Akhir-akhir ini kita sering mendengar keinginan masyarakat untuk berubah. Apalagi setelah terpilih presiden dan wakil presiden baru, Joko Widodo dan Yusuf Kalla. Masyarakat berharap dengan sungguh-sungguh, agar dengan presiden dan wakil presiden baru ada perubahan bagi bangsa Indonesia ini secara sifnifikan. Bangsa Indonesia menginkan ada kemajuan, kemakmuran, dan keadilan. Masyarakat menginginkan agar, sekedar mencari pekerjaan atau rizki untuk mempertahankan hidup, tidak perlu harus ke luar negeri.
Tentu, memenuhi harapan dari jumlah penduduk yang sedemikian besar, tidak mudah. Namun, semua yakin bahwa hal itu tidak mustahil bisa dicapai, asalkan menggunakan pendekatan yang tepat. Contoh paling gemilang dalam melakukan perubahan masyarakat secara menyeluruh sebenarnya telah ada, yaitu yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw dalam mengubah masyarakat Arab jahiliyah menjadi masyarakat yang maju dan beradab. Masyarakat yang semula keadaannya dilanda oleh konflik berkepanjangan, terjadi penindasan atas yang lemah, tidak memperhatikan kaum wanita, jauh dari suasana keadilan, dan lain-lain, ternyata berhasil diubah dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Oleh karena yang melakukan dan memimpin perubahan itu adalah seorang utusan Tuhan, yaitu Nabi Muhammad saw., maka gerakan perubahan itu saya sebut sebagai perubahan masyarakat dengan pendekatan prophetik atau kenabian. Ada beberapa hal penting yang perlu dicatat, bagaimana Nabi Muhammad berhasil mengubah masyarakat dalam waktu yang amat singkat. Pertama, Nabi Muhammad membangun kesadaran masyarakat tentang eksistensi dirinya. Bahwa keberadaan manusia di muka bumi adalah sebagai makhluk dan tentu ada Dzat yang menciptakan dan atau membuatnya. Terkait dengan itu, diperkenalkan oleh Muhammad kepada umat manusia tentang Dzat Yang Maha Pencipta, atau konsep tentang Ketuhanan.
Kesadaran tentang ketuhanan itu dianggap penting, sebab berawal hingga berakhirnya kehidupan ini tidak pernah lepas dari kemauan dan kekuasaan Tuhan. Dari mana awal kehidupan ini, untuk apa, dan kemudian akan ke mana adalah pertanyaan mendasar yang harus diketahui jawabnya dan disadari oleh masing-masing orang secara mendalam. Keyakinan tentang konsep ketuhanan itu akan mendasari semua perbuatan manusia baik yang diketahui oleh orang maupun yang tidak. Mendasarkan keyakinan itu maka segala bentuk perbuatan manusia dipandang memiliki makna dan konsekuensi yang jelas. Dalam berekonomi misalnya, maka semua yang dilakukan adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang sangat erat berrkaitan dengan penciptaan mereka itu.
Kedua, melakukan perubahan masyarakat harus ada pembimbing, contoh, tauladan, inspirator, dan bahkan pedoman yang dijadikan sebagai petunjuknya. Pembimbing, tauladan, inspirator itu adalah Nabi Muhammad sendiri. Sedangkan jika dilihat tentang siapa Muhammad itu, maka jawabnya adalah orang yang memiliki sifat mulia, yaitu siddiq, amanah, tabligh, dan fathonal. Nabi dikenal oleh masyarakat sebagai seorang yang terpercaya, apa saja yang dilakukannya hanya untuk Tuhan dan masyarakat yang dilayani, dan dicintainya. Sedemikian besar kepercayaan masyarakat tehadap pemimpin perubahan itu hingga utusan Allah itu diberi julukan al amien, yang artinya adalah orang yang terpercaya.
