Jangan dikira shalat khusu' itu gampang. Sekalipun sudah berusaha, ternyata belum tentu segera berhasil. Pada waktu shalat, seseorang masih ingat macam-macam, baik tentang pekerjaannya yang belum selesai, uangnya, jabatannya, mobilnya, hutang yang belum dibayar, dan masih banyak lagi lainnya. Kiranya tidak ada orang yang tidak menginginkan shalatnya khusu', tetapi ternyata tidak mudah mencapainya.
Itulah sebabnya, ada kursus shalat khusu'. Kursus dimaksud banyak juga pengikutnya. Tetapi apakah setelah kursus, shalatnya benar-benar khusu', juga tidak ada yang tahu. Akan tetapi, mereka yang memprakarsai kursus itu maupun mereka yang mengikutinya, perlu diapresiasi atau dihargai. Sebab sulitnya shalat khusu' itu dirasakan oleh banyak orang.
Dulu saya mengira, banyak orang dalam menjalankan shalatnya benar-benar khusu'. Namun demikian setelah berkesempatan berbincang-bincang dengan banyak orang, saya memperoleh pengakuan secara jujur, bahwa orang yang semula saya anggap shalatnya khusu', ternyata juga mengaku tidak terlalu khusu'. Mereka mengatakan bahwa, untuk mendapatkan kekhusu'an di dalam shalat dirasakan sangat sulit.
Persoalannya adalah, bagaimana jalan yang harus ditempuh untuk memperoleh kekhusu'an di dalam shalat itu. Apakah hal itu bisa diperoleh lewat kursus atau pendidikan dalam waktu tertentu, atau masih ada cara lainnya. Namun ternyata, ada saja orang yang tidak pernah kursus, dan juga tidak berpendidikan terlalu tinggi, ------- paling tidak secara dhahir, berhasil merasakan kekhusu'an itu.
Sebagai upaya mencari tahu tentang bagaimana kekhusu'an itu diperoleh, saya merenungkan kejadian isra' dan mi'raj nabi. Dalam kisahnya, sebelum diperintah untuk shalat, Nabi Muhammad dipanggil oleh Allah swt., ke Sidratul Muntaha. Dalam perjalanan itu, Nabi ditunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya, di antaranya misalnya, bahwa langit berlapis tujuh, ia dipertemukan dengan para rasul terdahulu, ditunjukkan pula surga dan neraka, dan lain-lain.
Membayangkan kisah tersebut, Nabi Muhammad yang sudah yakin terhadap wahyu yang disampaikan lewat Malaikat Jibril, ternyata masih harus ditunjukkan bukti-bukti, lewat mata kepalanya sendiri, tentang kejadian-kejadian yang amat dahsyat itu. Di dalam al Qur'an disebutkan : linuriyahu min ayatina. Dengan cara itu, keimanan itu menjadi sangat kokoh, atau menjadi haqqul yaqien. Siapapun yang sudah berada pada tingkat itu, maka akan pasrah. Dalam suasana kepasrahan itu, tatkala diperintah apa saja, akan melaksanakan secara tulus atau khusu'.
Persoalannya adalah bahwa, manusia biasa tidak akan pernah dipangil oleh Allah untuk mi'raj. Isra' dan mi'raj, sepanjang sejarah kehidupan manusia, hanya dialami oleh Muhammad saw sendiri. Maka, sebagai mi'rajnya orang biasa, bisa dilakukan melalui perenungan dan kajian mendalam tentang ciptaan Allah. Lewat al Qur'an pula, manusia dianjurkan agar selalu merenungkan dan memikirkan penciptaan langit dan bumi.
Ciptaan Allah bisa dikaji oleh siapapun lewat ilmu biologi, fisika, kimia, astronomi, sosiologi, psikologi, sejarah, dan lain-lain. Kajian itu seharusnya menghasilkan pengetahuan dan bahkan kekaguman sehingga melahirkan kesadaran teologis atau keberagamaan yang sebenarnya. Kesadaran dan kekaguman itulah kiranya yang akan membuahkan kekhusu'an di dalam shalat. Oleh karena itu, betapa penting kajian sains dalam kehidupan keberagamaan, -------di antaranya, agar membuahkan kekhusu'an di dalam shalat. Wallahu a'lam.



