Mensyukuri Presiden Dan Wakil Presiden Baru Telah Dilantik
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 22 Oktober 2014 . in Dosen . 942 views

Baru saja kita semua menyaksikan pergantian kekuasaan di negeri ini dengan suasana yang amat indah. Presiden dan wakil presiden terpilih dilantik menggantikan presiden dan presiden sebelumnya. Presiden dan wakil presiden baru, Ir.H.Joko Widoso dan Dr. (HC) H.Yusuf Kalla menggantikan Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono dan Prof.Dr.H. Budiono, masing-masing sebagai presiden dan wakil presiden pada periode sebelumnya. Ungkapan kegembiraan dan syukur ditunjukkan lewat berbagai caranya masing-masing.

Keindahan pergantian kekuasaan itu menjadi semakin sempurna dengan hadirnya para tokoh pada acara pelantikan dimaksud, sekalipun sebelumnya di antara mereka saling berselisih, tampak menjadi kompetitor, dan atau berseberangan. Secara nyata hati besar dan mulia ditunjukkan oleh Pak Prabowo Subianto dengan cara hadir dalam pelantikan presiden dan wakil presiden yang baru itu.

Menyaksikan pemandangan indah itu, rakyat menjadi senang, gembira, dan berbesar hati bahwa dalam kehidupan bangsa dan negara ini tidak ada sesuatu yang terlalu perlu dikhawatirkan. Para pemimpinnya telah berhasil memberi contoh nyata bagaimana berdemokrasi, membangun persatuan, saling mendukung, menjalin komunikasi, dan atau bersillaturrakhiem dengan baik dan benar.

Berita tentang pertemuan antara dua kubu calon pemimpin yang sebelumnya dirasakan menghangat segera menjadi dingin dan sejuk. Apalagi, ketika di layar televisi, Pak Prabowo sebagai salah seorang tokoh bangsa ini, -----sebagaimana dikemukakan di muka, hadir di Senayan untuk mengikuti pelantikan presiden dan wakil presiden yang baru. Peristiwa itu menjadikan kecintaan, penghargaan, dan kebanggaan rakyat kepada para pemimpinnya semakin sempurna. Bukan saja kepada Pak Joko Widodo dan Pak Yusuf Kalla oleh karena telah memenangkan pemilihan umum, tetapi kecintaan dan kebanggan itu juga terhadap Pak Prabowo, Pak Susilo Bambang Yudhoyono, Pak Budiono, dan lain-lain.

Suasana indah seperti itu belum pernah terjadi sebelumnya. Pergantian presiden dari Bung Karno ke Pak Soeharto, dari Pak Soeharto ke Pak Habibie, dari Pak Habibie ke KH Abdurrahman Wahid, dari KH. Abdurrahman Wahid ke Ibu Megawati Soekarno Putri dan berlanjut ke Pak Susilo Bambang Yudhoyono tidak seindah yang tampak pada tanggal 20 Oktober 2014, yaitu saat pelantikan Presiden dan Wakil Presiden yang baru. Tentu kita berharap, agar kejadian yang indah itu selalu berulang pada setiap pergantian kepemimpinan bangsa ini di masa mendatang.

Setelah Presiden dan Wakil Presiden baru dilantik, maka sudah tidak ada lagi pihak yang merasa paling menang dan sebaliknya, yang merasa kalah. Semua pihak seharusnya merasa menang, yaitu menang telah berhasil memiliki presiden dan wakil presiden baru pilihan rakyat. Kedua pemimpin itu sudah diketahui jejak perjuangannya dalam membela rakyat. Pak Yusuf Kalla pernah menjadi menteri dan wakil presiden. Pak Joko Widodo pernah menjadi wali kota Solo dan juga menjabat sebagai Gubernur DKI. Jabatan yang telah diemban oleh keduanya berhasil dengan baik. Maka, ketika menyebut bahwa, kedua tokoh tersebut sebabagi pemimpin yang baik, secara jelas sudah ada buktinya. Oleh karena itu, seharusnyalah pemimpin bangsa yang baru dilantik ini disyukuri bersama.

Kepada pemimpin baru ini, masyarakat berharap besar agar bangsa ini segera berubah, yaitu berubah menjadi lebih makmur, lebih adil, dan lebih sejahtera. Namun kita harus jujur, bahwa untuk meraih cita-cita itu tidak mudah. Perlu ada usaha keras, niat dan tekat maju bersama, ada kesediaan untuk mengedepankan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan lainnya yang lebih kecil, sempit, dan sederhana, apalagi yang bersifat pribadi atau golongan, adanya kemauan berjuang dan sekaligus berkorban, dan seterusnya. Hal demikian itulah yang seharusnya segera dibangun bersama, baik pada tataran pribadi, kelompok, dan komunitas yang lebih luas, sebagai pertanda rasa syukur bahwa telah memiliki presiden dan wakil presiden baru.

Membangun jalan raya, jalan tol di atas laut, jembatan, perumahan rakyat, menambah lapangan pekerjaan, dan lain-lain, semua itu harus dilakukan oleh karena memang sudah lama menjadi kebutuhan masyarakat. Akan tetapi, hal yang tidak kurang pentingnya lagi adalah, secara bersama-sama ada kemauan membangun dan mencucikan hati masing-masing. Dalam al Qur'an, terkait di dalam membangun kemanusiaan, terdapat kalimat yang indah, yaitu watsiyabaka fathohhir, atau dalam bahasa bebasnya 'dan pakaianmu bersihkanlah'. Untuk membangun kehidupan yang maju, mulia, dan terhormat, maka syaratnya harus ada kesediaan untuk membersihkan atau mensucikan diri terlebih dahulu. Ialah suci dari perilaku jahat, angkara murka, dan sifat-sifat subyektifitas. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up