Soal Kacamata
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 10 September 2014 . in Dosen . 3989 views

Berbicara tentang kacamata dalam tulisan ini bukan terkait dengan harganya, modelnya, warnanya, pabrik atau penjualnya, dan lain-lain, tetapi sekedar menyangkut fungsi benda itu saja. Biasanya orang yang sudah tua, maka tidak bisa lagi melihat sesuatu secara jelas tanpa kacamata. Begitu pula, orang yang menderita rabun, ukuran matanya sudah minus atau plus, dan sejenisnya maka perlu menggunakan alat itu. Fungsi kacamata dalam hal ini adalah untuk membantu seseorang, agar bisa melihat sesuatu secara lebih jelas.

Akan tetapi sebenarnya, fungsi kacamata bukan sekedar itu, tetapi masih memiliki fungsi lain yang lebih beraneka ragam lagi. Orang berkacamata, bisa saja, agar kelihatan lebih cantik atau tampan, berwibawa, bergaya modern, dan lain-lain. Kacamata bisa digunakan sebagai alat pelindung, lebih-lebih tatkala sedang berkendaraan di jalan, menyelam, atau hanya sekedar untuk mainan. Anak kecil yang berkacamata, biasanya agar kelihatan lucu dan memperoleh perhatian banyak orang.

Mengenal fungsi kacamata seperti itu adalah penting. Sebab, tatkala seseorang tidak mengetahui fungsi sesuatu dan penggunaannya secara tepat maka akan dianggap aneh, dan bahkan juga akan menjadi bahan tertawaan. Misalnya, di tengah kegelapan, tetapi seseorang mengenakan kacamata hitam, --------siapapun orangnya, maka akan ditertawakan. Mengenakan kacamata gelap di tengah kegelapan maka akibatnya, tidak akan bisa melihat apa-apa, sebab semuanya, dengan kacamata itu, akan bertambah gelap.

Fungsi lain, menggunakan kacamata agar tampak anggun. Akan tetapi, jika hal itu tidak tepat juga justru akan sebaliknya. Misalnya, kacamata yang dikenakan tidak sesuai dengan ukuran atau tampang wajahnya, maka justru akan mengganggu. Wajahnya sempit, tetapi mengenakan kacamata terlalu lebar misalnya, maka keadaannya bisa dibayangkan sendiri oleh pembaca. Kacamata itu tidak akan berhasil mengubah wajah seseorang, misalnya menjadi semakin cantik atau tampan, tapi justru sebaliknya, yaitu menjadi lucu dan bahan tertawaan orang.

Berbicara tentang kacamata dari aspek fungsinya saja menjadi panjang lebar begini. Jika diteruskan maka halaman demi halaman akan habis hanya untuk berbicara fungsi kacamata. Padahal tidak saja kacamata yang harus diahami hakekat fungsinya yang sebenarnya, tetapi juga banyak hal lagi lainnya. Banyak orang ternyata gagal menangkap fungsi sesuatu secara tepat. Fungsi yang dimaksudkan itu oleh sementara orang hanya dipahami dari aspek lahirnya, aspek fisiknya, atau yang tampak. Padahal tanpa melihat fungsi yang sebenarnya itu, maka keberadaannya tidak banyak artinya.

Sebagai contoh sederhana lainnya, yaitu misalnya tentang hakekat pendidikan. Sebenarnya pendidikan diselenggarakan adalah untuk menjadikan seseorang semakin cerdas, berakhlak mulia, terampil, dewasa, mampu mengenal dirinya sendiri dan bahkan tuhannya. Akan tetapi, oleh karena melupakan fungsi yang sebenarnya itu, maka akhirnya banyak lulusan lembaga pendidikan yang masih gagal menghadapi kenyataan hidup. Hal itu disebabkan banyak penyelenggara pendidikan yang tidak menghayati terhadap fungsi pendidikan yang sebenarnya.

Kegagalan memahami fungsi sesuatu tidak saja terhadap pendidikan, tetapi juga terhadap persoalan kehidupan lainnya yang lebih luas. Lembaga hukum misalnya, diharapkan agar menjadikan keadilan di masyarakat semakin bisa dirasakan dan ditegakkan. Namun oleh karena tidak difahami fungsi dan filosofi hukum itu sendiri, maka kehadiran lembaga hukum justru melahirkan rasa ketidak-adilan.

Contoh lainnya, birokrasi diciptakan adalah agar institusi berhasil melayani masyarakat dengan cepat, efisien, murah, dan menyenangkan. Namun pada kenyataannya, harapan itu tidak selalu berhasil dirasakan. Justru dengan birokrasi, pelayanan menjadi semakin rumit, panjang, dan melelahkan. Akhirnya, banyak orang mengatakan bahwa, begitulah birokrasi, selalu berbelit-belit dan menyesakkan dada. Kehadiran birokrasi yang seharusnya memudahkan dan memercepat pelayanan, akan tetapi yang terjadi justru membosankan. Hal demikian itu, --------sebagaimana dikemukakan di muka, sebenarnya disebabkan oleh karena tidak difahami hakekat fungsinya yang sebenarnya.

Oleh karena itu, mengenali hakekat fungsi sesuatu menjadi penting. Hanya melihat sesuatu dari aspek fisiknya, formalnya, atau apa yang tampak, maka sama halnya seorang yang mengenakan kacamata hitam di dalam keadaan gelap gulita. Kacamata dimaksud hanya akan menambah keadaan semakin gelap. Tatkala orang melupakan hakekat fungsi pendidikan misalnya, maka kerja mendidik akan menjadi keliru. Demikian pula halnya dalam berbagai kehidupan lainnya yang lebih luas. Fungsi kacamata saja, jika tidak dipahami benar, maka penggunanya akan ditertawakan orang, apalagi hal yang lebih rumit seperti hukum, pollitik, pendidikan, sosial dan lain-lain. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up