Perguruan Tinggi Riset
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Senin, 6 Oktober 2014 . in Dosen . 1025 views

Pada hari Sabtu, tanggal 4 Oktober 2014, saya diundang oleh Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Mathali'ul Falah (STAIMAFA), Kajen, Jawa Tengah, diminta untuk memberi kuliah umum. Sudah ketiga kali ini, saya diundang oleh pesantren yang dipimpin oleh KH Sahal Mahfudh (alm). Undangan yang pertama dan kedua, kyai Sahal masih ada. Undangan yang ketiga ini disampaikan oleh Gus Rozin (Abdul Ghaffar Rozin), putra kesayangan dan penerus Kyai Sahal Mahfudh.

Saya merasa senang menerima undangan dimaksud, sekalipun mendadak dan waktunya singkat. Kuliah umum di STAIMAFA itu dilaksanakan pada hari yang tidak lazim, yaitu sehari sebelum hari Raya Qurban. Pelaksanaan yang terkesan mendadak oleh karena esuk harinya, Gus Rozin akan berangkat ke Jepang. Mendapatkan undangan itu dan mendengar berita Gus Rozin akan berangat ke luar negeri, saya katakan bahwa, saya bersedia hadir asal Ketuanya ada di tempat. Itulah sebabnya, sekalipun menjelang hari raya kuliah umum dilaksanakan.

Perguruan tinggi ini usianya masih belum begitu lama, seingat saya belum genap 10 tahun. Akan tetapi, saya lihat sudah mengalami kemajuan pesat. Beberapa tahun saya tidak datang ke kampus ini ternyata sudah terasa ada perubahan yang cukup banyak. Fasilitasnya sudah semakin tercukupi, dan begitu pula para dosennya sudah semakin banyak jumlahnya, dan semuanya tampak memiliki semangat yang luar biasa.

Dalam ceramah itu, saya mengatakan bahwa lembaga pendidikan tinggi Islam yang ideal adalah kombinasi antara tradisi pesantren dan perguruan tinggi. STAIMAFA sejak awal sudah mengembangkan konsep ideal itu. Di samping sarana perkuliahan, perpustakaan dan laboratorium, perguruan tinggi Islam ini juga sudah berada di lingkungan dan memiliki tradisi pesantren. Ketika memberi kuliah umum itu, saya mengatakan bahwa, pendidikan tinggi Islam tidak cukup hanya mengikuti standart atau aturan yang digariskan oleh pemerintah dengan mengetrapkan sistem kredit semester (SKS). Tatkala hanya mengikuti standart itu, kualitas lulusannya banyak yang mengecewakan.

Hal menarik yang saya lihat dari konsep pendidikan di STAIMAFA adalah tekadnya untuk menjadikan kampus ini sebagai perguruan tinggi riset. Menurut hemat saya konsep itu sudah benar. Perguruan tinggi itu harus mengedepankan riset. Mengikuti konsep tersebut, maka jiwa dan semangat riset harus dikembangkan di kalangan dosen maupun mahasiswanya. Sehari-hari mahasiswa tidak cukup hanya diajak memahami buku-buku teks, dan mendiskusikan isinya. Mahasiswa harus diajak melihat, mengamati, memperhatikan, dan menganalisis apa saja yang terjadi di lingkungannya sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Tatkala sedang melakukan pengamatan, maka diperlukan berbagai buku teks, dan bimbingan dari dosennya. Hal itu dimaksudkan agar hasil pengamatan dan analisisnya menjadi lebih jelas dan tajam. Dengan cara itu, maka mahasiswa akan terbiasa berpikir atas dasar data di lapangan, dan lebih dari itu statusnya sebagai maha santri, maka pandangannya harus merujuk kitab suci, hadits nabi, dan buah pikiran para ulama' terdahulu. Atas dasar konsep pendidikan seperti itu, mahasiswa sehari-hari juga diajak menulis, berdiskusi, dan berdebat.

Bahkan, mahasiswa seharusnya juga dilatih untuk ikut menyelesaikan problem-problem kehidupan di tengah masyarakat. Laboratorium, perpustakaan, tempat berdiskusi, dan kehidupan masyarakat, bagi seorang mahasiswa dalam perguruan tinggi riset, harus dipandang sebagai sesuatu yang menyatu. Artinya, mahasiswa perguruan tinggi riset dalam menempa dirinya menjadi seorang ahli, seharusnya memanfaatkan berbagai komponen itu.

Sekalipun perguruan tinggi Islam ini berada di wilayah yang jauh dari kota besar, saya yakin konsep itu akan bisa diimplementasikan. Jiwa pesantren yang biasanya lebih bebas, terbuka, berani, fleksibel, dan bertanggung jawab, justru berpeluang untuk membuat terobosan di dalam mencari bentuk baru pendidikan dan pengajaran di perguruan tinggi yang lebih ideal. Oleh karena itu, sebelum datang ke kampus pesantren itu, -----melalui telpun, saya menyampaikan kepada Gus Rozin, agar tidak terlalu meniru pada perguruan tinggi lain. Saya mengatakan, bahwa pesantren jangan membiasakan diri meniru, tetapi harus membuat sesuatu yang bisa ditiru. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up