Dalam perjalanan di tengah padang pasir, saya melewati sebuah perkampungan dan kebetulan di tempat itu terdapat lembaga pendidikan Islam, semacam pesantren di Indonesia. Sesuai dengan kondisi wilayah itu, ------berupa padang pasir, masyarakat kampung tersebut tidak terlalu maju. Bau kambing menyengat, sebab rupanya mata pencaharian penduduk itu adalah penggembala ternak itu.
Bersama-sama rombongan, saya singgah di tempat itu dengan maksud utama untuk numpang sholat. Kebetulan dari jauh di tempat itu kelihatan menara dan masjid. Ternyata selain masjid, juga terdapat lembaga pendidikan semacam pesantren itu. Tampak bahwa jumlah santri yang belajar di tempat itu cukup banyak. Anak-anak berusia belasan tahun dengan baju khas santri, keluar masuk ruang belajar di samping masjid.
Sebagaimana keadaan di padang pasir pada umumnya, tampaknya persoalan yang dihadapi sehari-hari adalah menyagkut kekurangan air. Sekalipun bangunan masjid dan lembaga pendidikannya itu cukup baik, tetapi oleh karena kekurangan air, maka di sana-sini tampak debu dan banyak kotoran. Akibat lainya, lingkungan masjid dan pesantren tampak gersang. Umpama saja, jumlah air cukup, maka bangunan masjid, fasilitas lain, dan lingkungannya bisa kelihatan bersih dan segar.
Bagi orang yang sudah terbiasa hidup di padang pasir, mungkin kenyataan itu sudah tidak dianggap sebagai persoalan. Bertahun-tahun mereka hidup di tempat seperti itu sudah dianggap sebagai hal biasa. Air yang sulit didapat hingga sekedar berwudhu saja tidak mudah dilakukan bukan dianggap sebagai persoalan. Mereka sejak lahir sudah mengalami kehidupan semacam itu. Mungkin mereka tidak membayangkan, bahwa air bisa diperoleh melalui rekayasa, misalnya dengan cara mengebor atau lewat teknologi lainnya.
Hal demikian itu berbeda dengan yang dirasakan oleh pendatang, atau orang yang tidak terbiasa hidup di padang pasir, lebih-lebih pendatang itu berasal dari daerah kaya hujan, maka keadaan itu menjadi sangat menyiksa. Air adalah merupakan kebutuhan pokok yang harus ada. Selain untuk dikonsumsi sehar-hari, air juga digunakan untuk kebersihan, dan termasuk untuk memenuhi kebutuhan bersuci.
Setelah istirahat dan juga selesai sholat, saya merenung tentang betapa beratnya kehidupan di perkampungan di tengah padang pasir. Selain itu, saya juga sempat bertanya tentang pelajaran sehari-hari yang diberikan kepada anak-anak yang berada di tempat itu. Saya mendapatkan jawaban bahwa, mereka diajak mendalami ilmu tentang Islam yang bersumberkan dari al Qur'an dan hadits nabi. Juga dijelaskan bahwa mereka diajari ilmu fiqh dari berbagai madzhab, tarekh, dan lain-lain.
Mendapatkan jawaban itu, saya menerung dan bertanya dalam hati. Pertanyaan saya di seputar mengapa, mereka juga tidak diajari untuk menjawab persoalan mendasar dalam kehidupan sehar-hari, misalnya mengatasi kelangkaan air yang sangat dibutuhkan pada setiap saat itu. Umpama saja mendalami Islam dimaknai juga belajar mengatasi problem-proiblem kehidupan sehari-hari, maka dalam pikiran saya, Islam akan dirasakan benar-benar mampu menjawab persoalan hidup yang nyata.
Belajar fiqh empat madzhab, menurut hemat saya, adalah memang perlu dan harus dilakukan di lembaga pendidikan Islam. Akan tetapi belajar untuk mengatasi persoalan kehidupan sehari-hari juga tidak kurang pentingnya. Di dalam al Qur'an juga diajarkan tentang kegunaan air, bahkan dijelaskan bahwa air adalah sebagai sumber kehidupan, kemakmuran, untuk bersuci dan lain-lain. Dalam pikiran saya, umpama al Qur'an ditangkap secara utuh, dan dijadikan petunjuk untuk mengatasi problem kehidupan ini secara menyeluruh, maka para santri selain belajar fiqh secara mendalam juga belajar tentang bagaimana mengatasi persoalan hidup sehari-hari. Wallahu a'lam.



