Bangsa ini telah merdeka lebih dari enam puluh tahun. Atas kemerdekaan itu, rakyatnya telah dididik. Sekolah hingga perguruan tinggi telah ada di mana-mana. Rakyat hingga sampai desa-desa telah mengenyam pendidikan. Aneh dan perlu disyukuri, bahkan perguruan tinggi sekalipun, telah berdiri hingga ke tingkat kecamatan.
Akan tetapi juga aneh pula, sekalipun lembaga pendidikan sudah ada di mana-mana, dan rakyat sudah mengenyam pendidikan, tetapi para lulusannya sekedar mencari kerja masih dirasakan sulit. Disebut-sebut bahwa pengangguran semakin lama semakin menumpuk, termasuk lulusan perguruan tinggi. Mereka lulus dan dianggap pintar, tetapi sekedar menjadi mandiri secara ekonomi saja masih dirasakan tidak mudah.
Mungkin gambaran yang terasa kontradiktif itulah yang menjadikan banyak orang kebingungan. Lulus hingga perguruan tinggi, tetapi masih belum bisa mencari dan atau menciptakan lapangan pekerjaan di negeri yang kaya sumber daya alam. Suasana seperti itu kemudian melahirkan pertanyaan, siapa sebenarnya yang salah dari penyelenggaraan pendidikan itu.
Untuk menjawab pertanyaan sederhana tersebut tentu tidak mudah. Sebab diyakini bahwa kualitas pendidikan selalu ditentukan oleh banyak faktor, mulai dari faktor siswanya sendiri, kurikulum, guru, sarana dan prasarana, lingkungan, pembiayaan, dan masih banyak lagi lainnya. Namun dari sekian banyak faktor yang berpengaruh itu, kiranya perlu ditanyakan apakah sudah ada kemerdekaan di lembaga pendidikan itu.
Kemerdekaan itu sangat penting, apalagi kemerdekaan bagi seorang pemimpin lembaga pendidikan. Orang yang tidak memiliki kemerdekaan tidak akan kreatif dan juga tidak akan menggunakan kecerdasannya secara maksimal. Akibatnya, tugas-tugas yang diberikan tidak akan mencapai kualitas yang diharapkan. Secara formal tugas itu terselesaikan, tetapi tidak akan menyentuh hingga wilayah substansinya. Apa yang dilakukan hanya bersifat formalitas, dan demikian pula hasilnya.
Suasana merdeka juga diperlukan oleh guru. Guru di depan para siswanya harus merdeka. Tidak selayaknya guru kelihatan terjajah atau diliputi oleh perasaan takut. Di hadapan siswa, guru tidak boleh kelihatan tertekan hingga harus mengajari para siswanya cara-cara menjawab soal ujian agar muridnya lulus. Sekolah bukan semata-mata mengantarkan siswa lulus, tetapi juga pintar, cerdas, berkharakter, dan dewasa.
Memperhatikan dan merenungan lembaga pendidikan selama ini, maka terbayang dalam pikiran, jangan-jangan lembaga pendidikan selama ini sedang mengalami perasaan terjajah, atau tidak merdeka. Kepala sekolah tidak merdeka, guru tidak merdeka, muridnya juga tidak merdeka, termasuk pegawai hingga tukang kebunnya. Mereka terjajah oleh berbagai peraturan yang belum tentu memiliki fungsi untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran, atau bahkan yang terjadi adalah justru sebaliknya.
Manakala gambaran itu benar, bahwa salah satu sebab rendahnya kualitas hasil pendidikan itu adalah tidak adanya kemerdekaan di lembaga pendidikan, maka tugas Pak Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan menengah, termasuk pak Menteri Pendidikan Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi adalah memberikan kemerdekaan itu. Tugas Pak Menteri tidak perlu hingga detail, menyangkut hal-hal kecil dan sepele, tetapi cukup memberikan garis besar kebijakan, membuat standar umum yang harus dijalankan oleh sekolah dan guru. Kepala sekolah dan guru sangat perlu diberi kemerdekaan untuk mendidik dan mengajar.
Pekerjaan yang bersifat teknis, mengikuti petunjuk nabi, seyogyanya Pak Menteri cukup mengatakan : 'antum a'lamu biumuri dunyakum', atau dalam bahasa sederhananya, bahwa kamu semua lebih tahu tentang apa yang seharusnya kamu kerjakan. Kepala sekolah dan bahkan para guru harus dipercaya dan diberi kemerdekaan untuk menjadikan para siswanya cerdas, kaya ilmu, semakin dewasa, dan berakhlak atau berkharakter mulia. Hal yang bersifat teknis, agar hasilnya masksimal, maka tanggung jawab cukup diserahkan saja kepada pihak-pihak yang menjalankan, dalam hal mendidik dan mengajar adalah kepala sekolah dan guru.
Manakala hal itu bisa dilakukan, maka sekolah akan benar-benar menjadi tempat yang menyenangkan, guru dan kepala sekolah akan semakin kreatif dan cerdas, dan lembaga pendidikan akan benar-benar menjadi tempat persemaian generasi bangsa yang unggul di masa depan. Selain itu, sekolah tidak akan dirasakan sebagai beban hidup, tetapi sebaliknya, menjadi sesuatu yang dibutuhkan dan menyenangkan. Lulusannya tidak akan mengekspresikan kegembiraannya dengan corat-coret baju seragam, konvoi keliling kota, kebut-kebutan persis ayam yang kelamaan terkungkung dan kemudian berhasil keluar dari sangkarnya. Wallahu a'lam.



