Konflik Antar Elite Bangsa
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 1 November 2014 . in Dosen . 2457 views

Rasanya memang aneh, para elite bangsa yang seharusna berperan menyelesaikan konflik yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, tetapi justru terlibat di antara mereka sendiri. Para wakil rakyat dan juga elite partai, sebagai pemimpin bangsa, seharusnya memberi contoh terbaik, ----paling tidak, agar masyarakat bersatu, dan hidup penuh dengan kedamaian. Tetapi ternyata tidak begitu. Mereka membentuk kubu yang berbeda, dan antar mereka bersaing dan bahkan konflik berebut posisi yang seharusnya tidak boleh terjadi.

Rakyat sendiri setelah presiden dan wakil presiden baru dilantik terasa tidak ada gejolak apa-apa. Mereka sudah merasa memiliki presiden yang dipilih melalui prosedur dan cara-cara yang bisa diterima. Jika ada sementara pihak yang kurang puas, hal itu dianggap biasa. Pemilihgan umum sebagai sebuah kompetisi atau persaingan ketika terdapat kekurangan adalah hal biasa. Dalam sebuah pertandingan tidak ada sesuatu yang sempurna dan bisa mendatangkan rasa puas bagi semua orang. Pandangan seperti itu justru sudah dipahami oleh rakyat.

Oleh karena itu manakala para wakil rakyat masih harus berkubu-kubuan yang kemudian berbuah konflik, maka pertanyaan yang kiranya tepat diajukan adalah, konflik mereka itu sebenarnya mewakili siapa. Sudah jelas, bahwa rakyat sendiri di tingkat bawah sudah tidak ada lagi persoalan serius dan perlu dipecahkan. Rakyat hanya menunggu janji-janji para pemimpin bangsa tatkala dulu berkampanye, baik dari kalangan eksekutif maupu legislatif. Harapan masyarakat ke depan adalah agar pemerintahan baru berhasil membawa rakyat semakin makmur, adil, dan sejahtera. Rakyat tidak memerlukan konflik antar elite. Sebaliknya yang diberikan adalah kedamaian.

Tontonan yang tidak kalah menarik lagi pada akhir-akhir ini adalah juga konflik di kalangan partai politik Islam, yaitu PPP. Selama ini partai politik dari hasil fusi beberapa partai politik Islam itu belum dikenal sebagai partai besar. Bahkan beberapa pihak mendapatkan kesan bahwa PPP adalah partainya orang tua. Perolehan suara mereka dari pemilu ke pemilu juga tidak terlalu besar dan menonjol. Sehingga pertanyaannya adalah, mengapa mereka masih sempat berpecah belah dan berebut serta menganggap bahwa kubunya yang syah sedangkan lainnya tidak. Tatkala bersatu saja, mereka tidak menang bersaing dengan partai lainnya, maka apalagi setelah berpecah belah, tentu mereka akan semakin berat memperoleh simpatik dari masyarakat.

Baik konflik antar elite di DPR maupun di PPP pada akhir-akhir ini sebenarnya tidak tampak disebabkan oleh perbedaan pandangan yang prinsipil, misalnya berbeda di dalam melihat sesuatu yang mendasar atau oleh karena perbedaan idiologi di antara mereka. Rupanya perbedaan itu hanya terkait sesuatu yang bersifat sederhana, yaitu menyangkut hal-hal yang praktis dan pragmatis. Oleh karena itu maka seharusnya, perbedaan itu bisa diselesaikan melalui dialog, kompromi, saling memahami, dan sama-sama menguntungkan. Orang politik biasanya cerdas di dalam menyelesaikan konflik dan perbedaan pandangan.

Di mana-mana konflik, apalagi di ranah politik selalu membawa resiko atau korban yang tidak sederhana. Oleh karena itu kejadian dimaksud seharusnya dihindari. Partai politik yang kaya konflik biasanya dianggap belum dewasa. Selain itu, konflik yang biasanya sulit dihindari itu akan membuahkan kelemahan, dan juga akhirnya berakibat kekalahan. Konsekuensi seperti itu sebenarnya sudah diketahui oleh banyak kalangan, dan apalagi orang-orang politik. Seharusnya, para elite politik mampu bersikap dewasa, dan mampu menyelesaikan berbagai perbedaan itu lewat cara-cara yang lebih elegan dan terhormat.

Konflik di kalangan rakyat pada umumnya bisa diselesaikan oleh para elitenya. Hal yang tidak mungkin adalah sebaliknya. Yaitu ketika para elite politik berkonflik, maka rakyat tidak akan bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya akan menonton, terheran-heran, dan bertanya-tanya, mengapa sudah menjadi elite dan pemimpin bangsa, ternyata masih saling berebut dan konflik sendiri. Mudah-mudahan, apa yang mereka lakukan tidak sampai dicontoh oleh rakyat, terutama generasi muda yang memang sedang membutuhkan tauladan kehidupan yang ideal dan terbaik. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up