Sepulang shalat subuh berjama'ah dari masjid, saya mebiasakan diri untuk menulis artikel pendek. Tetapi tidak saya lakukan pada hari ini,oleh karena sebelum shalat subuh harus berangkat ke pondok pesantren Kauman, Lasem, Jawa Tengah. Oleh karena jam 09.00 pagi harus nyampai di tempat undangan, shalat subuh saya lakukan di perjalanan. Dan, kegiatan rutin menulis rutin setiap pagi saya tunda, sepulang dari Lasem.
Di sepanjang perjalanan dari Malang, dan apalagi setelah nyampai di wilayah Tuban hingga Lasem, musim kemarau sudah tampak akibatnya. Di kanan kiri jalan, persawahan dan kebun-kebun, sudah mengering. Genangan air di mana-mana sudah tidak tampak lagi. Rumput-rumput sudah menguning kekeringan. Tanaman yang masih tersisa, seperti jagung, padi, dan lain-lain sudah kecil diharapkan berhasil panen maksimal, oleh karena kekurangan air itu.
Dari arah timur, setelah melewati jembatan panjang di Babat dan memasuki wilayah Tuban, oleh karena tanah di wilayah itu agak tandus dan pengairannya tidak mencukupi, maka tampak bahwa, keadaan ekonomi penduduk di sepanjang jalan itu hingga daerah Lasem masih belum terlalu menggembirakan. Di kanan kiri jalan masih banyak rumah-rumah sederhana dan bahkan juga tergolong amat sederhana. Hal demikian itu menggambarkan tentang keadaan ekonomi penghuninya belum terlalu bisa dibanggakan.
Manakala keadaan rumah-rumah penduduk di pingggir jalan raya saja sesederhana seperti itu, maka dalam benak saya terbayang, apalagi mereka yang berada jauh dari jalan raya. Biasanya, di mana-mana, perumahan di pinggir jalan raya lebih baik dari yang ada di bagian dalam. Sebab biasanya, harga tanah di pinggir jalan lebih mahal, dan penduduk di pinggir jalan memiliki akases ekonomi lebih dibanding mereka yang bertempat tinggal jauh dari jalan raya. Tapi moga-mogalah tidak semuanya begitu.
Bersamaan dengan menyaksikan kehidupan rakyat dimaksud, pikiran saya justru tertuju pada para pelaku politik pada akhir-akhir ini. Mereka seharusnya segera memikirkan persoalan atau keadaan seperti yang saya gambarkan itu, dan tentu tidak saja yang terjadi di Jawa Timur, tetapi di seluruh wilayah negeri ini. Sehingga, tatkala pemilihan anggota legislatif, maupun presiden dan wakil presiden telah selesai, dan telah ditetapkan hasilnya, maka seharusnya tidak boleh lagi terdengar suara-suara gaduh, mencari celah-celah kemenangan. Semua itu seharusnya sudah ditinggalkan.
Usai pemilu, keinginan rakyat adalah segera adanya perubahan, yakni berubah agar bangsa ini semakin maju, pengangguran dan kemiskinan semakin terkurangi, pendidikan semakin berkualitas, keadaan ekonomi meningkat, perumahan penduduk semakin tampak lebih baik, rakyat semakin mandiri, dan seterusnya. Manakala rakyat yang akan diutamakan, dibela, diperjuangkan, dan dimenangkan, maka sebenarnya tatkala selesai pemilihan umum, yakni anggota legislatif sudah dilantik, dan demikian pula presiden dan wakil presiden sudah terpilih, maka tidak diperlukan lagi adanya kegaduhan politik.
Setelah proses politik telah berhasil dilalui, maka semua pihak seharusnya bersatu kembali, dan menempati posnya masing-masing. Mereka yang menang menunaikan tugas dan janji-janjinya, sedangkan yang masih kurang beruntung segera mengambil peran-peran yang bisa dimainkan, yang sama-sama juga untuk kepentingan rakyat. Semuanya tanpa terkecuali memikirkan, bagaimana aspirasi atau kebutuhan rakyat bisa dipenuhi.
Sebenarnya sedemikian banyak pekerjaan yang harus dipikirkan dan diselesaikan oleh para pemimpin untuk memajukan bangsa ini. Manakala mereka masih ribut melulu, maka artinya, politik yang dijalankan belum mengutamakan kepentingan rakyat, melainkan masih untuk urusan pribadi, partai atau golongannya sendiri. Dan, jika gambaran itu yang terjadi, maka bangsa ini selamanya tidak akan maju, dan tertinggal dari bangsa lain. Wallahu a'lam.



