Ketika menjadi Rektor UIN Malang, saya seringkali mendapatkan usulan agar membuka Fakultas Ushuluddin. Atau jika tikak usul, setidaknya orang bertanya mengapa UIN Malang tidak segera membuka Fakultas Ushuluddin. Usulan dan atau pertanyaan itu selalu saya beri jawaban 'tidak'. Selama saya memimpin kampus ini tidak akan membuka Fakultas Ushuluddin. Entah suatu saat, teman lain yang mengganti saya, memimpin kampus ini berinisiatif membuka fakultas tersebut, silahkan saja.
Saya tidak berminat membuka fakultas tersebut, bukan karena saya tidak tertarik dengan kajian itu, tetapi hanya atas dasar alasan-alasan teknis. Selama ini saya lihat fakultas ushuluddin di lingkungan PTAIN yang ada, --------di mana-mana, masih kekurangan peminat. Kecilnya jumlah peminat masuk Fakultas itu hingga menjadikan Kementerian Agama pernah mengambil kebijakan berupa memberikan beasiswa khusus kepada mahasiswa fakultas ushuluddin. Rupanya pemerintah, dalam hal ini kementerian agama, khawatir fakultas ini tutup karena kekurangan peminat.
Intervensi yang dilakukan oleh kementerian agama, berupa pemberian beasiswa tersebut, ternyata juga tidak terlalu menarik banyak kalangan memanfaatkannya. Peminat masuk fakultas itu tetap masih kecil. Anehnya lagi, banyak dosen fakultas ushuluddin sendiri tidak selalu memasukkan anak-anaknya ke fakultas ini. Mereka justru memilihkan untuk putra-putrinya ke fakultas syari'ah, tarbiyah, dan bahkan juga ke fakultas ekonomi, psikologi, teknik, kedokterran, dan lain-lain. Melihat kenyataan itu, pertanyaan yang seharusnya dijawab adalah untuk siapa sebenarnya fakultas ushuluddin itu.
Untuk mencari tahu tentang sebenarnya seberapa penting keberadaan fakultas itu sehingga masih harus dipertahankan, saya mencoba untuk menanyakan kepada teman-teman yang kebetulan dekat dengan bidang ilmu dimasud, dan bahkan juga kepada orang yang menjadi bagian dari Fakultas Ushuluddin. Lewat komuniukasi yang saya lakukan, ternyata tidak memperoleh jawaban yang meyakinkan bahwa fakultas itu perlu ditambah jumlahnya. Bahkan yang sudah ada saja, --------oleh sementara orang, jika tidak diminati masyarakat, dianggap tidak perlu diberi kebijakan khusus, misalnya diberi beasiswa atau digratiskan.
Alasan lain, saya tidak menambah fakultas ushuluddin di UIN Malang oleh karena belum menemukan format yang sekiranya bisa menghindari munculnya pikiran-pikiran yang tidak sejalan dengan pandangan masyarakat pada umumnya terkait dengan keilmuan yang dikembangkan. Seringkali saya mendengar munculnya stetemen dari Fakultas Ushuluddin yang kontroversial, tidak saja dari UIN Surabaya sebagaimana terjadi pada akhir-akhir ini, tetapi juga dari Fakultas Ushuluddin pada PTAIN lainnya. Mungkin saja statemen yang agak kontrofersial itu oleh mereka sendiri dianggap wajar, tetapi ternyata menjadikan masyarakat resah dan atau memunculkan respon negatif. Jika demikian halnya, maka sebenarnya apa yang ingin diperoleh dari sibuk mendiskusikan tentang Tuhan itu.
Melalui perenungan yang lama dan mendalam, saya sebenarnya masih menginginkan fakultas Ushuluddin itu dikembangkan dan kalau perlu juga ditambah. Betapapun kajian ini telah memiliki sejarah panjang dan menghasilkan produk yang tidak kecil. Namun mungkin saja ke depan masih diperlukan kebijakan untuk reformulasi kembali secara menyeluruh agar keberadaannya lebih memberikan makna besar, lebih relevan dengan kebutuhan zaman, dan yang tidak kurang pentingnya lagi adalah tidak melahirkan statamen aneh yang justru membingungkan umat. Siapa yang harus memikirkan, sudah barang tentu, adalah para ahli dan atau guru besar yang lahir dari Fakultas Ushuluddin sendiri. Wallahu a'lam.



