Meributkan Kurikulum
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 28 November 2014 . in Dosen . 1912 views

Kurikulum itu memang penting. Tanpa kurikulum, pendidikan tidak akan terarah. Para guru akan mengajar semuanya. Demikian pula, tanpa kurikulum, para siswa juga tidak akan belajar secara fokus, sehingga hasilnya tidak akan jelas. Maka timbul pendapat, bahwa kurikulum sangat menentukan kualitas hasil lulusan pendidikan. Sedemikian pentingnya hal itu, maka pemerintah selalu ikut campur di dalam menentukan kurikulum bagi berbagai jenis dan jenjang pendidikan.

Namun demikian, juga masih ada sementara orang yang mengatakan bahwa, kurikulum itu sekedar alat. Hasil pendidikan bukan tergantung pada kurikulum, melainkan pada guru yang mengajar. Manakala lembaga pendidikan memiliki guru yang berkualitas, maka mereka itu tidak saja bisa mengajar dengan baik, tetapi juga akan mampu menyusun kurikulum dan sekaligus menentukan bahan pelajaran secara baik pula. Oleh karena itu kurikulum penting, tetapi ada lagi yang penting, yaitu para guru-gurunya.

Sekolah semestinya memiliki guru yang berkualitas hingga disebut sebagai seorang ahli, yang tugasnya sehari-hari mengajar dan mendidik para siswanya. Misalnya ahli bahasa Indonesia, ahli Bahasa Inggris, ahli fisika, ahli kimia, ahli matematika, ahli ekonomi, ahli sejarah, dan seterusnya. Keahlian mereka juga teruji dan terpercaya. Sebagai guru yang berkeahlian tertentu, maka mereka juga selalu berusaha meningkatkan kemampuan yang dimilikinya itu. Sebagai seorang ahli, mereka malu manakala dianggap tidak melakukan improvisasi kemampuannya.

Keahlian para guru juga seharusnya diakui dan dikagumi oleh para siswanya. Mereka belajar kepada para gurunya, bukan karena terpaksa, tetapi oleh karena mereka ingin menyerap keluasan dan kedalaman ilmunya. Guru yang diakui dan bahkan dipercaya itu bukan oleh karena baru saja ditatar atau telah lulus sertifikasi, tetapi memang sejak lama dikenal memiliki keahlian itu. Sebagai seorang guru bahasa Inggris, memang sejak lama diketahui ia mahir di dalam bahasa Inggris. Para siswa belajar kepada seorang guru fisika pilihannya, oleh karena guru dimaksud dikenal berkeahlian di bidang fisika, dan seterusnya.

Para guru yang kualitas keilmuannya diakui seperti itulah sebenarnya yang harus dimiliki oleh lembaga pendidikan. Para calon siswa memilih lembaga pendidikan itu oleh karena di tempat itu terdapat para guru yang berkualitas. Mereka ingin belajar berbagai ilmu kepada orang-orang yang memang benar-benar menyandang dan menguasai ilmunya. Sekalipun tidak ditatar tentang cara mengajar, manakala para guru yang bersangkutan berkualitas atau menguasai ilmunya, maka mereka akan mampu mengajar dengan baik.

Bahkan para guru yang berkualitas itu, selain mampu memilih metode mengajar yang tepat, juga memiliki ketrampilan dalam menyusun bahan pelajaran sendiri. Mereka akan mengetahui betul tentang bagaimana mengajarkan ilmunya secara baik, termasuk juga cara mengevaluasinya. Guru yang berkeahlian tidak perlu dikhawatirkan lagi. Mereka mencintai ilmu dan profesinya, sehingga setiap waktu akan mengembangkannya. Selain itu, mereka akan mencintai murid-murid yang belajar kepadanya.

Atas dasar pandangan itu, maka di dalam mengembangkan kualitas pendidikan seharusnya ada keberanian untuk memberikan perhatian khusus kepada guru. Para guru harus diberi keleluasaan dan kepercayaan sepenuhnya untuk mengembangkan keilmuan, pribadi, dan profesionalitasnya. Membatasi dan apalagi mengatur-atur guru secara berlebihan sebenarnya justru akan mamatikan semangat dan kreatifitas guru itu sendiri. Guru harus diberi keleluasaan untuk mengembangkan jiwa guru, harus merasa dipercaya, dan suasana merdeka. Dengan modal itulah, mereka akan mengembangkan jati dirinya.

Jika lembaga pendidikan telah memiliki guru yang berkualitas seperti dimaksudkan itu, maka sebenarnya kurikulum tidak perlu diributkan. Menggunakan kurikulum apa saja, manakala para gurunya berkualitas maka hasilnya akan berkualitas pula. Sebaliknya, sekalipun kurikulumnya telah dianggap bagus, sarana dan prasarana pendidikannya telah dicukupi, dan para gurunya telah ditatar, tetapi makakala suasana pendidikan tidak kondusif, yaitu misalnya, jiwa para gurunya tertekan, siswanya hanya belajar untuk memenuhi tuntutan formalitas, dan sejenisnya, maka hasil pendidikan itu tidak akan maksimal.

Proses pendidikan tidak saja melibatkan hal yang bersifat fisik, tetapi juga menyangkut hati, akal, dan perasaan. Mengabaikan aspek-aspek seperti itu, maka sama halnya dengan mengabaikan sifat atau karakteristik manusia yang sangat berpengaruh pada pendidikan itu sendiri. Mengurus pendidikan tidak sederhana, tetapi banyak aspek yang harus diperhatikan. Kurikulum penting, tetapi jangan sampai lelah dan kehabisan energi hanya membicarakan hal itu. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up