Salah satu mata acara kunjungan ke Iran, saya diminta untuk menyampaikan pokok-pokok pikiran dalam kegiatan seminar bersama para pimpinan dan dosen Universitas al Adyan dan Madzahib Islamy erbudi Kota Qom. Ada beberapa pembicara yang tampil di dalam kegiatan seminar itu, sedangkan saya diminta menyampaikan pandangan tentang peluang kerjasam akademik antara Indonesia dan Iran.
Dalam kesempatan itu, di antaranya saya menyampakan bahwa, kata kerjasama selama ini dipandang menjadi sedemikian indah. Orang percaya bahwa dengan saling bekerjasama maka semua pihak akan semakin maju, kokoh, dan menghasilkan sesuatu yang lebih besar. Selain itu juga diyakini bahwa Tuhan akan menurunkan kasih sayang dan berkah-Nya kepada siapa saja yang saling menjalin kasih sayang dan saling bekerjasama dalam kebaikan dan kemuliaan.
Perintah kerjasama itu sebenarnya juga datang dari al- Qur'an, yaitu berbunyi sebagai berikut : ta'awanuu alal birri wat taqwa wala ta'awanu alal itsmi wal udwan. Atas dasar perintah al Qur'an itu, maka sebenarnya, manakala antara bangsa Idonesia dan Iran, dengan dipelopori oleh ulama' dan cendekiawannya saling bekerjasama dalam berbagai bidang, misalnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan, saling tukar informasi, dan lain-lain, maka dampaknya akan luar biasa besarnya.
Akan tetapi pada kenyataannya, gagasan mulia itu belum banyak dilakukan. Atau, ketika dilakukan hanya bersifat simbolik, sebatas seolah-olah, atau semacam pemanis belaka, dan belum menjadi kegiatan yang sungguh-sungguh atau bahkan belum menjadi kegiatan yang memiliki dasar teologis yang kuat. Hal itu, menurut hemat saya, akar kerjasama itu belum terbangun secara kuat dan utuh.
Tali ikatan kerjasama akan menjadi kuat setelah lewat proses, berupa kegiatan fisik maupun mental yang panjang, yaitu dimulai dari kegiatan ta'aruf hingga melahirkan apa yang disebut dengan tafahhum. Banyak orang tidak banyak melakukan ta'aruf sehingga akibatnya adalah salimng salah paham. Ada contoh yang amat membahayakan sebagai akibat tiadanya ta'aruf itu. Misalnya, terdapat informasi yang berkembang. bahwa kaum sunny terlalu membenci kaum syi'ah dan bahkan tega membunuhnya. Sebaliknya, juga ada anggapan tanpa berdasar yang mengatakan bahwa siapa saja yang membunuh orang sunny dalam jumpah tertentu, maka akan masuk surga tanpa dihisab. Padahal berita yang sangat membahayakan itu tidak pernah ada dasar dan kenyataannya.
Selanjutnya tafahum atau saling memahami di antara sesama yang selalu dipelihara akan membuahkan apa yang disebut dengan tadhammun atau saling menghargai. Demikian pula, tadhammun akan melahirkan tarakhum atau saling kasih sayang. Akhirnya, saling mengasihi sebagai buah tandammun itulah yang kemudian akan membuahkan kesediaan untuk bekerjasama atau ta'awun yang mantap tentang kebaikan sehingga membuahkan sesuatu yang menguntungkan dan bahkan akan memperoleh berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa sebagaimana dimaksudkan di muka.
Ta'aruf sebagai pondasi terjadinya ta'awun di zaman kemajuan teknologi seperti sekarang ini tidak sulit dilakukan. Buah pikiran para ulama, cendekiawan, atau peneliti yang sudah tertuang dalam bentuk tulisan atau buku, maka tidak sulit dibagi atau dilakukan tukar menukar. Dengan begitu maka pandangan, pikiran atau temuan dengan mudah, murah, dan cepat bisa disampaikan lewat e mail, website, scrib atau media sosial lainnya.
Sebagai contoh, sudah selama hampir genap tujuh tahun, saya menulis artikel yang jumlahnya tidak kurang dari 2250 judul berisi pandangan tentang agama, ekonomi, sosial, politik, pendidikan, dan lain-lain. Tulisan-tulisan itu kemudian saya posting lewat website, facebook, dan media sosial lainnya hingga bisa dibaca oleh siapapun, tidak terkecuali oleh para ulama, cendekiawan di mana saja, termasuk di Iran. Pada zaman modern seperti sekarang ini, kita dengan mudah bisa berta'aruf lewat tulisan yang bermanfaat.
Selain itu, kerjasama juga bisa dilakukan antar lembaga pendidikan, perguruan tinggi atau lembaga penelitian. Di Indonesia terdapat puluhan ribu pondok pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi Islam. Jumlah perguruan tinggi Islam saja lebih dari 600 buah. Dari sejumlah tersebut, 54 di antaranya diselenggarakan oleh pemerintah. Antar lembaga pendidikan atau perguruan tinggi Islam tersebut sangat dimungkinkan melakukan berbagai macam kerjasama akademik untuk bersama-sama meningkatkan kualitasnya. Atau setidaknya, lewat media yang tersedia bisa saling berbagi informasi yang bermanfaat.
Adanya kerjasama secara intensif seperti itu, maka akan mengurangi kesalah-pahaman, perbedaan penilaian, atau kecurigaan yang tidak perlu terjadi. Selama ini, oleh karena berbeda madzhab atau aliran saja menimbulkan saling menyalahkan dan menganggap bahwa pandangannya sendiri yang paling benar, sedangkan yang lain salah. Padahal sementara itu, para tokohnya sendiri saja tidak mengangap sebagai suatu masalah. Antara Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi'i, dan lain-lain tidak setegang para pengikutnya. Hal itu disebabkan, mereka mengetahui letak berbedaan dan alasan mengapa harus berbeda. Sementara itu, pengikutnya belum tentu mengetahui hakekat perbedaan itu, dan tatkala berbeda dirasakan sebagai musuh, padahal tidak demikianlah seharusnya. Wallahu a'lam.



