Mengais Rizki Dengan Modal Kejujuran
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Senin, 22 September 2014 . in Dosen . 1082 views

Dalam perjalanan ke Iran, saya harus nginap di Jakarta terlebih dahulu, karena pesawat ke Dubai yang berlanjut ke Teheran berangkat dari Jakarta jam 07.00 pagi. Untuk menghemat waktu, saya berangkat dari Surabaya dengan pesawat jam 22.30 malam, sehingga nyampai Jakarta jam 24.00 atau jam 12 malam. Semula, dari pada saya nginap ke hotel, saya berniat istirahat saja di Bandara. Pertimbangan saya, hanya nunggu sekitar 3 sampai 4 jam saja, maka tidak mengapa duduk di ruang tunggu.

Pada saat menunggu itu, ada seorang anak laki-laki mendekat dan menawari kamar hotel yang tidak terlalu jauh dari bandara Soekarno Hatta. Dikatakan olehnya bahwa, hotel itu bersih, kamarnya lebar, dan juga sewanya tidak terlalu mahal. Atas tawaran itu, saya menjawab bahwa jam 04.00, saya harus check in. Maka, lebih baik saya tinggal di sini saja. Anak muda itu kemudian menerangkan, manakala saya nginap di hotel seperti yang ditawarkannya itu, dia akan memperoleh uang jasa sebesar Rp. 50.000,- (lima puluh ribu rupiah).

Mendengar penjelasan itu, saya menjadi tertarik untuk menanyakan tentang pekerjaan anak muda itu lebih lanjut. Dia mengaku bahwa sudah lama bekerja di bandara. Pekerjaannya menjadi pemasaran hotel sudah lebih dari lima tahun. Setiap mendapatkan seorang konsumen, dia memperoleh uang jasa sebesar Rp. 50.000,-. Atas jawaban itu, saya memberikan komentar, bukankah jika sehari memperoleh 10 orang, maka akan mendapatkan penghasilan Rp. 5.00.000,-. Dia menjelaskan bahwa, sehari mendapatkan dua atau tiga orang konsumen saja, sudah merasa beruntung. Kadang, sehari tidak mendapatkan sama sekali.

Atas penjelasan yang tampak jujur itu, saya mencoba bertanya, mengapa tidak mengambil untung lebih banyak, misalnya dengan menaikkan harga kamar hotel. Pertanyaan saya itu dijawab dengan lugas bahwa, bekerja hanya dengan cara menjual jasa seperti itu harus dilakukan secara jujur. Ketahuan bahwa dirinya tidak jujur, maka tidak ada lagi orang yang akan mempercayainya. Dia mengaku bahwa pekerjaannya itu adalah merupakan satu-satunya pilihannya. Manakala berbohong dan tidak dipercaya lagi, dia takut akan kehilangan segala-galanya, termasuk pekerjaannya itu.

Anak muda tersebut menyadari bahwa, manakala dia sudah tidak dipercaya lagi oleh orang, maka akan kesulitan mendapatkan peluang kerja. Ijazahnya hanya sekedar SMP, dan lagi pula tidak memiliki ketrampilan, maka tidak akan ada orang yang membutuhkan tenaganya. Oleh karena itu, dia akan menjaga kepercayaannya itu sebaik-baiknya dan sejujur-jujurnya. Menurut pengakuannya, bahwa yang terpenting, dia sehari-hari sudah berhasil memberi nafkah isteri dan kedua anaknya.

Atas penuturannya yang lugu itu, saya mengikuti saran anak muda itu. Saya minta diantar ke penginapan yang dimaksud. Dan ternyata betul, kamar dan fasilitas yang digambarkan memang sesuai dengan apa yang diceritakan. Kamarnya bersih, luas, dan memang harganya cukup murah. Keesokan harinya, setelah kembali ke Bandara, saya mendapatkan informasi tentang anak muda tersebut, bahwa dia selama ini memang dikenal sebagai anak yang jujur, sehingga banyak orang yang menggunakan jasanya.

Mendengar informasi itu, saya teringat kalimat yang sering saya dengar bahwa : 'orang jujur akan hancur'. Kalimat dimaksud ternyata tidak selalu benar. Bagi anak muda yang sehari-hari bekerja di terminal bandara Soekarno Hatta tersebut justru bersemboyan sebaliknya, yaitu bahwa justru dengan jujur maka setidaknya dia akan mampu bertahan atas pekerjaannya itu. Dengan demikian, semboyan yang tepat adalah bahwa, siapa saja yang jujur maka akan menjadi selamat dan makmur. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up