Pendidikan Karakter Seharusnya Di Rumah Tangga
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 25 November 2014 . in Dosen . 898 views

Oleh karena sudah terbiasa bahwa tatkala berbicara pendidikan selalu dikaitkan dengan kurikulum, buku teks, evaluasi, alat pelajaran, dan lain-lain, maka ketika berbicara tentang pendidikan karakter pun juga segera berbicara kurikulum, buku teks, dan lain-lainnya itu. Munculnya gerakan pendidikan karakter maka akhirnya juga diikuti pula munculnya buku-buku ajar tetang pendidikan karakter, kurikulum, penjelasan tentang karakter di depan kelas, dan seterusnya. Hal demikian itu sebenarnya boleh-boleh saja dilakukan, akan tetapi pendidikan karakter tidak harus dilakukan seperti itu.

Mungkin saja banyak kalangan masih mengira bahwa perilaku hanya dibentuk oleh pengetahuan seseorang. Orang yang melakukan perbuatan menyimpang hanya dianggap oleh karena yang bersangkutan tidak mengerti bahwa tindakannya itu tergolong menyimpang. Padahal sebenarnya bukan begitu. Para penjudi, pencuri, pezina, dan koruptor, dan lain-lain amat paham bahwa tindakannya itu adalah dilarang, baik oleh negara, adat istiadat, maupun agama. Tetapi tokh mereka masih juga dilakukannya.

Seseorang melakukan perbuatan terlarang, tercela, dan bahkan jahat, bukan oleh karena yang bersangkutan tidak mengerti bahwa perbuatan itu dibenci oleh orang banyak dan beresiko dihukum, tetapi mereka memang berkeinginan melaksanakannya. Melalui kegiatan menyimpang itu, mereka ingin memperoleh kesenangan. Selain itu, sebenarnya mereka juga tahu bahwa perbuatan itu membahayakan dan beresiko tinggi, tetapi atas dorongan untuk memperoleh kesenangan dari perbuatannya itu, maka seseorang tidak mampu mengalahkan keinginannya itu.

Sementara itu, penjelasan yang diberikan oleh guru di depan kelas atau buku-buku yang harus dibaca hanyalah mengantarkan seseorang untuk memahami tentang karakter baik yang seharusnya dimiliki oleh seseorang. Lewat penjelesan dan buku-buku itu, seseorang hanya sebatas akan mengetahui tentang karakter baik dan karakter buruk. Akan tetapi, belum tentu, setelah mengetahui dan bahkan memahaminya, seseorang selanjutnya menjalankan sebagaimana yang diketahuinya itu. Sebagaimana dikemukkaan di muka, bahwa seseorang belum tentu berperilaku sebagaimana yang diketahui, dipahami, dan bahkan yang diidialkannya.

Perilaku, karakter atau dalam Islam disebut akhlak adalah perbuatan yang bersifat otomatis dalam arti tanpa mengikut sertakan pertimbangan pikiran. Perilaku itu dibentuk melalui pembiasaan dan ketauladanan hidup sehari-hari. Misalnya, seseorang dengan enaknya bangun pagi, lalu shalat subuh berjama'ah di masjid adalah oleh karena sudah menjadi kebiasaannya sehari-hari. Umpama hal itu belum terbiasa dilakukan, sekalipun hanya sekedar sholat subuh di masjid, maka akan berat sekali dilakukan.

Demikian pula kegiatan sehari-hari yang lebih sederhana, misalnya kebiasaan selalu mengkonsumsi makanan halal, berbicara sopan, selalu meminta izin tatkala menggunakan sesuatu milik orang lain, mengucapkan salam tatkala bertemu dan berpisah, mengenakan pakaian hingga menutup aurat, berjiwa terbuka, toleran, menghormati orang lain, mampu berbagi kasih sayang, dan lain-lain, semua itu harus dibiasakan sejak di rumah tangga.

Sebagai orang tua dan sekaligus pemimpin rumah tangga, pada setiap hari seharusnya memberi contoh dan membiasakan kepada anak-anaknya maupun siapa saja yang hidup bersama di rumah tangga itu. Pebuatan terpuji tidak mengenal batas, misalnya hanya berlaku sehari, dua hari, atau tiga hari dalam seminggu. Perilaku itu harus dilakukan secara terus menerus atau secara istiqomah hingga menjadi kebiasaan hidup sehari-hari. Melalui cara itulah akhirnya membuahkan perilaku, karakter, atau akhlaq. Yaitu, perbuatan yang dijalankan secara otimatis atau tanpa melalui banyak pertimbangan.

Oleh karena itu, ketika pada akhir-akhir ini dirasakan banyak orang, bahwa karakter, perilaku, watak atau akhlak anak-anak mulai menurun, maka yang seharusnya pertama kali dikoreksi adalah kualitas pendidikan di keluarga. Boleh-boleh saja kepala sekolah dan para guru ikut dipersalahkan, dan kemudian mereka menambah jam khusus untuk pendidikan karakter atau akhlaq. Akan tetapi, usaha yang dilakukan oleh mereka itu tidak akan maksimal hasilnya manakala pendidikan di keluarga tidak ditingkatkan kualitasnya. Pendidikan karakter, watak, atau akhlak, di sekolah tetap penting, tetapi yang lebih efektif lagi adalah berlangsung di rumah tangga, yaitu dari orang tua dalam memberikan tauladan dan pembiasaan sehari-hari terhadap para putra putrinya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up