Memaknai Positif Terhadap Adanya Musuh Bersama
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 12 Oktober 2014 . in Dosen . 1755 views

Dalam berdialog singkat dengan Imam Masjid di Provinsi Masyhad, Iran, saya mendengarkan penjelasan yang amat menarik tentang kemajuan yang selama ini dialami oleh bangsanya. Bangsa Iran telah berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan modern hingga bisa membuat setelit sendiri, kapal selam yang tidak bisa dideteksi oleh radar siapapun, program nukleir dan lain-lain.

Kemajuan itu juga termasuk di dalam pengelolaan pendidikan. Iran bisa menggratiskan biaya pendidikan untuk rakyatnya. Bahkan yang amat menarik bahwa, menurut informasi yang saya terima, pemerintah Iran tidak mengizinkan bagi siapapun memungut biaya pendidikan terhadap orang yang mempelajari agama dan ilmu kedokteran, termasuk pendidikan Bahasa Parsi. Pendidikan agama harus gratis dan bahkan para siswanya harus diberi beasiswa, termasuk gurunya harus dicukupi beaya hidupnya.

Mahasiswa kedokteran tidak boleh dibebani biaya pendidikan atas dasar anggapan bahwa, manakala mereka dibebani biaya pendidikan, maka dikhawatirkan setelah lulus akan mencari keuntungan dari orang-orang yang sedang ditolong dan dalam keadaan sakit. Menurut pemerintah dan ulama Iran, orang sakit tidak boleh ditambah bebannya lagi derngan membayar biaya pengobatan. Niat baik itu akan terlaksana jika para calon dokter tidak dipungut biaya.

Masih dari pembicaraan tentang kemajuan yang dialami oleh bangsa Iran, Imam Masjid kota Provinsi Masyhad, menjelaskan bahwa bangsa Iran beruntung oleh karena merasa memiliki musuh bersama. Sedangkan yang dimaksudkan dengan musuh bersama itu adalah bangsa Amerika Serikat. Bangsa barat itu dianggap musuh oleh karena kebijakan politiknya terhadap negara lain tidak adil. Salah satu contohnya adalah tentang pengembangan nukleir di Iran. Nukler dianggap baik dan bermanfaat, tetapi negara lain dilarang, sementara itu Amerika Serikat sendiri mengembangkannya.

Perasaan memiliki musuh bersama itu mendorong bangsa Iran memiliki semangat untuk berusaha sekuat tenaga dalam memperkukuh dirinya agar bisa bersaing dan menang dengan siapapun, termasuk dengan bangsa yang dianggap sebagai musuhnya itu. Adanya musuh bersama itu tidak saja melahirkan semangat juang bersama, tetapi juga terbangun rasa kebersamaan, atau nasionalisme, keharusan membela dan menjaga harga diri, kemandirian, dan tumbuh suasana mencintai negaranya.

Selain itu, dengan adanya musuh bersama juga tumbuh semangat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan lain-lain. Oleh karena memiliki musuh bersama itu, maka dengan sendirinya mereka menjauhkan sifat atau budaya yang tidak produktif, misalnya bersenang-senang secara berlebihan, budaya hidonis,menyia-nyaiakan waktu dan lain-lain. Adanya musuh bersama juga menjadikan bangsa ini semakin cerdas dan kritis terhadap siapapun, tidak terkecuali kepada pemerintahnya.

Mendengarkan pandangan-pandangan Imam Masjid kota Masyhad tersebut, saya segera teringat pada keadaan bangsa saya sendiri, Indonesia. Selama ini, mungkin dirasakan tidak pernahj ada musuh, dan bahkan kompetitornya saja tidak begitu jelas. Perasaan aman, tidak ada gangguan dan atau resiko itulah yang kadang kala menjadikan bangsa ini kehilangan semangat, etos, atau kemauan untuk memperkokoh dirinya sendiri. Bahkan anehnya, oleh karena tidak ada musuh bersama itu, maka kolega atau temannya sendiri dianggap sebagai musuhnya.

Dalam kasus sederhana, pemilihan presiden dan wakil presiden yang seharusnya dipahami sebagai agenda rutin, dilaksanakan setiap 5 tahun sekali, menjadi agak berisik tatkala menentukan pemenangnya. Kawannya sendiri diangap atau diposisikan sebagai musuhnya, oleh karena tidak ada orang atau pihak lain yang benar-benar menjadi musuh. Dalam keadaan seperti itu, seolah-olah bangsa ini tidak memiliki tantangan, kompetitor, atau musuh yang jelas. Oleh karena itu, rasanya apa yang dikatakan oleh Imam Masjid Kota Provinsi Masyhad, bahwa berperasaan memiliki musuh bersama, -------pada saat-saat tertentu, ternyata memang benar-benar penting. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up