Beberapa hari yang lalu, saya diundang ke sebuah pesantren untuk membicaraan tentang upaya-upaya membangkitkan ekonomi di kalangan pesantren dan masyarakat sekitarnya. Beberapa pimpinan pondok pesantren diundang, terutama mereka yang selama ini sudah memiliki kepedulian di dalam mengembangkan ekonomi di pesantrennya.
Memang selama ini tidak sedikit pesantren yang telah berhasil mengembangkan sektor ekonomi. Sekedar menyebut beberapa contoh, di pesantren Sidogiri, sebagai pesantren salaf, namun telah dikenal berhasil mengembangkan kooperasi dan juga BMT. Pesantren Putukrejo, Gondanglegi, dahulu pernah berhasil mengembangkan ekonomi lewat pengelolaan zakat, Pesantren Riyadul Jannah, Pacet, Mojokerto mengembangkan berbagai usaha restoran, pertanian, perikanan, dan lain-lain.
Tatkala banyak kampus berbicara tentang betapa pentingnya pendidikan entrepreneur atau kewirausahaan, pesantren juga sudah lama mengembangkan hal itu. Begitu pula tatkala perguruan tinggi berbicara tentang biaya pendidikan anak-anak orang miskin, pesantren sudah lama melaksanakan itu. Bahkan saya cukup kaget, di antara pimpinan pesantren yang hadir dalam pertemuan itu, mengasuh lebih dari sepuluh ribu santri, semuanya digratiskan, dan lebih dari itu, mereka juga dicukupi makan dan pakaiannya serta boleh keluar, meninggalkan pesantren, setelah mereka lulus dan dinikahkan.
Di dalam diskusi itu, para pimpinan pesantren merasa prihatin terhadap kehidupan bangsa ini. Negeri ini sudah merdeka selama tujuh puluh tahun, tetapi sehari-hari yang dibicarakan hanya korupsi, penyimpangan para pejabat, kemiskinan, mengimport kebutuhan sehari-hari yang sebenarnya bisa dicukupi sendiri, berbagai tambang dan perusahaan yang kebanyakan dikuasai oleh asing, rakyat harus pergi keluar negeri hanya sekedar mencari sesuap nasi dengan menjadi buruh kasar, pendidikan yang hanya menghasilkan banyak pengangguran, dan lain-lain.
Gambaran tentang keadaan tersebut menjadikan para pengasuh pesantren merasa ikut prihatin terhadap bangsa dan negara ini. Manakala keadaan itu tidak dipikirkan dan dicarikan jalan keluarnya, maka bangsa ini akan benar-benar menjadi babu di negerinya sendiri. Bangsa ini akan disebut memiliki berbagai kekayaan sumber daya alam, tanah yang subur, lautan yang luas, tetapi rakyatnya tetap miskin. Keadaan itu dirasakan sangat ironis. Dahulu bangsa ini miskin oleh karena dijajah, tetapi kemudian tetap miskin oleh karena kekayaannya dikorup, dan juga dibawa pergi oleh bangsa asing.
Membaca kenyataan seperti itu, pimpinan pondok pesantren mengajak untuk bangkit, tidak boleh tinggal diam, termasuk di antaranya adalah untuk menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitar pesantren. Disebut-sebut di dalam diskusi itu, dahulu tatkala bangsa ini berperang mengusir penjajah, pesantren berada di tengah-tengah gerakan itu. Para kyai memimpin santrinya ikut bergerilya menghadapi tentara penjajah. Demikian juga, tidak sedikit pimpinan pesantren ikut di dalam merumuskan konstitusi bangsa dan negara ini. Sekedar menyebut beberapa di antaranya misalnya KH Hasyim Asy'ari, KH. Agus Salim, KH. Wahab Hasbullah, dan banyak lagi nama lainnya.
Di dalam berdiskusi itu, para pimpinan pesantren memiliki kepercayaan diri yang kuat di dalam mengembangkan ekonomi umat. Diakui bahwa kelemahan yang dialami selama ini, para kyai atau pesantren masih bergerak sendiri-sendiri. Sebenarnya selama ini sudah ada beberapa pesantren yang serius mengembangkan ekonomi rakyat dan ternyata berhasil. Ada kyai pesantren yang berhasil memiliki berbagai usaha seperti restroran, pertanian, perdagangan, perkebunan. Pimpinan pesantren dimaksud mengaku bahwa, pada setiap bulan harus membayar pajaknya saja dari usahanya itu tidak kurang dari Rp. 350 juta.
Para santri di pesantren yang telah mengembangkan ekonomi itu, sehari-hari selain diajari ilmu keagamaan juga dilatih bekerja di usaha-usahanya itu. Mereka tidak diperlakukan sebagai buruh, tetapi diposisikan sebagai orang yang belajar bekerja namun juga digaji. Hasil kerja mereka pada setiap hari itu diharapkan agar kelak dijadikan modal setelah keluar dari pesantren. Oleh karena itu, pesantren semacam ini tidak saja memberikan pengetahuan tentang pengembangan usaha ekonomi, tetapi juga sekaligus memberikan pengalaman dan penghayatan tentang entrepreneur atau kewirausahaan.
Akhirnya lewat diskusi itu, muncul kesepakatan untuk melakukan usaha-usaha bersama di dalam mengembangkan pesantren, tidak terkecuali di dalam pengembangan jiwa entrepreneurship di kalangan para santri lewat usaha-usaha nyata di bidang ekonomi. Mengikuti dan mendengarkan pembicaraan, termasuk target-target yang ingin diraih oleh para pimpinan pesantren, saya sendiri cukup optimis bisa berhasil. Pesantren tidak sama dengan birokrasi pemerintah, termasuk kampus-kampus perguruan tinggi negeri. Mereka itu lebih memiliki kebebasan, keterbukaan, dan keberanian dalam mengambil langkah-langkah cepat dan nyata. Pimpinan pesantren tanpa harus nyewa hotel dan anggaran yang besar bisa bertemu, berdiskusi, dan segera memulai aktifitasnya. Wallahu a'lam.



