Kecakapan Berbicara
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 5 September 2014 . in Dosen . 2538 views

Oleh sementara orang dikatakan bahwa berbicara itu gampang. Semua orang bisa. Akan tetapi juga sebaliknya, ada pendapat yang mengatakan bahwa, berbicara itu tidak mudah, apalagi berbicara di muka umum. Tidak semua orang mampu atau cakap berbicara dengan lancar dan jelas. Banyak orang dengan berbagai alasan tidak bersedia tatkala diminta untuk memberi sambutan dan apalagi ceramah.

Kedua pendapat tersebut kiranya sama-sama benar. Bagi orang yang sudah terbiasa, berbicara di muka umum itu mudah. Tanpa persiapan pun jadi. Tatkala disebut namanya untuk memberi sambutan, maka langsung menuju podium dan berbicara dengan lancar. Hal itu bisa dilakukan oleh karena memang yang bersangkutan sudah terbiasa berpidato atau berceramah.

Akan tetapi sebaliknya, bagi orang yang belum terbiasa, sekedar ditawari untuk memberi sambutan sudah merasa cemas, gemetaran, dan takut manakala tugas itu benar-benar harus dilakukan. Mungkin pengetahuannya banyak, tetapi oleh karena tidak terbiasa, maka sekedar memulai bicara saja merasa kesulitan. Bila dipaksakan, bicaranya akan tidak jelas hingga sulit dipahami maksudnya.

Betapa tidak mudahnya berbicara bagi orang-orang tertentu, maka bisa dilihat dari misalnya dalam kegiatan seminar, diskusi, atau yang serupa lainnya. Orang yang tidak terbiasa atau kurang mampu berbicara di muka umum, tetapi harus melakukannya, maka terpaksa membaca teks. Selain itu, juga tampak dari terbatasnya orang yang bertanya atau mengajukan pandangan di dalam seminar, diskusi, atau sejenisnya.

Beberapa hari yang lalu, saya diminta untuk berceramah di hadapan mahasiswa. Setelah diberi kesempatan tanya jawab, ternyata tidak banyak yang angkat tangan untuk menanyakan sesuatu atau berkomentar. Beberapa orang yang mendapatkan kesempatan untuk berbicara ternyata bicaranya juga tidak lancar. Kenyataan seperti itu tidak sekali atau dua kali saya temui. Rupanya, sudah terbiasa peserta seminar tidak mengajukan pertanyaan dan memberi pandangan.

Terbatasnya partisipasi dalam kegiatan tersebut juga sering terjadi di ruang-ruang kuliah. Hal itu tidak saja terjadi di perkuliahan S1, tetapi juga di S2 dan bahkan juga di S3. Maka sebenarnya, berbicara itu dirasakan oleh banyak orang ternyata tidak mudah. Tidak semua orang memiliki kesanggupan. Akan tetapi menurut hemat saya, hal itu terjadi hanyalah semata-mata oleh karena tidak terbiasa saja. Awalnya mungkin hanya takut atau khawatir salah, tetapi kemudian tidak ada langkah-langkah menghilangkan perasaan yang tidak perlu dipelihara itu. Akhirnya, mereka menjadi terbiasa tidak berbicara.

Untuk melatih agar para santri memiliki kecakapan berbicara, di pesantren, terbiasa diselenggarakan kegiatan yang disebut dengan muhadharah atau latihan berpidato, dan bahkan juga berdebat. Pada saat tertentu, yang biasanya terjadwal, para santri ditugasi untuk berpidato secara bergantian di hadapan teman-temannya. Bahkan, kegiatan muhadharah dan atau debat itu juga dilombakan. Kepintaran santri biasanya dilihat dari kegiatan tersebut, dan bukan sekedar dari kemampuannya menjawab soal-soal ujian berbentuk pilihan ganda.

Pembelajaran di perguruan tinggi biasanya juga dilakukan dengan cara berdiskusi atau memperesentasikan makalah. Akan tetapi kegiatan itu biasanya tidak dilakukan secara leluasa atau bebas. Akibatnya, tidak selalu berhasil menumbuhkan kemampuan untuk mengekspresikan pikiran secara leluasa. Akibat lainnya, kegiatan yang selalu dibatasi itu juga menjadikan para lulusannya tidak selalu cakap dan berani dalam berbicara di muka umum.

Oleh karena itu, agar kecakapan berbicara itu tumbuh, maka sejak di sekolah dasar perlu dilakukan pelatihan atau pembiasaan. Kemampuan mengekspresikan pendapat, pikiran, pandangan, dan sejenisnya, baik tertulis maupun lisan, perlu dilatih sejak dini. Untuk mengetahui kemampuan siswa yang hanya lewat ujian tulis dan apalagi sekedar menggunakan soal-soal berupa pilihan ganda, tidak akan mencukupi. Selain itu, juga tidak akan mendorong para siswa berlatih berbicara, padahal kecakapan itu sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi muhadaharah dan atau berdebat yang terbiasa dilakukan di pesantren, kiranya perlu diadopsi di lembaga pendidikan lainnya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up