Sekalipun sudah begitu akrab, sebenarnya saya mengenal KH Abdurrachim As Syadzily belum begitu lama. Kehadiran beliau pada acara dzikir bersama di UIN Malang beberapa tahun yang lalu, itulah saya mulai mengenal kyai pendiri Majlis Maulid wa Ta'lim Riyadul Jannah Malang.
Pada awalnya, saya sebagai Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam rangkaian acara dies natalis, menyelenggarakan acara khusus berupa dzikir bersama. Agar lebih mudah mendatangkan jama'ah, maka saya meminta Kyai Abdurrachim As Syadzily agar berkenan menyelenggarakan kegiatan rutin dzikirnya bersama-sama di kampus. Permintaan itu disambut gembira olehnya.
Perkenalan itu ternyata berlanjut. Kyai kharismatik itu mengaku senang, oleh karena dzikir bersama-sama yang semula dilaksanakan di UIN Malang itu kemudian juga diikuti oleh kampus-kampus lainnya di Malang. Akhirnya dirasakan bahwa kebutuhan dzikir bersama tidak saja dibutuhkan oleh warga kampung, tetapi juga digemari oleh warga kampus.
Demikian pula hingga pengurus Majlis Maulid wa Ta'lim Riyadul Jannah dimaksud tidak saja terdiri atas para habaib di Malang tetapi juga para pengusaha, orang-orang kampus, pegawai negeri, dan para tokoh organisasi Islam. Majlis Maulid wa Ta'lim ini memiliki daya tarik, yang menurut hemat saya, sangat luar biasa. Pada setiap kegiatan dzikir bersama untuk tingkat wilayah malang raya biasanya dihadiri oleh puluhan ribu orang, hingga kadangkala jalan umum menjadi macet.
Selain itu, ketaatan para jama'ah terhadap kegiatan yang dipimpin oleh KH Abdurrachiem As Syadzily sangat luar biasa. Biasanya sebelum acara selesai secara tuntas, sekalipun hingga larut malam, dan bahkan datang hujan sekalipun, mereka tidak meninggalkan tempat. Para jama'ah sanggup mengikuti kegiatan dzikir bersama sekalipun harus menderita basah kuyub, karena hujan lebat, sementara itu tidak ada peneduh. Lagi pula, mereka dengan kendaraan ala kadarnya datang atas beaya sendiri.
Sejak beberapa bulan yang lalu, perintis dan sekaligus juga pemimpin Majlis Maulid wa Ta'lim Riyadul Jannah ini berniat membangun markas. Dengan fasilitas itu diharapkan semua kegiatan, termasuk pendidikan, bisa ditampung di tempat itu. Saya oleh Kyai yang masih relatif muda ini, yakni baru berumur 51 tahun, diminta menjadi ketua panitianya. Sudah barang tentu, permintaan yang tulus itu, saya penuhi. Namun oleh karena kegiatannya baru tahap memulai, maka belum menghasilkan apa-apa, kecuali baru membebaskan tanah, dan itupun belum berhasil sepenuhnya.
Dalam perjalanan pulang dari acara kegiatan rapat kepanitiaan pembangunan markaz tersebut, ------kira-kira sebulan yang lalu, saya diajak Kyai Abdurrachim bersama-sama dalam satu mobil. Beliau sendiri yang mengemudikan mobilnya, oleh karena sedang tidak ada sopir. Tatkala sedang di mobil bersama-sama itu, kalau tidak salah ingat, kyai menyampaikan bahwa berdakwah atau mengajak orang untuk beragama tidak harus lewat ceramah atau pidato. Orang sekarang, menurut kesan Kyai ini, sudah tidak terlalu tertarik diajak mendengarkan ceramah. Namun demikian, ternyata mereka sangat tertarik diajak berdzikir.
Selain hal tersebut, tatkala sedang di mobil bersama-sama itu, beliau juga menjelaskan bahwa, peserta dzikir tidak saja terdiri atas orang yang secara ekonomi berkecukupan, tetapi ternyata juga berasal dari semua lapisan masyarakat. Mereka itu juga bukan saja orang-orang yang sehari-hari aktif ke masjid atau mushalla, bahkan juga tidak sedikit yang belum akrab dengan tempat ibadah. Berdzikir semacam itu dirasakan memenuhi tuntutan kebutuhan spiritualnya.
Oleh karena itu tidak sedikit jama'ah yang datang dan ikut berdzikir tampak berambut gondrong dan juga badannya bertato. Menurut penuturan Kyai Rochim (sebutan akrab beliau), mereka tertarik dengan kehidupan keagamaan bukan karena diberi ceramah, melainkan karena diajak dan ikut berdzikir. Tatkala diajak berdzikir atau mengingat Allah secara bersama-sama, -----lewat Majlis Maulid wa Ta'lim Riyadul Jannah, maka perilaku keagamaan mereka menjadi semakin tumbuh. Namun, sudah menjadi takdir Allah, pendiri Majlis Maulid wa Ta'lim Riyadul Jannah ini, pada hari Sabtu, tanggal 4 Oktober 2014, sekitar jam 06.30 pagi wafat, dipanggil oleh Allah. Semoga beliau khusnul khotimah, ditempatkan oleh Allah pada tempat terbaik, di surga-Nya, amien