Ketiga, selain dirinya selalu dijaga oleh Allah dari kesalahan dan dosa atau disebut sebagai seorang maksum, nabi Muhammad di dalam melakukan perubahan masyarakat dibekali dengan kitab suci, yaitu al Qur'an. Lewat petunjuk al Qur'an itulah, Nabi Muhammad sehari-hari melakukan tugasnya di dalam memimpin perubahan masyarakat jahiliyah hingga menjadi masyarakat yang beradab dan bermartabat, hingga hasilnya dikenal dan diakui sampai sekarang ini. Sekalipun sebagai utusan Tuhan, tugas itu ternyata tidak mudah dilakukan. Banyak pihak yang menolak dan bahkan melawan usaha dakwah itu. Orang-orang, yang atas gerakan perubahan itu, merasa akan terganggu atau terugikan, maka mereka berusaha menolak dan bahkan melawannya dengan cara apapun.
Menghadapi resistensi dari para tokoh masyarakat jahiliyah itu, nabi tidak melawan dan atau sekedar berusaha mengalahkan, melainkan menghadapi dengan akhlaknya yang mulia. Sebagai pembawa misi dakwah, tugasnya bukan untuk mengalahkan, dan atau mencari kemenangan, melainkan ia menyadari sepenuhnya bahwa tugasnya adalah mengajak kepada kebaikan, kemuliaan, kesucian, dan kebahagiaan hidup. Ukuran keberhasilan dakwah bukan terletak ketika orang-orang memusuhi menjadi binasa atau hancur, melainkan tatkala mereka itu berubah menjadi masyarakat yang beradab, damai, adil, dan sejahtera hidupnya.
Keempat, hal lain yang perlu diketahui bahwa selain mengajak dan menyerukan bertauhid, Nabi Muhammad memilih tempat yang strategis sebagai basic dakwahnya, yaitu berpindah ke Madinah. Di tempat itu, utusan Allah itu menyatukan dua kelompok masyaraat yang berbeda, yaitu kaum MUhajirin dan Kaum Anshar, mendirikan masjid, membuat perjanjian perdamaian dengan kaum Nasrani dan Yahudi, menyebar luaskan ilmu pengetahuan, menjalankan tugas-tugas yang berkaitan dengan kehiduan masyarakat, memimpin berbagai kegiatan ritual, dan bahkan juga mengembangkan ekonomi untuk mensejahterakan rakyatnya. Nabi dalam kaitannya dengan pengembangan ekonomi, pernah mengambil kebijakan berupa membuka lahan pertanian yang subur dan strategis, yaitu di khaibar. Sebagai catatan penting lainnya, bahwa apa yang dilakukan oleh Rasulullah hingga akhirnya berhasil adalah oleh karena selalu mengedepankan akhlak mulia atau akhlakul karimah.
Akhirnya sudah barang tentu, sejarah kehidupan seseorang tokoh yang hidup dalam waktu yang lama dan mencakup medan yang luas, maka tidak akan mungkin bisa diuangkap lewat tulisan singkat seperti ini. Akan tetapi, gambaran singkat dan sederhana ini kiranya bisa dijadikan sebagai informasi awal, yaitu tentang bagaimana membangun dan atau melakukan perubahan masyarakat hingga akhirnya berhasil secara gemilang. Oleh karena sejarah perubahan masyarakat itu dilakukan oleh seorang utusan Allah, maka konsep dalam tulisan ini sengaja disebut dengan pendekatan prophetik. Bisa saja sementara orang mengatakan bahwa, apa yang dilakukan oleh seorang nabi tidak akan mungkin sepenuhnya bisa ditiru. Namun alasan itu kiranya bisa dipatahkan dengan mengatakan bahwa, untuk apa seorang diutus menjadi contoh atau tauladan, manakala tidak akan bisa dilaksanakan. Atau, jika tidak bisa dilaksanakan sepenuhnya, maka bukankah boleh ditiru sebagiannya. Wallahu a'lam.



