Ibadah Haji Dan Persatuan Umat
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 7 Oktober 2014 . in Dosen . 4197 views

Beberapa hari lalu, saya menulis artikel sederhana yang saya beri jujul : 'bersatu dan bersama-sama'. Melalui tulisan itu, saya ingin menyampaikan bahwa umat Islam sekalipun berbeda-beda, termasuk berbeda di dalam menetapkan hari raya, seharusnya tetap bersatu. Persatuan harus tetap diperjuangkan dan diupayakan semaksimal mungkin, oleh karena hanya dengan persatuan itulah, umat Islam akan maju dan kuat. Tanpa persatuan umat Islam, sekalipun jumlahnya besar, akan lemah dan akan dianggap rendah oleh umat lainnya.

Dalam ibadah haji, sebenarnya ada pelajaran penting terkait bermasyarakat yang perlu direnungkan dan dipegangi, yaitu selain bersatu-ternyata juga harus bersama-sama. Umat Islam dalam menjalankan ibadah haji tidak pernah sendirian. Waktunya saja bersamaan, yakni pada tanggal 9 Dzulhijjah, semua jama'ah haji berada di Arafah. Tidak pernah ada yang berselisih dan berbeda di dalam menetapkan hari Arafah. Semuanya bersepakat dan sama. Perbedaan organisasi, asal negara, aliran, maupun madzhab, pada waktu itu tidak menjadikan hari Arafah berbeda.

Kebersamaan dan persamaan benar-benar terjadi dalam ibadah haji. Selain kebersamaan di padang Arafah, mereka juga sama dalam berpakaian, berangkat ke Muzdalifah, ke Minna untuk melempar jumrah, ke Makkah untuk thawaf, sa'i, hingga tahallul. Semua jama'ah haji, bagi yang laki-laki, mengenakan dua lembar kain ikhram. Bukan saja sama warnanya, yaitu putih, tetapi cara menggunakannya juga sama. Tidak ada yang berlain-lainan.

Pada hari Arafah itu, saat mata hari mulai terbenam, semua jama'ah mulai bersiap-siap meninggalkan tempat wukuf itu. Mereka pada berangkat ke Muzdalifah untuk mabith di tempat itu hingga tengah malam. Selepas itu, dan biasanya, di Muzdalifah semua jama'ah haji mencari kerikil atau jumrah sebanyak yang diperlukan, untuk dilempar di Minna. Jumlah kerikil yang akan dibawa juga sama, urut-urutan melemparkannya juga sama. Semuanya serba sama, di antara jama'ah haji tidak berdebat mencari mana yang paling benar.

Pelajaran kebersamaan juga masih tampak ketika sampai di Makkah untuk thawwaf ifadhah dan sa'I maupun tahallul. Selesai dari Minna, para jama'ah haji datang ke Masjid al Haram untuk melakukan rangkain haji sebagaimana disebutkan itu, ialah thawwaf, sya'i, dan tahallul. Memang, oleh karena keterbatasan tempat, rangkaian haji tersebut tidak mungkin dilakukan secara bersamaan. Ada saja, jama'ah haji menunggu hingga tempatnya tidak terlalu sesak, asalkan waktunya masih tersedia atau belum terlambat. Sebab, thawwaf ifadah, sya'i, dan tahallul tidak boleh ditinggalkan dan atau juga dilaksanakan di luar waktu haji.

Belajar dari rangkaian ibadah itu, maka sebenarnya, orang yang berhaji sedang diberi pelajaran penting dalam bermasyarakat ialah tentang persatuan umat Islam. Persatuan itu tidak mengenal asal negara, bangsa, suku, etnis, golongan, organisasi, atau bahkan madzhab. Pengikut madzhab yang berbeda-beda pada saat menjalankan ibadah haji, mereka melakukan kegiatan ritual yang sama, simbol-simbol atau lambang yang sama, dan bahkan doa-doa yang dibaca pun juga sama. Umat Islam benar-benar menjadi bersatu dan bersama-sama dalam menjalankan rukun Islam yang ke lima itu.

Maka umpama saja, pelajaran dari pelaksanaan haji itu ditangkap sepenuhnya, maka tidak ada alasan umat Islam bercerai berai hanya atas dasar alasan berbeda bangsa, suku, golongan, ataupun juga madzhab yang diikuti. Tatkala sedang dalam ibadah haji mereka bisa bersatu dan bersama-sama, maka setelah pulang ke negerinya masing-masing pelajaran itu seharusnya masih diingat dan dilaksanakan. Sebaliknya, pelajaran itu bukan hanya berlaku di dalam kelas, ialah ketika di waktu haji. Setelah keluar dari ruang kelas, mereka berbeda dan menganggap pandangannya yang paling benar dan apalagi yang lain dianggapnya sebagai saingan atau musuh. Tentu tidak begitu, semoga ibadah haji benar-benar berhasil menyatukan umat Islam dan mabrur semuanya. Amien.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up