Pada hari Sabtu, tanggal 20 Septemeber 2014, sekitar 200 kyai, habaib, dan cendekiawan berkumpul di pondok pesantren Riyadul Jannah, Pacet, Mojokerto. Pertemuan ini sebagai tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya yang hanya bersifat terbatas. Hadir dalam kesempatan itu, Kyai Shalahuddin Wahid, Letnan Jendral Purnawirawan TNI Azwar Anas, Habib Shaleh al Jufri dari Solo, beberapa rektor perguruan tinggi, dan para kyai yang berasal dari beberapa daerah, mulai Sumatera, Jwa Barat, kalimantan, Sulawesi, NTB, hingga Papua. .
Pertemuan itu sendiri membicarakan tentang berbagai hal baik terkait ekonomi, pendidikan, sosial, dan lain-lain. Diharapkan dari pertemuan itu menghasilkan pikiran yang bermanfaat untuk bangsa dan negara. Pesantren ingin memberikan solusi terbaik terhadap berbagai problem yang selalu muncul di tengah masyarakat. Itulah sebabnya, pertemuan yang dilakukan hingga beberapa kali dan akhirnya membuahkan kesepakatan untuk membuat forum yang dinamai forum habaib, kyai, dan peduli bangsa.
Pada pertemuan dimaksud dikemas ala kyai, yaitu bebas, terbuka, dan luwes. Mata acara diatur sedemikian rupa, tetapi masih terbuka untuk diubah, yakni disesuaikan dengan kebutuhan kondisi saat itu. Para pengasuh pesantren memiliki tradisi selalu menghargai dan menghormati para seniornya, maka ketika terdapat kyai sepuh secara tidak terduga hadir, sekalipun semula tidak diprogram untuk berbicara, maka beliau diberi kekesempatan untuk menyampaikan pandangannya.
Banyak hal menarik yang muncul dalam pertemuan itu. Misalnya, terbangun kesadaran bahwa seharusnya pesantren tidak saja fokus pada pendidikan, tetapi seharusnya juga pada usaha mengembangkan ekonomi, sosial, dan lain-lain. Selama ini, sebagai akibat pesantren tidak terlalu peduli pada berbagai lapangan kehidupan tersebut, maka masyarakat mencari panduan dari berbagai sumber, yang kadang kala, tidak selalu sesuai dengan pandangan pesantren. Akibat negatif lainnya, memunculkan kesan bahwa seolah-olah, Islam hanya sebatas terkait kehidupan agama. Padahal, pesantren sendiri tidak berpandangan yang demikian itu.
Oleh karena itu, setelah mengurai berbagai problem kehidupan bangsa yang dirasakan selama ini, maka para habaib, kyai, dan didukung para cendekiawan memiliki pandangan yang sama, yaitu bahwa berbagai macam problem bangsa dimaksud sebenarnya bisa diselesaikan oleh Islam. Akan tetapi Islam yang dimaksudkan itu bukan sebatas terkait dengan konsep ritualnya, melainkan Islam dalam kontek luas, yaitu menyangkut ekonomi, ilmu pengetahuan, sosial, politik, dan lain-lain.
Selama ini tatkala berbicara tentang Islam maka konotasinya adalah ibadah dalam pengertian terbatas. Hal itu bukan berarti bahwa ritual tidak penting, adalah sangat penting dan harus dilaksanakan secara sungguh-sungguh, disiplin, dan istiqomah. Akan tetapi Islam tidak sebatas menyangkut kegiatan ritual. Berbicara Islam adalah juga berbicara ilmu pengetahuan, ekonomi, persatuan, keadilan, dan juga hal-hal lain yang luas.
Pertemuan para habaib, kyai, dan cendekiawan di Pondok Pesantren Riyadul Jannah dimaksud juga memberikan kesempatan kepada beberapa pesantren yang telah berhasil di dalam pengembangan ekonomi umat, misalnya Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan untuk menyampaikan pengalamannya dimaksud. Pesantren salaf ini telah berhasil mengembangkan koperasi. Dijelaskan oleh pimpinan pesantren yang membidangi BMT ini, bahwa hingga saat ini, koperasi pesantren dimaksud telah memiliki aset dan modal tidak kurang dari 12 triliyun. Kyai Mahmud Ali Zen, menjelaskan bahwa koperasi ini telah melibatkan lebih dari 1000 pegawai, dan mampu menggaji direkturnya hingga Rp. 50 juta setiap bulan.
Usaha ekonomi semacam ini juga telah dilakukan di beberapa pesantren lainnya, termasuk di Pondok Pesantren Riyadul Jannah, Pacet, Mojokerto. Kyai Mahfudz Shobary, pengasuh pesantren ini mengembangkan berbagai jenis usaha, di antaranya adalah puluhan restoran, usaha pertanian, perikanan, dan lain-lain, hingga dari usahanya itu pada setiap bulan harus membayar pajak tidak kurang dari Rp. 350 juta. Maka artinya, bahwa usaha di bidang ekonomi yang dilakukan oleh pesantren ternyata berhasil memberi kontribudi pada pemerintah yang tidak kecil. Dengan demikian, pesantren bukan saja merupakan pusat pendidikan agama, tetapi juga sekaligus berhasil mengembangkan ekonomi. Bahkan, pesantren akan mungkin menjadi pusat pendidikan entreprenership yang lebih nyata.
Sayang sekali, saya tidak bisa mengikuti kegiatan Forum Habaib, Kyai, dan Cendekiawan itu hingga akhir, oleh karena pada malam hari tanggal 20 September 2014 harus ke airport, dan selanjutnya berangkat ke Iran untuk menghadiri undangan kegiatan ilmiah yang diselenggarakan oleh para ulama atau para ilmuwan di negara Islam itu. Pada kesempatan itu, saya akan diminta menyampaikan pandangan saya tentang kemungkinan dan peluang kerjasama di antara berbagai negara Islam. Saya yakin bahwa pertemuan para habaib, kyai, dan cendekiawan di pesantren Riyadul Jannah dimaksud akan membawa banyak manfaat untuk umat dan bangsa. Wallahu a'lam.



