Rasanya aneh, memiliki musuh saja disyukuri. Padahal seharusnya ketika seseorang memiliki musuh, maka akan gelisah, hidupnya tidak aman, dan komunikainya menjadi terbatas. Musuh pasti membahayakan, dan oleh karen itu seharusnya tidak ditunggu-tunggu kehadirannya, apalagi disyukuri dan dibanggakan. Akan tetapi, pada kenyataanya, ada saja orang yang menyukuri oleh karena memiliki musuh itu.
Sekalipun sudah beberapa bulan, kunjungan saya ke Masyhad, yaitu sebuah propinsi yang terletak kira-kira 800 km arah timur kota Teheran, tetapi kesan yang saya peroleh dari kunjungan dan pembicaraan dengan Gubernur kota itu sulit saya lupakan. Pada waktu itu kebetulan hari Jum'at, sekalipun dalam keadaan musyafir, saya ikut sholat jum'at di masjid kota itu.
Kedatangan saya ke kota Masyhad dianggap resmi, sebagai tamu pemerintah. Oleh karena itu, ketika shalat Jum'at pun mendapatkan perlakuan khusus. Saya beserta anggota rombongan, dipersilahkan mengambil tempat persis di belakang imam masjid. Ukuran masjid Masyhad itu besar sekali, kurang lebih sama besarnya dengan masjid Nabawi di Madinah. Demikian pula jama'ahnya hingga ratusan ribu orang.
Selesai menjalankan shalat Jum'at, saya dan rombongan diajak masuk ke ruang tamu,masih di lingkungan masjid itu. Dalam pertemuan di tempat itu, saya diajak berdialog dengan imam masjid Masyhad, dan gubernur dan wakil gubernur kota itu. Saya bersama rombongan disambut sangat baik, diperlakukian sebagai tamu resmi, dan penting. Kebetulan saja, dalam rombongan itu, saya ditunjuk menjadi ketuanya, sehingga diminta untuk mewakili dalam menyampaikan beberapa pandangan yang diangap penting.
Beberapa hal yang tidak pernah saya lupakan, walaupun kejadian itu sudah lewat beberapa bulan yang lalu, adalah pandangan Gubernur Masyhad yang disampaikan dalam menerima kami beserta rombongan. Gubernur mengatakan bahwa bangsa Iran, pasca revolusi, merasakan kemajuan yang signifikan dalam berbagai hal, baik di bidang politik, ekonomi, pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan lain-lain. Dengan bangga disebutkan bahwa, Iran sudah mampu membuat satelit dan berhasil diluncurkan, menciptakan kapal selam yang tidak bisa dideteksi oleh radar siapapun, tentu selain itu juga proyek-proyek nuklirnya.
Keberhasilan Iran itu, menurut pengakuan dan penilaian Gubernur Masyhad, paling tidak disebabkan oleh tiga hal. Pertama, oleh karena Iran memiliki musuh bersama, yaitu Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Musuh bersama ini menjadikan generasi muda Iran dan seluruh bangsanya menjadi bersemangat untuk mengembangkan diri. Musuh bersama itulah yang kemudian berhasil mendorong bangsa Iran untuk bekerja keras mengembangkan kemampuannya. Mereka tidak mau dikalahkan oleh musuh dari manapun datangnya. Pilihan hidup mereka hanya dua, yaitu kalah dan binasa atau bertahan dengan syarat selalu berusaha maksimal meningkatkan kualitas bangsanya dengan berbagai cara, terutama lewat pengembangan ilmu dan teknologi. Iran mengambil pilihan kedua, yakni meningkatkan kualitas bangsanya.
Kekuatan selanjutnya adalah, bangsa Iran merasa memiliki pemimpin yang diikuti oleh seuluruh rakyatnya. Dua kekuatan pemimpin di Iran menyatu, ialah pemimpin pemerintah dan ulama. Keduanya diakui dan diikuti oleh seluruh rakyatnya. Sejak revolusi Iran yang dipimpin oleh Ayatullah Khumaini, bangsa Iran mampu melakukan konsolidasi politik, sosial, eknomi, dan lainnya sehingga negaranya menjadi kuat. Sedangkan keuntungan yang ketiga, ialah bahwa rakyat Iran benar-benar bisa bersatu, salah satu di antaranya adalah, dipersarukan oleh musuh bersama sebagaimana dikemukakan di muka.
Bangsa Indonesia pada saat ini, tidak sebagaimana bangsa Iran, tidak memiliki musuh dari manapun. Tanpa musuh sekalipun, bangsa ini sudah bersatu. Bangsa Indonesia, juga telah memiliki pemimpin yang dipilih secara demokratis. Rakyatnya juga mendukung pemerintah sepenuhnya. Hanya sedikit persoalannya, ialah bahwa bangsa Indonesia belum terlalu merasa mendesak untuk segera bangkit dan bergerak meningkatkan kualitas bangsanya, misalnya melalui pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, juga teknologi.
Sementara itu, pemimpin bangsa ini, dalam pendidikan misalnya, masih sibuk mengurus kurikulum, menata doa awal dan akhir pertemuan di sekolah, dan sejenisnya. Bangsa ini ternyata juga belum segera merasa bangga dengan pemimpin yang baru dipilihnya sendiri secara demokratis. Sebagai buktinya, masih banyak pihak dengan seenaknya, misalnya lewat jejaring sosial atau di media lainnya, mengritik pemimpinnya sendiri, yang kadang hingga berlebihan. Seharusnya, bangsa ini segera bangkit, berusaha maksimal meningkatkan kualitas semua warga negaranya, dalam semua bidang kehidupan hingga kelak mampu bersaing dengan bangsa manapun yang disebut maju. Wallahu a'lam.



