Pada setiap tanggal 10 Nopember, bangsa Indonesia memperingati hari pahlawan. Pada tanggal tersebut, tepatnya tanggal 10 Nopember 1945 terjadi perang yang amat dahsyat antara para pejuang di surabaya dengan tentara Inggris yang ingin kembali menguasai Indonesia sebagai penjajah.
Perlawanan para pejuang di Surabaya yang hanya menggunakan senjata seadanya, dipimpin oleh Bung Tomo, atas semangat jihad dengan mengumandangkan suara takbir 'Allahu Akbar', berhasil memporak-porandakan pasukan tentara Inggris yang bersenjatakan lengkap dan modern. Atas serangan itu, komandan perang Inggris, Brigadir Jendral A.W.S Mallaby tewas.
Kisah patriotik rakyat Indonesia di dalam melawan penjajah hingga harus mengorbankan segalanya, baik jiwa maupun raganya, menunjukkan ketauladanan yang luar biasa besar dan mulianya. Tatkala sesuatu adalah untuk membela negara dan bangsa, maka apapun dikorbankan. Membela bangsa dan negara disama artikan dengan membela kehormatan, harga diri, harkat dan martabat sehingga harus dilakukan.
Penjajah dianggap musuh bersama yang harus diusir dari negeri dan atau tumpah darahnya. Semangat dan kebersamaan itu ternyata menjadi kekuatan yang luar biasa, hingga berhasil mengalahkan musuh sekalipun mereka memiliki persenjataan yang jauh lebih unggul. Para pejuang itu hanya dihadapkan pada dua pilihan, yaitu mati atau menang.
Semangat perjuangan yang luar biasa tersebut sebenarnya didasari oleh suasana batin, yakni ingin menjadikan bangsanya terhormat, bermartabat, atau memiliki harga diri di tengah-tengah bangsa-bangsa lainnya. Mereka berjuang agar tidak dipandang rendah oleh bangsa lain, dianggap sebagai babu, bodoh, terbelakang, dan hanya diperintah untuk kepentingan orang lain.
Kini penjajah itu telah pergi. Indonesia telah merdeka. Namun apakah harkat dan martabat, harga diri dan atau kehormatan itu telah benar-benar berhasil dinikmati. Sudah barang tentu kita mampu dan berhak menjawabnya. Cita-cita besar para pahlawan itu sebenarnya telah berhasil diraih, sekalipun baru oleh sebagian masyarakat. Sedangkan sebagian yang lain masih seperti dulu ketika belum merdeka. Mereka masih miskin, tertinggal, dan bahkan juga ada yang belum mengenyam pendidikan secara memadai.
Oleh karenanya perjuangan itu sebenarnya belum selesai. Apa yang diinginkan oleh para pahlawan untuk mengangkat harkat dan martabat, harga diri, dan juga kehormatan bangsa ini belum sepenuhnya terwujud. Seharusnya, perjuangan itu masih terus dikobarkan, bukan untuk mengusir penjajah, melainkan adalah untuk mengentaskan kemiskinan dengan berbagai cara dan pendekatan, pemberantasan kebodohan, dan keterbelakangan.
Mengingat kembali dan meneladani jiwa patriotisme para pahlawan, maka generasi sekarang ini seharusnya juga merasa terpanggil untuk berjuang dan sekaligus berkorban untuk bangsa dan negaranya. Keberhasilan yang baru bersifat pribadi harus dirasakan tidak memiliki arti apa-apa sebelum memberi manfaat untuk meraih keberhasilan bersama. Harkat dan martabat serta kehormatan bangsa dan negara tidak akan terangkat selama masih banyak rakyatnya yang terbelakang, miskin, menganggur, dan tidak berpendidikan. Itulah kira-kira pesan mendasar para pahlawan yang dulu berjuang dan sekaligus telah mengorbankan segalanya. Wallahu a'lam.



