Kesenjangan Mengindikasikan Lemahnya Jiwa Nasionalisme
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 11 September 2014 . in Dosen . 3764 views

Akhir-akhir ini mulai banyak orang berbicara nasionalisme. Saya mengartikan nasionalisme dalam pengertian sederhana saja, yaitu perasaan adanya kebersamaan di antara sesama bangsa Indonesia. Kita merasa satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air. Sekalipun berbeda-beda dari berbagai aspeknya, mulai dari sukunya, bahasa daerahnya, adat istiadatnya, makanan pokoknya, warna kulit dan bentuk rambutnya, dan mungkin masih ada lagi perbedaan itu lainnya, tetapi tetap merasa satu, ialah sebagai bangsa Indonesia.

Rasa nasionalisme tidak saja diucapkan tetapi juga seharusnya diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai sesama bangsa yang menempati wilayah yang menjadi milik bersama, maka perasaannya akan terganggu manakala ada yang kelihatan menderita, menanggung berbagai beban, apalagi terbelakang. Sebagai penyandang jiwa nasionalisme, akan berusaha sekuat tenaga ikut meraih cita-cita bangsanya. Ukuran keberhasilan dirinya adalah tatkala keberhasilan itu juga dirasakan untuk seluruh bangsanya. Sebaliknya, merasa gagal atau sakit manakala sesama bangsanya sendiri diejek, direndahkan, dihina, diperlakukan semena-mena oleh bangsa lain.

Seorang pemimpin disebut memiliki nasionalisme tinggi dan kokoh manakala mampu berpikir dan berbuat bukan hanya untuk kepentingan suku atau daerahnya, golongannya, organisasinya, partainya, dan lain-lain, melainkan untuk seluruh bangsanya. Penderitaan yang dialami oleh sesama bangsanya sendiri dirasakan juga sebagai bagian dari penderitaannya. Semua saja yang diketahui masih menjadi warga negara Indonesia akan selalu dibela, dilindungi, diperjuangkan, dan tatkala sukses juga akan dibanggakan.

Para pendiri bangsa adalah contoh pemilik nasionalisme yang sesungguhnya. Mereka berjuang dan sekaligus berkorban bukan untuk kepentingan dirinya sendiri, golongannya, partainya, tetapi untuk semua rakyat Indonesia. Mendengarkan berbagai pidato Presiden Soekarno akan mendapatkan pelajaran tentang nasionalisme itu. Beliau selalu menggelorakan persatuan di antara sesama warga negara Indonesia. Presiden Republik Indonesia pertama ini mengajak bersatu bagi seluruh rakyat, bersama-sama berjuang untuk meraih kesejahteraan, membela harkat dan martabat atau harga diri, tidak boleh terjadi diskriminasi atau sebagian merasa lebih unggul, lebih penting, lebih utama dari yang lain, dan seterusnya.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah jiwa nasionalisme bagi penduduk negeri ini sudah merasuk pada sebagian besar rakyat dan para elitenya. Pertanyaan itu sebenarnya tidak sulit dijawab dan diuji. Beberapa jawaban dari pertanyaan berikut adalah bahan untuk menguji dan menjawabnya. Yaitu misalnya, apakah kita sudah lebih mementingkan bangsa sendiri dibanding kepentingan bangsa lain, baik dalam politik, hukum, ekonomi dan lain-lain. Selain itu, apakah ego pribadi, kelompok, golongan, dan seterusnya sudah berhasil dikalahkan oleh kepentingan bangsa secara keseluruhan. Manakala kepentingan bangsa belum dimenangkan dari lainnya, maka artinya nasionalisme kita masih tipis, rendah, atau belum tumbuh.

Tatkala jiwa seseorang belum tersentuh tatkala melihat bangsanya sendiri masih melarat, menganggur, sulit mendapatkan akses dalam berbagai lapangan kehidupannya, menderita, dan lain-lain, sementara dirinya bergelimang dengan kekayaan yang tidak terhitung jumlahnya, menggunakan fasilitas hidup berlebih-lebihan, dan bahkan keadaan seperti itu olehnya dibanggakan, maka sebenarnya yang bersangkutan baru merasa memiliki jiwa nasionalisme, tetapi tidak memiliki bukti apa-apa. Orang seperti itu, jiwa nasionalismenya kosong. Jiwa kerdilnya hanya untuk membanggakan dirinya sendiri, golongannya, kelompoknya, tetapi sebaliknya belum memiliki jiwa besar untuk berbuat sesuatu yang dirasakan membanggakan bangsanya.

Nasionalisme disebut kokoh manakala tidak ada lagi kesenjangan di tengah masyarakat yang terlalu lebar. Mereka yang terlalu berlebihan dalam berbagai halnya akan merasa malu melihat bangsanya sendiri menderita, harkat dan martabatnya belum berhasil terangkat, masih berkubang pada penderitaan, dan seterusnya. Sebutan sebagai pemilik jiwa nasionalisme tinggi, adalah sebagaimana dijalani oleh Bung Karno. Sehari-hari, beliau menyuarakan agar membela rakyat, berjuang untuk rakyat, mempersatukan rakyat, dan mengangkat harkat dan martabat semua rakyatnya. Itulah jiwa nasionalisme yang tinggi. Beliau sanggup berjuang, berkorban, dan bahkan menderita demi rakyatnya.

Bertolak belakang dari gambaran tersebut, sekarang ini banyak orang justru memperkaya diri, mencari untung dari rakyat, tidak merasa salah tatkala langkahnya merugikan dan mensengsarakan rakyat, dan lebih celaka lagi ternyata usahanya selalu menguntungkan orang asing. Jiwa nasionalisme itu tampak dari diri orang yang perilaku dan perbuatannya,------ baik secara dhahir maupun batin, bermuara untuk kepentingan bangsanya secara keseluruhan. Mereka baru merasa bangga ketika merasakan bangsanya sendiri unggul, dan sebaliknya merasa sedih dan terhina tatkala direndahkan oleh bangsa lain. Itulah makna nasionalisme secara sederhana. Oleh karena itu, manakala jiwa nasionalisme itu disebut sudah kokoh, maka kesenjangan tidak akan tampak lagi dan atau sebaliknya, adanya kesenjangan adalah sebagai pertanda, bahwa jiwa nasionalisme bangsa ini masih perlu ditumbuhkan. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up