Karakter Dan Kebiasaan Sehari-hari
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Senin, 27 Oktober 2014 . in Dosen . 11102 views

Sebagaimana saya kemukakan hari kemarin, bahwa kemampuan menulis itu sebenarnya tergantung kebiasaan sehari-hari. Orang yang sehari-hari menulis, maka akan menjadi mudah ketika harus menulis. Demikian pula sebaliknya, orang yang tidak terbiasa menulis tatkala mendapat tugas menulis, maka akan dirasakan sebagai beban yang berat.

Hal tersebut sebenarnya tidak saja terkait dengan menulis, tetapi juga dalam berbagai kegiatan lainnya. Seseorang yang terbiasa membaca al Qur'an pada setiap pagi setelah shalat subuh berjama'ah di masjid, maka kegiatan itu akan terasa enak dilakukan. Sebaliknya, manakala kebiasaannya di pagi hari bangun tidur terlambat, maka akan menjadi merasa tersiksa ketika harus bangun pagi di awal waktu shalat subuh.

Demikian pula pada kegiatan lain yang lebih sederhana lagi, misalnya membuang sampah, berpakaian, meletakkan sesuatu, berkendara di jalan, memperlakukan teman, cara makan dan lain-lain. Orang yang terbiasa membuang sampah di tempat yang semestinya, maka akan kebingungan tatkala harus membuang sampah sedangkan di saat itu tidak tersedia tempat pembuangan sampah.

Seorang kyai, oleh karena sudah terbiasa mengenakan sarung, peci, dan surban maka akan merasa tidak enak tatkala pada suatu saat harus mengenakan celana panjang tanpa peci. Demikian pula seorang ayah, ketika pada suatu misalnya, ke kantor harus mengenakan daster isterinya, maka ia akan merasa sangat tersiksa dan malu. Seorang laki-laki biasanya ke kantor selalu memakai celana panjang, baju, dan dasi, dan bukan daster.

Perilaku atau karakter seseorang tergantung pada kebiasaan sehari-hari. Jika sesuatu sudah menjadi kebiasaan, maka akan sulit diubah atau dihilangkan. Seorang yang sudah terbiasa merokok, maka menghentikannya tidak mudah. Orang yang sudah terbiasa berpenghasilan puluhan juta setiap bulan, kemudian pekerjaannya berhenti sehingga tidak menerima gaji lagi, maka akan sangat tersiksa. Mengubah kebiasaan adalah sangat sulit dilakukan oleh banyak orang.

Terkait dengan kebiasaan itu, ada hal penting yang perlu direnungkan secara saksama, ialah apa yang banyak dibicarakan orang akhir-akhir ini, yaitu tentang pengangguran sarjana yang semakin meningkat jumlahnya. Gejala itu sebenarnya sudah banyak diketahui orang, termasuk oleh para calon sarjana sendiri. Menghadapi kenyataan itu, sementara mahasiswa tidak berani segera lulus, khawatir terhadapi resiko itu, ialah menganggur setelah menjadi sarjana.

Pengangguran sarjana itu sendiri sebenarnya juga erat kaitannya dengan kebiasaan yang dibangun tatkala masih kuliah. Kebiasaan sehari-hari yang sedemikian longgar, banyak membuang atau menyia-nyiakan waktu, dan atau tidak memiliki aktivitas rutin tertentu yang produktif, maka ketika lulus dan harus keluar dari kampus, mereka akan kebingungan. Maunya segera bekerja tetapi tidak terbiasa, atau sebaliknya menganggur, juga sudah merasa tidak pantas lagi.

Oleh karena itu membiasakan berperilaku produktif yang memberi manfaat terhadap kehidupannya sendiri adalah sangat perlu dilakukan. Kebiasaan berperilaku terpuji dan produktif harus dibangun sejak dini. Manakala diteliti secara saksama, maka sebenarya perilaku seseorang adalah tergantung pada kebiasaan yang dibentuk sejak lama. Termasuk perilaku menyimpang, ------korupsi misalnya, adalah buah kebiasaan yang sudah lama tersemai pada diri yang bersangkutan. Orang yang tidak pernah berbuat menyimpang, maka tidak akan gampang melakukan penyimpangan, dan begitu pula sebaliknya.

Kebiasaan hingga menjadi karakter seharusnya dibentuk sejak awal. Pembentukan itu dilakukan secara terpadu, baik di rumah atau keluarga, di sekolah, dan juga di mana saja, termasuk di kampus-kampus. Banyaknya pengangguran sarjana adalah sangat mungkin disebabkan oleh budaya yang dikembangkan di kampusnya. Misalnya, institusi pendidikan itu tidak memberikan bekal berwirausaha atau menjadi entrepreneur kepada para mahasiswanya. Mereka hanya dituntut untuk kuliah seadanya, menunggu ujian, dan wisuda. Mahasiswa tidak diberi tantangan yang cukup. Akibatnya, mereka menjadi pemalas.

Kampus seharusnya mampu menyusun program yang menantang hingga berhasil menguras habis energi mahasiswanya. Sehari-hari mereka tidak boleh hanya datang ke kampus,untuk kuliah, dan atau menunggu saat ujian tiba. Hal demikian itu hanya akan menghasilkan mental kurang produktif. Mahasiswa harus ditantang untuk melakukan kegiatan penelitian, menulis, dan jika perlu harus bekerja di lapangan sesuai dengan bidangnya. Itulah di antara wilayah mental, watak, atau karakter yang harus diubah. Meminjam bahasa Pak Jokowi, kita semua harus mengubah kebiasaan malas menjadi terbiasa bekerja, bekerja, dan bekerja. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up