Akhir-akhir ini banyak orang sibuk berbicara kurikulum. Perbincangan itu diawali oleh kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, memberlakukan kurikulum 2013 secara terbatas. Sementara itu sekolah lainnya, sekalipun sudah terlanjur, dianjurkan untuk kembali menggunakan kurikulum sebelumnya.
Pasti kebijakan itu mengundang polemik, pro dan kontra. Sementara pihak menerima tetapi sebagian lainnya menolak. Dinas Pendidikan Jawa Timur misalnya, kabarnya akan menolak kebijakan itu. Semua sekolah di wilayah ini tetap akan menggunakan kurikulum yang telah terlanjur diimplementasikan. Alasan penolakan terhadap kebijakan menteri, yaitu harus mundur dengan menggunakan kurikulum sebelumnya, maka akan banyak pihak yang kebingungan, misalnya guru, murid, dan juga orang tua.
Banyak sekolah yang lebih memilih kurikulum terbaru atau dengan mendasarkan pada pengalamannya, bahwa kurikulum 2013 memiliki kelebihan dibanding kurikulum sebelumnya. Pertimbangan lain yang bersifat praktis dan eknomis, bahwa para kepala sekolah, pejabat di lingkungan kementerian pendidikan dan kebudayaan, maupun para guru yang bertugas mengajar sudah ditatar, dan sudah mengeluarkan energi serta biaya yang amat besar.
Perdebatan tentang kurikulum tersebut rupanya belum segera berakhir. Padahal waktu belajar seharusnya berjalan terus. Terlalu lama berdiskusi tentang kurikulum, maka semua pihak akan kehilangan waktu, kesempatan, dan akhirnya hanya akan memperpanjang kebingungan belaka. Kiranya semua pihak berharap, sekalipun perdebatan tetap berlanjut, proses pembelajaran tetap berjalan. Hal yang tidak boleh terjadi adalah melakukan perdebatan terus menerus, tetapi melupakan sesuatu yang pokok dan mendesak, yaitu secara nyata meningkatkan kualitas pendidikan.
Membaca berbagai tulisan terkait dengan pendidikan, maka dapat dipahami bahwa kualitas pendidikan bukan semata-mata ditentukan oleh kurikulum, melainkan lebih banyak tergantung pada siapa yang mengimplementasikan kurikulum itu, ialah para gurunya. Apapun kurikulumnya, manakala para gurunya hebat, maka kualitas pendidikan yang dihasilkan akan baik, dan begitu pula sebaliknya. Guru memegang posisi strategis dalam menentukan kualitas hasil pendidikan.
Sebenarnya di negeri ini, ada institusi pendidikan yang tidak mempedulikan kurikulum, ialah lembaga pendidikan pesantren, dan lebih-lebih pesantren salaf. Namun demikian, jangan dikira kualitas hasilnya selalu rendah. Banyak tokoh lokal dan bahkan nasional adalah merupakan hasil dari pesantren salaf. Para tokoh dan ulama besar seperti KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syamsuri, dan masih banyak nama besar lainnya adalah tamatan dari pesantren salaf yang tidak peduli dengan kurikulumnya.
Para santri belajar di pesantren menyesuakan dengan ilmu yang dimiliki oleh kyainya. Telah dikenal oleh masyarakat luas bahwa, para kyai pesantren, masing-masing memiliki dan mendalami jenis ilmu berbeda-beda. Ada kyai yang dikenal lebih alim atau lebih mendalami di bidang ilmu tafsir, atau ilmu hadits, ilmu fiqh, ilmu tasawwuf, dan seterusnya. Sehubungan dengan itu, masing-masing kyai menguasai kitab yang berbeda-beda pula. Dengan keadaan seperti itu, siapa saja yang akan belajar ke pesantren, maka akan memilih pesantren dan kyai sesuai dengan ilmu yang akan dipelajari. Dan, jika akan mendalami beberapa jenis ilmu, maka mereka juga akan mendatangi beberapa pesantren dan beberapa kyai pula
Memperhatikan institusi pendidikan tersebut maka yang dipentingkan adalah guru atau kyainya. Jika harus berbicara tentang kurikulum, maka kurikulum itu adalah para guru atau kyainya. Para kyai telah menyandang keahliannya masing-masing. Para santri yang ingin mendalami ilmu tafsir, maka mereka akan mendatangi kyai yang ahli di bidang ilmu tafsir untuk berguru. Begitu pula selanjutnya, para santri yang akan mendalami ilmu fiqh, hadits, tasawwuf, dan seterusnya. Mereka akan mendatangi kyai yang alim terhadap ilmu yang berbeda-beda itu.
Umpama saja kyai pesantren juga ada yang ahli di bidang fisika, biologi, kimia, sosiologi, sejarah, matematika, dan lain-lain, dan mereka membuka pesantren sesuai dengan ilmunya itu, maka pesantren akan memiliki keunggulan di bidang ilmu modern. Perkiraan itu sangat mungkin terjadi. Sebab, ternyata pengajaran di pesantren tidak selalu kalah dibanding di sekolah. Buktinya, tatkala pesantren mengajarkan kitab berbahasa Arab------orang menyebutnya kitab kuning, para santrinya mampu membaca dan memahaminya. Sementara itu, banyak siswa dan bahkan mahasiswa, sekalipun telah diajari Bahasa Inggris, tetapi pada kenyataannya tidak semuanya mampu berbahasa asing itu.
Akhirnya, dengan orientasi pembelajaran yang demikian itu, maka pesantren, apalagi pesantren salaf, tidak pernah ribut soal kurikulum. Kurikulumnya adalah para kyainya itu. Maka, umpama di setiap sekolah juga telah memiliki guru yang hebat dengan masing-masing ilmu atau keahliannya, maka sekolah pun kiranya juga tidak perlu ribut soal kurikulum. Siswa yang ingin mendalami metematika, maka dipersilahkan agar belajar kepada guru yang ahli matematika di sekolah itu. Siswa yang ingin mendalami ilmu ekonomi, maka dipersilahkan belajar ke guru yang benar-benar ahli di bidang ekonomi yang juga ada di sekolah itu, dan seterusnya. Mungkin saja, oleh karena banyak sekolah yang keadaannya belum seperti pesantren salaf, -----dalam arti belum banyak guru yang diakui kehebatannya, maka kurikulum pun masih harus dibuatkan, dan bahkan sebelum mengajar, mereka itu harus ditatar terlebih dulu. Wallahu a'lam.



