Menumbuhkan Dan Memelihara Semangat Belajar
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 7 November 2014 . in Dosen . 2100 views

Salah satu kunci sukses apapun adalah semangat. Orang yang memiliki semangat, maka kemungkinan besar, ia akan akan berhasil, tidak terkecuali adalah dalam kegiatan belajar. Namun pada kenyataannya, semangat itu tidak selalu konstan. Kadang ada dan bahkan kuat sekali, tetapi pada saat lainnya, semangat itu berkurang, dan bahkan menjadi hilang. Perlu diakui bahwa, ada waktu-waktu tertentu semangat atau gairah itu menurun hingga titik terendah.

Begitu pula dalam hal belajar, seseorang kadang sedemikian bersemangat. Membaca buku berjam-jam dijalani seolah-olah tidak ada perasaan lelah. Kegiatan itu menjadi terasa nikmat. Akan tetapi, pada saat lainnya gairah belajar itu menjadi hilang. Buku yang ada di atas meja atau di rak tidak menarik. Semangat belajar dan atau membaca menjadi hilang.

Sejak lebih dari setahun tidak lagi memimpin perguruan tinggi, saya justru sering didatangi mahasiswa. Pada saat itu bermacam-macam pertanyaan diajukan, tidak terkecuali adalah bagaimana mempertahankan semangat belajar. Mereka mengira, bahwa sejak dulu saya selalu memiliki semangat tinggi dalam belajar sebagaimana saya selama ini selalu konsisten menulis dalam waktu yang cukup lama.

Tentu dugaan itu tidak sepenuhnya benar. Sebagai manusia biasa, saya pun juga kadang bersemangat, tetapi pada saat lain, semangat itu juga menurun. Akan tetapi, tatkala semangat itu sedang menurun, saya berusaha menumbuhkan kembali. Usaha itu saya lakukan dengan cara misalnya, segera berkhayal atau berimajinasi tentang tugas dan tantangan di masa depan. Selain itu, saya juga melakukan dengan cara bersillaturrakhiem pada orang-orang yang saya anggap sukses di dalam hidupnya.

Berimajinasi atau berkhayal tentang tantangan masa depan, -----bagi saya, adalah cara paling mudah dan murah untuk menumbuhkan gairah belajar. Ketika masih kuliah, saya membayangkan bahwa setelah kelak menjadi sarjana, saya harus mampu berbahasa Inggris, Bahasa Arab, harus bisa berceramah, menyusun makalah, mampu bergaul dengan para ilmuwan, memiliki banyak ide dan pendapat, pandai berargumentasi hingga mudah dipahami dan dipercaya orang.

Ketika itu, saya membayangkan bahwa, tuntutan berat seperti itu pasti akan datang dan saya harus mampu menghadapinya. Pikiran saya selalu mengatakan bahwa, saya tidak boleh gagal, menyerah, dan kalah tatkala tantangan itu sudah benar-benar datang. Pada setiap saat, saya merasa harus mempersiapkan diri terhadap kemampuan itu sebaik-baiknya. Saya harus mampu berbicara di depan banyak orang, menulis secara baik, dan tangguh menghadapi persoalan yang datang dari mana dan dari siapapun.

Kemampuan tersebut, menurut keyakinan saya, bisa dilatih, dipupuk, dan dibiasakan hingga maksimal. Terhadap bekal itu, saya selalu memandangnya tidak pernah cukup. Oleh karena itu, harus selalu ditambah tanpa mengenal berhenti. Saya pernah mendapatkan hadits nabi yang sedemikian menginspirasi, yaitu terkait dengan pelajaran yang harus diberikan kepada anak-anak agar mampu hidup mandiri, ------satu di antaranya, ialah supaya diajari berenang. Kata berenang saya tangkap maknanya adalah agar selalu bergerak. Sebab tidak pernah ada orang berenang yang berhenti bergerak. Manakala berhenti, maka akan segera tenggelam dan kemudian mati.

Bakat, kemampuan, dan kecakapan yang dimiliki oleh seseorang harus selalu digerakkan, diaktifkan, atau dilatih kembali. Manakala kecakapan dan bakat itu tidak diperlakukan seperti itu, maka tidak akan tumbuh dan berkembang, melainkan justru sebaliknya, yaitu akan mati. Oleh karena itu pantas saja, para juara olah raga, seperti pemain sepak bola, petinju, dan lain-lain masih tetap saja berlatih. Demikian pula kecakapan lainnya seperti menulis, berbahasa asing, berceramah, dan lain-lain adalah sama. Manakala tidak dilatih dan dibiasakan, maka akan hilang dengan sendirinya.

Selain itu, untuk menjaga semangat atau gairah, sebagai orang yang berada di perguruan tinggi, dan harus aktif di bidang pengembangan ilmu, maka saya selalu berusaha bergaul dan bersillaturrakheim dengan orang-orang yang mencitai ilmu. Saya katakan kepada mahasiswa, sejak lama saya mengenal tokoh-tokoh ilmuwan baik tingkat lokal maupun nasional, misalnya Prof. Kuntjaraningrat, Prof. Selo Soemardjan, Dr. Nur Cholis Madjid, Dr. Muslim Abdurrahman, Dr. Taufiq Abdullah, Prof. Mattulada, Prof. Dawam Rahardja, KH Abdurrahman Wahid, Prof. Noeng Muhadjir, Dr. Muchtar Buchari, Dr. Immadudin Abdurrachiem, Prof. Syafi'i Maarif, Djasman al Kindi, dan masih banyak lagi lainnya.

Pertemuan dengan para tokoh, cendekiawan, dan para ulama, serta sekaligus membaca buku-bukunya akan berhasil menambah semangat, wawasan, dan gairah untuk selalu belajar. Setiap bertemu dengan para tokoh dimaksud, saya selalu berusaha untuk menangkap, menyerap dan mengambil pengalaman serta pengetahuan mereka itu. Melalui cara-cara seperti itu, maka semangat dan gairah untuk belajar dan menambah ilmu pengetahuan selalu tumbuh dan tidak pernah surut dan apalagi padam dalam waktu lama. Saya sampaikan kepada mahasiswa bahwa, jika semangat itu melemah, maka lewat kegiatan dimaksud akan segera tumbuh dan bangkit kembali. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up