Sehari-hari kita menyaksikan kegiatan dan bahkan kesibukan orang mencari harta kekayaan. Mereka bekerja di pasar, di toko, di kebun, di laut, di kantor, di perusahaan, dan di tempat-tempat lainnya adalah untuk memperoleh uang atau harta kekayaan. Harta kekayaan menjadi sangat penting untuk dimiliki. Hidup sehari-hari selalu memerlukan uang. Tanpa uang atau harta, siapapun akan mengalami kesulitan untuk mempertahankan hidupnya.
Untuk memperoleh uang ternyata tidak selalu mudah. Bagi orang yang tidak memiliki modal atau usaha, ketrampilan, kemampuan atau kecakapan, maka sekedar mendapatkan uang untuk digunakan mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari sedemikian sulit. Kita menyaksikan, orang yang hanya bekerja sebagai buruh, dan apalagi buruh tani, buruh nelayan, dan sejenisnya, penghasilannya tidak mencukupi untuk menghidupi keluarganya secara layak. Namun anehnya, orang seperti ini, hidupnya tidak merasa terlalu terganggu oleh harta, oleh karena memang tidak memilikinya.
Hal demikian itu berbeda dengan orang yang memiliki modal dan apalagi perusahaan yang digunakan sebagai mesin penghimpun uang, maka hidupnya dilihat oleh orang lain sebagai hal yang mudah. Sehari-hari, mereka tidak berpikir tentang uang. Rizki seolah-olah sudah datang sendiri dari hasil modal dan berbagai usahanya itu. Namun demikian, orang seperti itu ternyata hidupnya tidak selalu tenang dan atau tenteram. Mereka justru selalu digoda oleh harta kekayaannya yang melimpah itu.
Orang yang harta kekayaannya melimpah, sehari-hari hatinya belum tentu tenteram sebagaimana dibayangkan oleh banyak orang. Bisa jadi, mereka selalu khawatir dan bahkan takut perusahaannya merugi, harga saham yang dimilikinya jatuh, para buruhnya protes menuntut kenaikan gaji, piutangnya tidak segera terbayar, barang dagangannya tidak laku, khawatir hartanya dirampok orang, dan seterusnya. Orang yang mengalami suasana batin seperti itu, hartanya tidak menjadikan hatinya tenteram dan tenang, melainkan sebaliknya. Orang seperti ini justru menjadi menderita oleh karena hartanya itu.
Pada akhir-akhir ini, kita menyaksikan bahwa, justru dengan harta yang melimpah, hidup seseorang menjadi sangat menderita. Hanya sekedar mengejar harta atau menjadi kaya, tidak sedikit orang tertangkap KPK dan kemudian diadili dan dihukum. Mereka dinyatakan bersalah dan akhirnya harus mendekam di penjara hingga beberapa tahun. Maka artinya, uang atau kekayaan tidak selalu berhasil mengantarkan pemiliknya menjadi bergengsi, dihormati orang, dianggap hebat, hatinya tenteram, dan seterusnya, tetapi justru sebaliknya, yaitu menjadi sangat menderita melebihi penderitaan yang dialami oleh orang miskin, semisal buruh tani yang upahnya sehari-hari sangat terbatas.
Berbeda dengan keadaan sebagaimana digambarkan tersebut, ada juga orang yang benar-benar kaya. Kekayaannya itu diperoleh dengan cara yang benar. Mereka bekerja dengan berdagang, atau bertani, atau membuat perusahaan, menangkap ikan di laut, atau berbagai jenis usaha lainnya. Usahanya dijalankan dengan cara yang benar pula, mengikuti semua aturan yang diberlakukan oleh pemerintah, selalu membayar pajak dengan benar, dan tidak pernah merugikan orang lain. Selain itu, sebagai seorang muslim, harta kekayaannya juga dikeluarkan zakatnya, infaq, shadaqoh, dan lainnya. Orang-orang yang bekerja bersamanya, diberi imbalan dengan jumlah yang cukup, dan selalu dibayarkan tepat pada waktunya.
Orang yang seperti digambarkan itu, dengan harta yang dimiliki, maka hatinya selalu tenang. Hartanya tidak menjadi beban hidupnya, melainkan justru sebaliknya, selalu menyenangkan dirinya sendiri, keluarganya, dan bahkan juga orang lain. Mereka benar-benar menguasai harta kekayaannya. Harta kekayaannya tidak mengganggu hidupnya, tetapi justru sebaliknya, mendekatkan dirinya pada Tuhan, pada orang lain, termasuk para fakir miskin, anak yatim, dan orang-orang yang memerlukan bantuannya. Orang seperti digambarkan inilah yang sebenarnya diidealkan, yaitu menguasai harta dan bukan sebaliknya, dikuasai oleh harta kekayaan.
Islam sebenarnya mengajarkan agar umatnya menguasai harta, menjadi khalifah, dan berhasil mewujudkan kemakmuran dan kedamaian bersama. Bagi seorang muslim, harta kekayaan bukan menjadi pengganggu atau apalagi menjatuhkan dirinya pada lembah kenistaan. Orang yang demikian itu sebenarnya bukan pemilik harta, melainkan dirinya justru menjadi menghamba kepada harta kekayaan. Harga diri dan atau harkat dan martabatnya justru dikalahkan oleh harta kekayaannya. Orang seperti itu sebenarnya bukan sedang menjadi penguasa hartanya, melainkan menjadi orang yang dikuasai oleh hartanya. Harta kekayaannya tidak memberikan manfaat terhadap dirinya sendiri. Islam tidak mengajarkan hal yang demikian itu. Wallahu a'lam.



