Seharusnya Guru Dipercaya Sepenuhnya
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 26 November 2014 . in Dosen . 2500 views

Tidak sembarang orang bisa dipercaya dan diangkat menjadi guru. Untuk menjadi guru, seseorang harus memenuhi berbagai persyaratan, misalnya minimal berjazah S1 keguruan, telah memiliki sertifikat sebagai guru, dikenal cakap, memiliki integritas keilmuan dan moral yang tinggi dan sebagainya. Setelah syarat-syarat itu terpenuhi, maka seseorang baru diangkat menjadi guru.

Jabatan sebagai guru adalah berbeda dari lainnya. Sehari-hari guru menghadapi benda hidup, yaitu anak-anak manusia yang harus dididik. Oleh karena itu, maka sementara orang menyebut, bahwa guru bukan sekedar tukang, yaitu tukang mengajar. Umpama sebagai tukang, maka tugas guru sehari-hari hanya menyampaikan mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya kepada para murid-muridnya. Jika murid yang diajar berhasil menguasai mata pelajaran yang diberikan, maka tugas guru dianggap selesai dan berhasil.

Tugas guru bukan sekedar mengajar, lebih dari itu adalah mendidik. Pengertian mendidik jauh lebih luas dibanding sekedar mengajar. Seorang pendidik seharusnya berusaha mengembangkan segenap potensi yang dimiliki oleh para siswanya. Guru mengajar matematika, biologi, fisika, kimia, sosiologi, psikologi, sejarah, dan lain-ain, bukan saja bermaksud agar para siswanya mengerti prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori tentang mata pelajaran itu, melainkan agar mereka semakin menyenangi dan terdorong untuk memahami pengetahuan itu lebih lanjut.

Seorang pengajar biologi baru disebut berhasil manakala para siswanya menjadi senang dengan pelajaran biologi. Demikian pula pengajar matematika, fisika, kimia, dan seterusnya. Manakala seorang guru yang mengajar fisika di akhir program pembelajaran justru menjadikan siswanya membenci ilmu fisika, maka sebenarnya guru yang bersangkutan telah gagal menunaikan tugasnya.

Oleh karena itulah sebenarnya, tugas guru bukan sebatas menghabiskan bahan pelajaran yang ditetapkan di dalam kurikulum, tetapi lebih dari itu adalah sejauh mana mereka mampu melahirkan imajinasi, khayalan, rasa senang, dan bahkan mencintai terhadap ilmu pengetahuan yang diberikan itu. Guru yang berhasil adalah mereka yang mampu menjadikan para siswanya semakin mencintai ilmu pengetahuan yang diberikannya itu.

Karena kemampuan guru yang bersangkutan, maka para siswa tatkala belajar bukan lagi merasa terpaksa, dan bahkan juga bukan sekedar untuk mempersiapkan diri mengikuti ujian, baik ujian sekolah maupun ujian nasional. Jika para siswa dalam belajar berbagai jenis ilmu pengetahuan hanya bermaksud agar lulus dan mendapat nilai istimewa atau menjadi juara, maka sebenarnya proses pembelajaran itu telah gagal. Belajar bukan sebatas untuk lulus dan memperoleh ijazah, melainkan agar para siswa mengenal dan mencintai ilmu pengetahuan. Orang yang mencintai ilmu itulah yang ingin dibentuk melalui lembaga pendidikan di berbagai jenjang yang ada.

Dalam kitab suci agama Islam, yakni al Qur'an, banyak perintah agar manusia mempelajari penciptaan langit dan bumi, termasuk juga tentang manusia sendiri. Dalam ilmu pengetahuan, penciptaan langit dan bumi serta seisinya itu telah dirumuskan menjadi ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu social, dan humaniora. Ketiga jenis ilmu murni tersebut sebenarnya mengkaji ciptaan Allah itu. Hanya saja, ciptaan Allah yang terangkum di dalam ketiga jenis ilmu murni itu belum menyangkut seluruhnya.

Selain yang disebutkan itu, masih banyak lagi, ciptakaan Allah yang tidak akan mungkin dikenali lewat indera manusia, seperti misalnya alam ruh, jin, malaikat, dan sejenisnya. Manusia hanya mampu mengenali ciptaan Allah hanya lewat indera dan dibantu oleh peralatan yang berhasil diciptakannya. Oleh karena itu, apapun yang dilakukan oleh manusia, ilmu yang diperoleh akan terbatas.

Selanjutnya, berbekalkan ilmu yang terbatas itu pula diharapkan berhasil mengantarkan seseorang mengenal Tuhannya. Dalam Islam, mencari ilmu bukan semata-mata bertujuan untuk meraih hal sederhana yang bersifat praktis dan prakmatis, yakni agar bisa bekerja dan memperoleh rizki misalnya, melainkan untuk mengenal siapa penciptanya. Melalui pengenalan itu, maka diharapkan akan tumbuh kesadaran tentang eksistensinya. Kesadaran tentang dirinya itulah sebenarnya yang akan menjadi pintu untuk mengenal Tuhannya. Orang yang memiliki kesadaran diri itulah sebenarnya yang akan memperoleh derajad tinggi atau hidup berkualitas.

Mengemban tugas mulia seperti itu, maka seorang guru, seperti yang disebutkan di muka, bukan sekedar sebagai tukang mengajar. Sehari-hari, para guru bekerja bukan sebatas menyampaikan bahan pelajaran kepada murid-muridnya, melainkan untuk mengenalkan tentang kehidupan ini. Mereka menyadarkan kepada para murid-muridnya bahwa hidup ini harus memiliki makna, mengenal siapa yang menciptakan, berbagai jenis tugas-tugas kehidupan, dan bahkan juga memperkenalkan tentang kelanjutan kehidupan ini.

Mka semakin jelas, bahwa tugas guru bukan sebatas sebagai pekerja, melainkan sebagai sosok yang sehari-hari berusaha menumbuhkan jiwa, pikiran, khayalan, cita-cita, harapan, rasa syukur, dan saling menghormati dan mencintai antar sesama. Jika demikian itu tugas guru, maka mereka harus dipercaya sepenuhnya. Guru tidak selayaknya dicurigai dan disalahkan hanya sekedar tidak membuat laporan formal. Sekalipun dari perspektif administrasi bahwa itu adalah penting, tetapi tugas mereka bukan sebatas yang bisa dilaporkan itu. Tugas guru sebenarnya tidak semuanya bisa dicatat di dalam diskripsi atau kolom-kolom laporan formal. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up