Banyak orang mengukur keberhasilan hidup sebatas dari penghasiannya. Siapa saja yang berpengasilan tinggi dan mampu mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari, maka disebut sukses. Ukuran demikian itu tidak saja dalam lingkup individu, tetapi juga dalam lingkup luas, yaitu pemerintah misalnya. Pemerintah disebut sukses bila berhasil meningkatkan penghasilan warga negaranya. Itulah sebabnya pembangunan ekonomi dianggap sedemikian penting. Program-program pembangunan diarahkan untuk meningkatkan pengasilan itu.
Cara menukur keberhasilan hidup tersebut agak berbeda dengan pandangan ulama Qum yang menyebut kotanya sebagai kota ilmu. Para ulama yang sangat membanggakan kotanya sebagai madinatul ilmi tersebut, mengukur keberhasilan hidupnya dari tingkat keberagamaan dan kekayaan ilmunya. Keberhasilan dalam mengembangkan ekonomi dianggap penting, tetapi tidak lebih penting dari ketaatannya pada agama dan kekayaan ilmu. Kekayaan material diangap sebagai akibat dan bukan sebab. Bahwa orang yang taat beragama dan berilmu akan dengan sendirinya berhasil membangun ekonomi.
Atas dasar pandangan tersebut, maka ulama lebih menekankan pada pengembangan ilmu. Sedangkan ilmu yang dimaksudkan itu adalah sesuatu yang bersumber dari petunjuk Tuhan, ialah al Qur'an. Siapapun yang mampu menangkap pesan-pesan al Qur'an dan menjadikannya sebagai petunjuk dalam kehidupan sehari-hari, maka hidupnya akan sukses. Oleh karena itu, mereka sedemikian gigih mengajarkan pesan-pesan kitab suci itu melalui berbagai madrasah, khauzah ilmiah, dan juga perguruan tinggi.
Sebagai kota ilmu, maka para ulama dihargai dan dimuliakan sedemikian tinggi. Orang datang ke ulama untuk mendapatkan ilmu. Kegiatan seperti itu itu biasa dilakukan di rumah, di lembaga pendidikan, seperti sekolah, universitas, atau pusat-pusat pendidikan atau khauzah ilmiah,------ atau di Indonesia, disebut atau semcam pesantren. Selama beberapa hari berkunjung ke Qom, saya diajak mendatangi lembaga pendidikan dimaksud.
Semangat keilmuan itu, terasa sekali dala kehidupan sehari-hari. Banyak orang datang mempelajari al Qur'an, tafsir, haditas, fiqh, dan lain-lain ke kota ini. Tidak terkecuali, pada waktu mudanya, Ayatullah Khumaini belajar di Khauzah Ilmiah di Qom ini. Bahkan, untuk menghormati sejarah itu, kamar tidur dan tempat belajarnya masih dirawat dengan baik. Para pengelola khauzah ilmiah dengan bangga, dan bahkan juga menyebut bahwa inspirasi dan gerakan revolusi Iran yang terjadi beberapa puluh tahun yang lalu, adalah berasal dari lembaga pendidikan ini. Dengan begitu, khauzah ilmiah di Qom memiliki kewibawaan akademik yang tinggi.
Sebagaimana yang terjadi pada masyarakat umumnya, kegiatan ekonomi dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Di antara mereka ada yang menjadi pedagang, petani, pengrajin, dan lain-lain. Akan tetapi, penghargaan terhadap keberhasilan di bidang ekonomi tidak seperti prestasi pada ilmu. Di masyarakat Q!om bukan orang kaya yang lebih dihargai, tetapi adalah orang yang prestasi pada ilmu. Bahkan bagi masyarakat Qom, uang adalah untuk ilmu dan bukan sebaliknya, ilmu untuk mendapatkan uang.
Oleh karena sedemikian tinggi masyarakat di dalam menilai ilmu agama, maka setiap orang pada setiap tahun merasa berkewajiban menyisihkan penghasilannya untuk membiayai kegiatan ulama, di antaranya untuk pendidikan. Dana yang disisihkan dan pengelolaannya diserahkan pada ulama disebut khumus, yaitu seperlima dari keuntungan bersih pada setiap tahun. Uang itu dibayarkan lewat para ulama. Selanjutnya, ulama membelanjakan untuk kepentingan pendidikan, misalnya untuk gaji guru, beasiswa bagi mereka yang mempelajari ilmu agama.
Atas tingginya penghargaan terhadap ilmu, maka siapa saja yang belajar agama tidak dipungut biaya, bahkan sebaliknya, mereka diberi beasiswa. Posisi ulama sedemikian dihargai dan dihormati di tengah masyarakat. Ulama juga dijadikan anutan bagi masyarakat. Apa saja yang telah diputuskan oleh ulama diikuti. Petunjuk dan keputusannya dipandang telah didasarkan pada ajaran agama atau kitab suci, sehingga tidak selayaknya diabaikan.
Penghargaan yang tinggi terhadap imam dan ilmu menjadikan masyarakat tidak berebut harta atau kekayaan, apalagi masih harus korupsi. Masyarakat menyisihkan sebagian penghasilannya untuk pengembangan ilmu. Ulama sangat dipercaya dan dimuliakan. Suasana berebut, apalagi berebut ekonomi mtidak terjadi. Toko, pasar, dan lapangan usaha memang ramai, tetapi semuanya bermuara pada ilmu. Masjid dan lembaga pendidikan agama dianggap strategis, oleh karena dari tempat itu penghargaan dan kemuliaan bagi siapapun bisa memperolehnya. Ukuran keberhasilan hidup juga ditentukan dari tempat itu, dan bukan dari pasar atau dari sumber ekonomi lainnya. Wallahu a'lam.



