tersebut.

Berbagai gerak, dinamika, atau perubahan orientasi masyarakat, -----bisa jadi, bukan berdasar pada kekuatan pikiran atau rasionalitas, melainkan lebih banyak didasarkan pada kekuatan fisik atau jumlah pendukung. Hal itu persis cara kerja sekelompok semut. Oleh karena itu, manakala gambaran kehidupan ini benar-benar sama dengan kehidupan semut, sebagaimana digambarkan di muka, maka bangsa ini tidak akan pernah mengalami kemajuan. Tahunnya berubah, zamannya berganti, dan bahkan sejarahnya sudah lewat, tetapi oleh karena demokrasi yang diikuti adalah demokrasi masyarakat semut, maka sangat mungkin bangsa ini tidak pernah akan maju. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up