Selama berkunjung ke Iran, saya diagendakan bertemu dengan Menteri Riset dan Teknologi di kantornya. Namun oleh karena menterinya tidak ada di tempat, maka ditemui oleh Wakil Menteri dan para stafnya. Ada yang menarik dalam pertemuan di kantor itu. Di antaranya adalah nuansa ke-Islamannya. Pada saat itu terasa benar bahwa nilai-nilai Islam ingin ditunjukkan secara lebih nyata di kantor itu.
Nilai-nilai Islam yang saya maksudkan bukan saja misalnya tampak dari kebersihan yang selalalu terjaga mulai bagian depan hingga kamar kecil, atau cara menerima tamu yang baik, tetapi juga sampai pada ada sesuatu yang dinyatakan secara jelas. Sebelum acara penyambutan tamu itu dimulai, setelah Wakil Menteri Riset dan Teknologi datang di tempat, maka ada salah seorang yang membaca beberapa ayat al Qur'an. Selain itu, sebagaimana tradisi di Iran pada umumnya, dilanjutkan dengan membaca shalawat atas nabi secara bersama-sama.
Sekedar membandingkan, di Indonesia, kegiatan di kantor pemerintah yang biasa dilengkapi dengan bacaan al Qur'an hanyalah dalam kegiatan serimonial, misalnya peringatan hari besar Islam, seperti isra' mi'raj, nuzulul Qur'an, dan sejenisnya. Acara-acara resmi lainnya, termasuk menerima tamu tidak akan dilakukan seperti itu. Di Iran, dalam setiap pertemuan, termasuk juga di kampus, sebelum acara resmi dimulai selalu dibacakan ayat-ayat al Qur'an dan shalawat atas nabi.
Wakil Menteri Riset dan Teknologi sebelum memulai untuk memberikan penjelasan tentang kebijakan yang terkait dengan pengembangan riset dan teknologi di Iran, juga menjelaskan tentang arti penting al Qur'an dibaca di berbagai tempat, termasuk di kantor-kantor pemerintah. Pembacaan al Qur'an bukan sebatas didengarkan oleh karena keindahan lagu dan sastranya, melainkan agar apa saja yang dipikirkan, dirasakan, dan dikerjakan di tempat itu untuk kepentingan bangsa Iran selalu diwarnai oleh petunjuk kitab suci.
Dengan maksud tersebut, maka ayat-ayat al Qur'an yang dibacakan ketika itu disesuaikan dengan pembicaraan yang akan dilakukan. Oleh karena di kantor itu berbicara tentang riset dan teknologi, maka beberapa ayat yang dibacakan dipilih yang ada relevansinya dengan pembicaraan itu. Selanjutnya, Wakil Menteri Riset dan Teknologi juga menjelaskan bahwa al Qur'an adalah bersifat universal. Atas dasar angggapan itu, maka kegiatan apa saja yang menyangkut kebaikan, diyakini pasti ada petunjuk dari ayat al Qur'an dimaksud.
Dalam kesempatan itu juga disampaikan bahwa, beberapa staf dan bahkan pejabat di kementerian riset dan teknologi Iran tidak sedikit yang hafal al Qur'an hingga sempurna. Mereka meyakini bahwa, dengan al Qur'an maka kebijakan dan arah yang dikembangkan di negerinya itu tidak akan mengalami kekeliruan. Keyakinan yang demikian itu rupanya sudah menjadi milik bersama bagi semua kalangan di Negera Republic Islam Iran ini. Itulah sebabnya, nuansa ke-Islaman menjadi terasa di mana-mana dan bukan sekedar dirasakan pada saat kegiatan ritual semata. Wallahu a'lam.



