Tatkala bekerja bersama-sama, agar sukses, maka yang tidak boleh dilupakan dan apalagi ditinggalkan, ialah bersatu. Tanpa persatuan , siapa pun, di mana dan kapan pun, tidak akan pernah sukses. Unit terkecil masyarakat, semisal keluarga, yang hanya terdiri atas seorang ayah, ibu, anak, dan pembantu, manakala keluarga itu sehari-hari terjadi ketegangan, konflik, sama-sama mencari menangnya sendiri, maka keluarga itu tidak akan mengalami kemajuan, atau sukses.
Apabila keluarga yang berukuran kecil saja, agar kehidupannya sukses, mensyaratkan persatuan, maka apalagi organisasi yang lebih besar, dan tidak terkecuali adalah kampus perguruan tinggi. Persatuan selalu menjadi syarat maju dan berkembang. Dalam skala yang lebih besar lagi, pada akhir-akhir ini dengan mudah kita lihat, bahwa negara-negara yang pernah mengalami kejayaan, tetapi kemudian oleh karena dilanda perpecahan, maka akhirnya menjadi prak poranda.
Kita lihat negara-negara yang dilanda konflik itu misalnya Irak, Libya, Siria, Sudan, Yaman, Mesir, dan masih banyak lagi lainnya. Mereka tidak sempat membangun negeri dan masyaraatnya oleh karena persoalan perpecahan di dalam negeri. Kegagalan di dalam menjaga persatuan, negara itu menjadi tidak sempat mengurus berbagai persoalan lainnya yang seharusnya diselesaikan.
Institusi berskala kecil, yang seharusnya tidak terjadi, tetapI juga seringkali dilanda konflik adalah perguruan tinggi, dan bahkan tidak terkecuali adalah perguruan tinggi Islam. Sekalipun Islam mengajarkan tentang betapa pentingnya persatuan, tetapi pada kenyataannya juga tidak pernah sepi dari konflik. Akibatnya, perguruan tinggi yang tidak mampu menjaga persatuan itu, juga sama dengan lainnya yang mengalami perpecahan, mereka tidak pernah maju.
Anehnya, konflik di perguruan tinggi bersumber dari aspek kecil dan atau amat sederhana, misalnya perbedaan afiliasi organisasi, perbedaan suku, aliran keagamaan, dan sejenisnya. Umpama perbedaan itu menyangkut pemahaman terhadap ilmu yang dikembangkan, maka mungkin justru penting. Sebab dengan perbedaan dalam hal sebagaimana disebutkan itu akan mendorong orang untuk berpikir dan meneliti kembali secara lebih mendalam.
Akan tetapi jika perbedaan itu hanya menyangkut afiliasi organisasi, suku, jabatan, dan sejenisnya adalah sangat disayangkan. Perbedaan yang terkait hal-hal yang bersifat primordial dan kemudian melahirkan konflik, maka sebenarnya hal itu menunjukkan bahwa warga institusi perguruan tinggi itu belum menghayati benar eksistensinya. Lebih sederhana dari itu, sekalipun mereka berada di institusi yang seharusnya mengembangkan rasionalitas, obyektivitas, keterbukaan, dan keberanian, ternyata masih sama saja dengan masyarakat luas lainnya.
Gambaran dimaskud terasa aneh, akan tetapi ternyata justru itulah yang banyak terjadi. Kita bisa menyaksikan sendiri tatkala institusi perguruan tinggi itu sedang melakukan suksesi kepemimpinan. Di antara mereka berkelompok dan bersaing, bukan mendasarkan pada kepentingan pengembangan keilmuan, profesionalitas, kemampuan membangun jaringan, dan apalagi kehebatan visi dan misinya di masa depan yang akan dikembangkan, melainkan adu kekuatan berbasis idiologi, kultur, adat istiadat, atau semacamnya itu.
Akibat dari terlalu kuatnya ikatan primordial itu, maka selain rentan terjadi perpecahan dan amat sulit dipersatukan, maka perguruan tinggi dimaksud juga sulit mengalami kemajuan. Saya telah mengamati kenyataan itu dalam waktu lama dan jumlah yang banyak, bahwa konflik di kalangan perguruan tinggi Islam, ternyata banyak bersumber dari aspek yang bersifat primordial itu, misalnya perbedaan organisasi social keagamaan, aliran, dan bahkan di beberapa daerah, -----lebih lucu lagi, yaitu mendasarkan pada kesamaan tempat kelahiran atau suku itu.
Beberapa lembaga pendidikan tinggi Islam yang kebetulan mengalami kemajuan, saya lihat dengan jelas adalah tatkala mereka berhasil menyelesaikan persoalan primordial hingga menjadikan mereka bersatu itu. Akan tetapi, bagi mereka yang gagal merawat persatuan, sekalipun mereka telah disediakan anggaran yang cukup, maka disadari atau tidak, anggaran itu hanya akan digunakan untuk menyelesaikan konflik, dan bukan untuk pengembangan kampus atau akademiknya.
Oleh karena kunci kemajuan itu adalah perstuan, maka sebenarnya yang perlu dipelihara adalah bagaimana mempersatukan internal kampus itu. Perkara ini sebenarnya tidak mudah dilakukan, namun jika diketahui cara atau pendekatannya, maka tidak ada sesuatu yang tidak bisa dipecahkan. Untuk menekan agar tidak terjadi konflik, maka yang seharusnya dilakukan oleh pimpinannya adalah mengakomodasi semua unsur, elemen, atau kelompok-kelompok yang ada di lembaga itu. Mereka itu semua tidak perlu ditekan atau dibuntu aspirasinya, melainkan harus diberi saluran secara adil untuk hidup dan berkembang. Wallahu a'lam.



