Penghafal Al Qur'an
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 18 Oktober 2014 . in Dosen . 3287 views

Keadaan yang cukup menggembirakan pada akhir-akhir ini adalah semakin banyak kalangan anak muda menghafal al Qur'an. Dulu, kegiatan menghafal kitab suci itu banyak dilakukan oleh para santri pondok pesantren, namun sekarang ini teryata juga dilakukan oleh siswa madrasah, sekolah, dan bahkan oleh mahasiswa di kampus-kampus perguruan tinggi, tidak saja perguruan tinggi Islam, melainkan juga di perguruan tinggi umum.

Pada akhir-akhir ini, tidak sedikit perguruan tinggi negeri umum yang memandang bahwa kecakapan menghafal al Qur'an adalah sebagai kelebihan yang seharusnya mendapatkan penghargaan. Bagi mereka yang hafal al Qur'an dalam jumlah tertentu, selain dibebaskan dari tes masuk juga diberi beasiswa. Kebijakan pimpinan perguruan tinggi seperti itu perlu mendapatkan apresiasi oleh karena telah memberikan penghargaan kepada orang-orang yang dengan kesadarannya melakukan kegiatan yang amat mulia.

Kegiatan menghafal al Qur'an bukan pekerjaan mudah. Tidak semua orang mampu melakukannya. Oleh karena itu menjadi wajar bilamana mereka mendapatkan penghargaan atau apresiasi yang tinggi. Dalam sebuah perjalanan dari Surabaya ke Jakarta beberapa tahun yang lalu, saya mendapatkan pengalaman menarik terkait kegiatan hafalan al Qur'an ini. Seseorang yang duduk bersebelahan dengan kursi yang saya tempati, menanyakan tentang kegiatan saya sehari-hari. Saya menjawab apa adanya, bahwa saya sehari-hari sebagai seorang guru.

Mendengar jawaban saya sebagai seorang guru, ia menanyakan tentang tempat saya mengajar. Ketika saya memberi tahu bahwa saya mengajar di perguruan tinggi Islam, ia segera menanyakan tentang kelebihan lembaga pendidikan yang saya maksud. Secara terus terang, saya menjawab bahwa kelebihannya adalah banyak mahasiswa yang hafal al Qur'an. Jawaban saya itu rupanya menjadikan dia heran, kitab setebal itu dihafalkan. Saya meyakinkan bahwa benar, tidak sedikit jumah mahasiswa hafal kitab suci itu hingga sempurna.

Mungkin saja sebelumnya, ia tidak pernah mendengar adanya orang yang mampu menghafal kitab atau buku setebal itu. Oleh karena itu ia menampakkan keherannya. Mendengarkan sesuatu yang dianggapnya aneh itu, ia lantas bertanya, apakah ada di antara yang menghafal al Qur'an itu memerlukan bantuan, misalnya pembiayaan kuliahnya. Tentu saja, pertanyaan itu saya jawab ada. Setelah semakin jelas atas keterangan saya itu, ia menawarkan, -----kalau diijinkan, akan memberikan beasiswa kepada sekitar 10 hingga 15 orang mahasiswa penghafal al Qur'an pada setiap tahun. Tawaran itu, tentu saya terima.

Namun anehnya, ia mengaku, bahwa dirinya bukan seorang muslim, melainkan penganut agama Budha. Saya memberi penjelasan bahwa, tidak mengapa. Ternyata betul, beberapa minggu kemudian, uang yang dijanjikan itu dikirimkan dan untuk selanjutnya, saya sampaikan kepada mahasiswa yang dimaksudkan itu. Bahkan, orang non muslim yang tertarik dengan kegiatan menghafal al Qur'an dimaksud datang ke kampus. Selain memberikan beasiswa, penganut agama Budha tersebut juga menawarkan kesediaannya untuk membantu sekiranya diperlukan. Ia mengaku tertarik dengan kegiatan mahasiswa yang dianggapnya sebagai luar biasa.

Dalam kesempatan berdialog, seorang non muslim dimaksud menyebut sesuatu kalimat yang menarik, bahwa umpama kitab suci di dunia ini semuanya hancur, terhapus, atau sebab kerusakan lainnya, maka orang Islam masih akan bisa memproduksi kembali kitab sucinya. Sebab, di antara kaum muslimin banyak yang menghafalkannya. Dia juga membayangkan, apakah penganut agama selainnya akan mengalami hal yang sama. Orang Budha yang tertarik dengan mahasiswa penghafal al Qur'an, ternyata mengaku, bahwa belum pernah mendengar ada kitab suci lainnya dihafal sebagaimana menghafal kitab suci agama Islam.

Mendengarkan pengakuan jujur itu, saya sendiri juga menjadi sadar dan membenarkan apa yang disampaikan oleh seorang non muslim tersebut. Bahwa umpama saja,------dan hal itu tentu tidak akan terjadi, semua al Qur'an di dunia ini hancur, maka umat Islam masih akan bisa memproduksi kembali kitab sucinya, yaitu dari mereka yang hafal itu. Itulah kelebihan al Qur'an, selain ditulis juga dihafal oleh umatnya. Jumlah orang yang menghafalkan, dari generasi ke generasi tidak pernah putus, dan bahkan jumlah itu semakin meningkat. Akhirnya, kitab suci ini selalu terjaga. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up