Kyai Yang Meneduhkan
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Senin, 3 November 2014 . in Dosen . 1316 views

Suasana tenteram, teduh, dan damai selalu disukai oleh banyak orang. Akan tetapi suasana seperti itu tidak selalu didapatkan dengan mudah, termasuk di dalam kehidupan keagamaan. Lewat agama, orang berkeinginan agar memperoleh kedamaian, tetapi pada kenyataannya tidak selalu demikian yang mereka peroleh. Di dalam kehidupan keagamaan pun juga terjadi perbedaan pendapat, konflik, saling mengklaim tentang kebenaran yang juga berakibat permusuhan.

Kegiatan ritual dalam kehidupan beragama pada hakekatnya adalah sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Hubungan itu bersifat vertikal, yakni antara mereka yang menjalankan kegiatan ritual itu dengan Tuhan. Pada saat itu, semua pikiran dan perasaan seharusnya hanya tertuju atau dikonsentrasikan kepada-Nya.

Kualitas kegiatan ritual itu hanya Tuhan sendiri yang tahu. Demikian pula, apakah kegiatan itu diterima atau tidak, maka juga tidak ada seorang pun yang bisa ikut campur. Boleh-boleh saja, pihak lain menilai bahwa ritual seseorang sudah benar atau masih salah, masih kurang atau belum sempurna, dan seterusnya. Akan tetapi oleh karena kegiatan ritual selalu melibatkan aspek batin, maka menjadi tidak ada seorang pun yang berhasil mengetahui sebenarnya hakekat kualitas ritual itu.

Namun aneh, seringkali terjadi perdebatan, atau saling menyalahkan antar sesama terhadap kegiatan dimaksud. Apa yang dilakukannya dianggap benar, sementara itu yang dikerjakan orang lain dinilai salah. Seolah-olah salah atau benar dalam kegiatan ritual bisa diukur atau dinilai secara sederhana oleh orang lain. Padahal belum tentu, ritual yang dianggap salah itu benar-benar salah, dan begitu pula sebaliknya. Bukankah sebenarnya, bahwa yang berhak menerima kegiatan ritual itu hanyalah Tuhan sendiri.

Menghadapi terjadinya saling menyalahkan terhadap kegiatan ritual itu, saya pernah mendengarkan ceramah dari seorang kyai yang saya anggap sangat arif dan atau bijak. Tatkala memberi ceramah, ulama tersebut selalu berorientasi agar umat itu bersatu, tenteram, dan damai. Kyai itu mengajak agar perbedaan itu tidak dianggap sebagai sesuatu serius dan tidak menjadikan tali sillaturrakhiem antar sesama terputus.

Sebagai dasar untuk menjelaskan pandangannya itu, kyai dimaksud mengungkapkan kisah-kisah yang terjadi di zaman nabi. Dijelaskan bahwa, sebenarnya munculnya perbedaan dalam menjalankan kegiatan ritual itu sudah ada sejak zaman rasulullah. Namun tatkala terjadi perbedaan di antara sahabat dan atau umat, selalu diselesaikan dengan baik tanpa mengganggu tali sillaturrakhiem.

Dikisahkan bahwa, suatu ketika para sahabat berkumpul untuk membicarakan sesuatu yang dianggap penting. Di tengah-tengah pertemuan itu, masuk waktu shalat. Sudah barang tentu, mereka segera menjalankannya. Namun ketika itu, ternyata tidak ada air untuk berwudhu. Para sahabat bersepakat untuk bertayamum. Tidak lama selesai shalat, ternyata jatuh hujan. Mengetahui bahwa ada air itu, para sahabat terbelah. Sebagian mengusulkan untuk berwudhu dan shalat lagi, sementara yang lain mencukupkan shalat yang sudah dikerjakan sekalipun hanya dengan tayamum.

Perbedaan pendapat di antara para sahabat tersebut dilaporkan kepada nabi untuk mendapatkan keputusan yang paling benar. Kyai dimaksud menjelaskan, ternyata nabi menyatakan bahwa kedua-duanya adalah benar. Kisah serupa yang masih terkait dengan perbedaan pelaksanaan ritual adalah tentang shalat di perjalanan. Nabi bersama-sama shahabatnya berkunjung ke suatu daerah. Di tengah perjalanan, nabi menganjurkan, agar tidak terjadi saling mengganggu, maka supaya shalatnya dilaksanakan setelah melewati perkampungan Yahudi saja.

Atas anjuran nabi itu, beberapa shahabat mengkhawatirkan akan kehabisan wahtu shalat, sehingga anjuran nabi itu diabaikan. Mereka shalat di perkampungan Yahudi tanpa sepengetahuan nabi. Sedangkan para shahabat lainnya bersikukuh mengikuti nabi. Mereka berpendapat bahwa, apapun urusan agama harus mengikuti utusan Allah itu. Selanjutnya, perbedaan pandangan itu dilaporkan kepada nabi, dan ternyata Rasulullah membenarkan keduanya.

Kisah yang disampaikan oleh kyai tentang terjadinya perbedaan kegiatan ritual dan penyelesaian yang dilakukan oleh nabi tersebut tentu membawa suasana damai, teduh, dan menenteramkan. Kyai tidak menjelaskan tentang sanad hadits itu, apakah shaheh atau tidak, tetapi yang jelas, persatuan umat menjadi tetap terpelihara.

Umpama saja, para tokoh, ulama, dan juga para kyai, di dalam, membina umat selalu berorientasi pada persatuan, maka sebenarnya bahan atau bahkan dasar pijakan itu cukup banyak. Namun sayangnya, perbedaan yang menimbulkan perpecahan dan terputusnya tali sillaturrakhiem itu, oleh kebanyakan tokoh, justru dipelihara. Sayang, tidak terlalu banyak kyai, ulama, dan tokoh yang lebih mengedepankan persatuan. Padahal perpecahan itu selain tidak ada untungnya juga menjadikan umat semakin lemah. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up