Di Indonesia perbincangan tentang madzhab tidak terlalu banyak terdengar. Hampir-hampir orang tidak terlalu peduli dengan madzhab yang dianut. Saya sendiri sebagai seorang muslim juga tidak pernah membicarakan tentang itu. Di kampus perguruan tinggi Islam dan juga di pesantren diajarkan tentang perbandingan madzhab, tetapi oleh karena di tengah-tengah masyarakat tidak terdapat pengikut madzhab yang berbeda-beda, maka kajian itu hanya sekedar untuk perbendaharaan pengetahuan saja.
Perbedaan di kalangan kaum muslimin di Indonesia hanya sebatas menyangkut organisasi keagamaan yang diikuti, misalnya NU, Muhamadiyah, Persis, Tarbiyah Islamiyah, Jam'iyyah Islamiyah, Persatuan Umat Islam dan lain-lain. Perbedaan di antara masing-masing organisasi itu juga tidak terlalu dipersoalkan, apalagi sejak beberapa tahun belakangan ini. Orang NU sudah biasa menyekolahkan putra-putrinya ke lembaga pendidikan Muhammadiyah, dan juga sebaliknya, sudah tidak dianggap sebagai sesuatu yang aneh seseorang yang dikenal sebagai warga Muhammadiyah mengikuti doa bersama yang diselenggarakan oleh orang Nahdlatul Ulama.
Kenyataan tersebut berbeda dengan yang terjadi di beberapa negara lain, misalnya di Iran. Beberapa minggu yang lalu, ketika saya berkunjung ke Teheran, Qom, dan juga Masyhad, selalu menemui pembicaraan terkait dengan perbedaan madzhab. Bahkan di kota itu ada lembaga yang diberi nama taqrib bainal madzahib, dan juga Universitas al Adyan wa Madzahib Islami. Rupanya di negeri ini perbedaan madzhab harus dibicarakan hingga memunculkan lembaga yang berusaha untuk mendekatkan di antara pengikut madzhab yang berbeda.
Memang di antara organisasi sosial keagamaan di Indonesia terdapat perbedaan, akan tetapi perbedaan itu sangat kecil, dan hanya menyangkut kegiatan ritual, misalnya tentang penetapan awal bulan ramadhan dan hari raya, tempat pelaksanaan shalat id, jumlah rakaat dalam shalat tarweh, berapa kali dikumandangkan adzan pada shalat Jum'atan dilaksanakan, dan beberapa perbedaan lainnya yang juga kurang begitu mendasar. Memang dulu, perbedaan itu di beberapa tempat mengakibatkan ketegangan, tetapi sekarang ini sudah diangap sebagai sesuatu yang biasa.
Tatkala sedang berkunjung ke Iran, saya mendapatkan pandangan bahwa, untuk mendekatkan pengikut antar madzahab, kiranya perlu dilakukan pertukaran ulama dari madzhab yang berbeda. Misalnya, ulama Sunny dikirim ke tengah-tengah masyarakat Syi'ah untuk menjelaskan tentang pandangan madzhab yang dianut, dan sebaliknya ulama' Syi'ah dikirim ke tengah masyarakat sunny untuk melakukan hal yang sama. Demikian pula perlu dilakukan pertukaran buku, majalah atau bentuk karya lainnya yang dihasilkan oleh ulama yang berbeda. Lewat cara itu diharapkan di antara pengikut madzhab yang berbeda akan saling mengenal dan akhirnya saling memahami dan menghargai.
Mendengarkan pandangan itu, saya menyampaikan bahwa, keuntungan yang diharapkan itu bisa jadi hanya berada pada tataran teoritik, tetapi di dalam praktek belum tentu menghasilkan suasana saling mendekat. Bahkan sebaliknya, cara itu justru akan mempertajam perbedaan dan akan saling menjauh. Saya berpedapat bahwa memang saling tukar menukar ulama itu perlu dan penting. Akan tetapi yang ditukarkan bukan ulama fiqh, ulama tauhid, ulama tasawwuf, atau ulama tarekh, dan melainkan jenis ulama lainnya. Tukar menukar itu akan menjadi lebih produktif misalnya adalah ulama' nuklier, ulama perancang satelit, pendesain kapal selam yang anti radar, dan atau ulama sains seperti fisika, kimia, biologi kedokteran, ekonomi, pertanian, pertambangan, dan sejenisnya.
Agar antar pengikut madzhab menjadi saling mendekat, maka harus ada kesediaan untuk tidak terlalu banyak berbicara lagi tentang madzhab. Pemikiran tentang madzhab tidak pelu dikembangkan lebih jauh. Berbagai pikiran dan pandangan tentang madzhab sudah lama dikembangkan dan telah menghasilkan berbagai dokumen atau dalam bentuk buku yang disimpan di perpustakaan dan atau di tempat lain. Siapapun yang ingin memehami tentang madzhab tertentu sudah bisa membuka dokumen atau buku-buku dimaksud. Pada saat sekarang umat Islam seharusnya segera beralih untuk berbicara tentang sains dan teknologi yang pada akhir-akhir ini sudah terasa semakin tertinggal dari umat lainnya.
Manakala umat Islam sudah tidak terlalu banyak berbicara tentang berbagai madzhab yang berbeda-beda, maka antar pengikut madzhan juga akan mendekat dengan sendirinya. Sebaliknya, jika semua pihak masih selalu berbicara, berdiskusi, berdialog, dan apalagi berdebat tentang madzhab, dan bahkan saling mengklaim bahwa madzhabnya sendiri yang paling benar, maka justru di antara mereka yang berbeda itu akan semakin menjauh. Menurut hemat saya, untuk mendekatkan di antara pengikut madzhab yang berbeda, maka cara yang lebih mudah adalah seharusnya justru berhenti dari berbicara tentang berbagai madzhab. Wallahu a'lam.



