Pentingnya Melakukan Dialog Batin
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 21 November 2014 . in Dosen . 14179 views

Dalam kehidupan sehari-hari, mengetahui tentang diri sendiri itu begitu pentingnya. Orang yang tidak mengetahui dirinya sendiri seringkali di dalam pergaulan sehari-hari bisa salah di dalam menemmpatkan diri. Bahkan lebih jelek lagi, orang yang tidak mengetahui tentang dirinya sendiri disebut sebagai orang yang tidak tahu diri.

Orang yang tidak mengenal dirinya sendiri juga bisa bersikap salah, misalnya akan menjadi sombong dan atau sebaliknya, merasa rendah diri. Orang yang mengenali dirinya melebihi apa yang ada sebenarnya, maka orang itu akan disebut sombong. Ia merasa lebih hebat dari kenyataan yang sebenarnya.

Demikian pula sebaliknya, seseorang yang sebenarnya memiliki kekuatan, kelebihan, dan keistimnewaan, tetapi oleh karena kesemuanya itu tidak diketahui olehnya, maka potensi itu tidak bisa dimanfaatkan atau dikembangkan lebih jauh. Orang yang menyandang perasaan seperti itu disebut rendah diri, minder, dan atau merasa serba berkekurangan.

Selain itu, orang yang tidak mengetahui sebenarnya tentang dirinya sendiri juga tidak akan berhasil mengembangkan potensi yang dimiliki, lupa masa depannya, dan bahkan juga melupakan tanggung jawabnya. Seorang mahasiswa misalnya, oleh karena tidak mengetahui tentang dirinya sendiri, maka sehari-hari hatinya tidak tergerak untuk berusaha membekali dirinya dengan ilmu dan keahlian yang dituntut setelah ia lulus kelak.

Kita saksikan banyak mahasiswa yang sehari-hari waktunya dihabiskan, bukan untuk kepentingan upaya memperkaya ilmu dan memperkokoh jiwa profesionalieme, melainkan mengikuti tuntutan hobynya. Bukannya tidak penting memenuhi kesenangan, tetapi seharusnya tuntutan sampingan itu diberikan waktu yang tidak berlebih-lebihan, agar tidak meninggalkan kewajiban yang bersifat pokok.

Hidup di masa depan semakin sulit. Semuanya harus dihadapi dengan bekal yang cukup. Dalam berkompetisi sebagai ciri khas dunia modern, bahwa siapa saja yang kuat dan memiliki kelebihan, maka mereka itulah pemenangnya. Oleh karena itu, siapa pun yang menginginkan kemenangan, maka tidak ada jalan lain kecuali membekali diri dengan pengetahuan dan jiwa profesionalisme yang kuat.

Untuk mengetahui tentang posisi diri sendiri, kekuatan yang dimiliki, bakat, dan seterusnya maka seseorang memerlukan apa yang disebut dengan dialog batin. Melakukan perenungan tentang siapa sebenarnya dirinya, misalnya sebagai seorang mahasiswa perlu selalu mempertanyakan pada dirinya sendiri tentang kekuatan apa yang sudah dimiliki, berapa buku yang sudah dibaca, tradisi positif apa yang selama ini telah berhasil dikembangkan secara istiqomah, seberapa jauh telah membangun komunikasi atau sillaturakhiem dengan sesama, dan atau juga dengan para tokoh di bidang ilmu yang dipelajarinya, pikiran-pikiran cerdas atau konsep apa yang selama ini dihasilkan, dan seterusnya.

Sudah barang tentu dialog batin seperti ini tidak saja diperlukan oleh para mahasiswa, tetapi sebenarnya adalah juga penting untuk semua orang yang menghendaki sukses di dalam hidupnya. Bahkan seorang dosen hingga guru besar melakukan dialog batin sangat diperlukan. Pertanyaan-pertanyaan di dalam hati, bagi seorang dosen atau guru besar misalnya, berapa banyak kegiatannya yang benar-benar berkualitas hingga berhasil mengantarkan mahasiswanya menjadi sukses, berapa banyak karya ilmiah yang dihasilkan, artikel yang dibuat, buku yang telah ditulis, undangan kepadanya untuk menjadi pembicara dalam pertemuan ilmiah, dan seterusnya.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu selalu dihidupkan di dalam hati dan kemudian ditindak-lanjuti di dalam kegiatan sehari-hari. Tanpa ada dialog batin seperti itu, orang biasanya akan menjadi lupa diri. Dialog batin juga harus obyektif dan benar. Sebab tatkala salah di dalam melakukannya,-------sebagaimana dikemukakan di muka, orang akan keliru di dalam menempatkan diri dan bahkan juga di dalam bersikap. Terlalu tinggi di dalam menilai dirinya sendiri akan menjadi sombong dan sebaliknya, terlalu rendah maka akan berakibat menjadi rendah diri. Kedua sikap itu tidak ada yang menguntungkan, baik bagi dirinya sendiri dan bahkan juga terhadap orang lain.

Imam al Ghazali, seorang ulama yang lahir dan wafat di Thus dan pernah belajar dan menjadi guru di baghdad pernah membuat rumusan tentang betapa pentingnya kegiatan merenbung ini. Ulama besar ini pernah mengatakan bahwa, merenung sesaat pahalanya lebih besar dari shalat seribu raka'at. Ungkapan ini kiranya bisa dipahami bahwa betapa pentingnya melakukan perenungan tentang alam semesta ini dan tidak terkecuali adalah tentang diri sendiri, atau di dalam tulisan ini saya sebut sebagai kegiatan melakukan dialog batin. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up