Bagi orang yang sudah mempelajari Islam dan memahaminya, ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw itu dianggap amat indah. Tidak ada cacat atau kekurangan sedikitpun. Manakala ajaran itu berhasil diimplementasikan sehari-hari, maka kehidupan ini akan menjadi aman, tenteram, dan damai. Kedamaian itu tidak saja terhadap pemeluknya sendiri, tetapi juga akan dirasakan oleh pihak lain.
Sebagai bentuk kecintaan dan wujud tanggung jawab agar keindahan Islam itu tetap terjaga, maka orang atau sekelompok orang mengambil langkah yang dianggapnya paling benar. Islam harus dibela. Seolah-olah Islam selalu memiliki musuh atau penganggu. Maka, musuh atau penganggu itu harus disingkirkan dan atau boleh diperlakukan dengan cara lain yang lebih keras.
Upaya untuk menjaga Islam dengan cara kekerasan atau berlebihan seringtkali justru menjadikan Islam tidak tampak indah. Sementara orang mengira bahwa dengan kekerasan keindahan Islam menjadi terjaga. Tanpa disadari oleh yang bersangkutan, bahwa cara yang dilakukan itu justru memberikan gambaran bahwa Islam itu keras dan boleh dipaksakan kepada siapa saja. Padahal tidak demikian itulah halnya.
Sewaktu masih kecil dan bertempat tinggal bersama ayah dan ibu di pedesaan, seringkali saya diajari bagaimana berdakwah. Kebetulan ayah dan ibu saya, sekalipun berskala kecil, yakni hanya ditingkat pedesaan, sehari-hari melakukan dakwah di kalangan masyarakat, baik melalui pendidikan, cemamah, dan lain-lain. Apa yang diajarkan itu, saya kira, selain berdasarkan pengetahuan yang diperoleh dari kitab yang dibaca juga dari pengalamannya sehari-hari yang diperoleh secara langsung tatkala menghadapi masyarakat.
Ayah saya seringkali menjelaskan bahwa, menyampaikan ajaran Islam kepada orang yang sama belum mengenalnya, diumpamakan dengan menyuapi anak kecil. Sebetulnya anak kecil pasti memerlukan makanan. Mereka juga lapar. Tidak mungkin orang dan juga anak keciul tidak membutuhkan makanan. Akan tetapi, bagi anak kecil, makan tidak selalu mudah. Kadangkala, menyuapi anak kecil, memerlukan kesabaran dan bahkan juga strategi yang tepat.
Menyuapi dengan cara keras, atau dengan paksaan, maka anak kecil yang disuapi itu akan merasa tersiksa. Memang mereka membutuhkan makanan, tetapi tidak mau jika diberikan dengan cara keras atau dipaksa. Menurut penjelasan ayah saya, anak kecil juga memerlukan cara yang tepat, diperlakukan secara sabar dan halus, dan bahkan seolah-olah tidak disadari olehnya bahwa ia sedang disuapi. Oleh karena itu bagi orang tua yang bijak, tatkala sedang menyuapi, anaknya dibawa ke tempat yang indah, diletakkan di ayunan, dan digoyang, hingga tatkala sedang merasa enak, baru makanannya dimasukkan ke mulut anaknya hingga selesai.
Umpama saja dalam memberi makanan kepada anak kecil dilakukan dengan kasar, makanannya dimasukkan ke mulutnya dengan paksa, maka anak kecil yang dimaksudkan itu akan merasa tersiksa. Sebenarnya mereka membutuhkan makanan, tetapi kedatangan makanan dirasakan sama halnya dengan datangnya penyiksaan. Akhirnya makanan dianggap menjadi sesuatu yang menakutkan, buruk, dan menyiksa, sekalipun mereka itu membutuhkannya.
Menjaga Islam yang indah itu, ternyata masih membutuhkan cara-cara yang tepat atau bijak. Seperti menyuapi anak kecil sebagaimana dikemukakan di muka, maka menjaga dan menyampaikan ajaran Islam yang indah kepada orang yang belum memahami, ternyata juga harus dilakukan dengan sabar, tekun, dan melalui cara-cara yang enak dan menyenangkan.
Menjaga keindahan Islam tidak harus dengan cara kekerasan atau hingga menyakiti orang lain. Jika hal itu dilakukan, maka keindahanh Islam justru akan tertutupi oleh cara yang kurang tepat itu, dan Islam akan menampakkan wajah keras dan serba memaksa. Padahal Islam sebenarnya tidak seperti itu. Islam memang harus disampaikan dan dijaga, tetapi harus dilakukan dengan pendekatan yang indah atau bil hikmah. Wallahu a'lam.



