Melihat Keber-Islaman Seseorang
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 30 Desember 2014 . in Dosen . 3410 views

Ada saja orang yang masih merasa perlu bertanya-tanya tentang kualitas keber-Islaman seseorang. Hal itu kiranya wajar oleh karena tidak mudah menyimpulkannya sendiri. Di tengah masyarakat, selalu saja ada sementara orang disebut keber-Islamnya kuat, atau biasa-biasa saja, tetapi juga ada yang disebut masih tipis. Pembagian itu, sudah barang tentu, bersifat subyektif. Sebab tidak mudah melihat pribadi seseorang, apalagi menyangkut sesuatu yang memiliki variabel luas, sebagaimana tentang keber-Islamannya.

Munculnya pertanyaan tersebut mungkin saja disebabkan oleh karena variabel keber-Islaman itu sendiri sedemikian banyak, mulai dari yang paling mudah dikenali, misalnya terkait dengan pakaian yang dikenakan, tradisi yang dijalani sehari-hari, hingga pada hal yang amat sulit diketahui oleh orang lain, yakni tentang suara hati orang yang bersangkutan. Adanya tingkat pengetahuan dan variasi perilaku seseorang yang demikian itu maka menjadikan tidak mudah memahami keber-Islaman seseorang.

Ada sementara orang yang hanya mampu melihat perilaku Islami dari hal yang tampak, atau dari apa yang bisa dilihat. Sedangkan lainnya, ada juga lebih jauh dari itu, memiliki kemampuan melihat perilaku keber-Islaman seseorang secara komprehensif dan bahkan hingga hal yang tidak tampak oleh mata sekalipun. Hal demikian itu disebabkan oleh karena kemampuan masing-masing orang memang berbeda-beda.

Perbedaan pengetahuan masing-masing orang tersebut juga berdampak pada kualitas keber-Islaman dan juga keimanan seseorang. Maka dengan demikian, tidak saja kualitas keber-Isaman yang berbeda melainkan juga keimanannya. Dipahami bahwa, ada seseorang yang imannya kuat, biasa-biasa saja, dan sebaliknya masih lemah. Kategori itu sebenarnya juga bersifat subyektif. Bahkan juga tidak ada seorang pun yang mampu mengetahui tentang kualitas keimanan seseorang. Namun juga diyakini bahwa keimanan itu pada suatu saat menguat dan pada saat lainnya melemah, atau yazidu wa yanqus.

Selanjutnya, keber-Islaman juga memiliki variabel yang sedemikian banyak, mulai dari apa yang ada di hati masing-masing orang, apa yang diucapkan, dan juga apa yang tampak dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang disebut menjadi muslim diawali dari suara hati yang bersangkutan, yakni percaya, yakin, dan berlanjut dengan pengakuan atau kesaksian. Hal demikian itu menjadikan keberagamaan seseorang tidak bisa dipaksa. Pemaksaan hanya akan melahirkan kepalsuan. Seseorang seolah-olah sudah menjadi muslim padahal sebenarnya masih belum meyakini benenaran Islam. Pengakuan yang demikian itu disebut palsu.

Pengakuan atau kesaksian terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa, yakni Allah dan Muhammad sebagai utusan-Nya harus diucapkan dan dinyatakan dengan jelas, tulus, dan benar. Atas dasar ucapan itu, maka seseorang disebut telah dinyatakan sebagai seorang muslim. Selanjutnya, pernyataannya itu seharusnya tergambar dalam perilakunya sehari-harti. Namun bisa saja terjadi, bahwa antara suara hati, ucapan, dan apalagi yang disebut dengan perilaku seseorang selalu bersifat kontinue, berproses, atau berada pada bentangan yang panjang menuju kesempurnaan. Bahkan, proses itu juga tidak selalu berjalan linier atau mengikuti garis lurus, melainkan kadangkala maju tetapi juga bisa saja mundur lagi, dan kadang menguat tetapi juga bisa sebaliknya, melemah.

Selain itu, keber-Islaman seseorang juga bisa dilihat dari berbagai aktivitas yang luas dan beraneka ragam. Yaitu, mulai dari kegiatan riual sehari-hari, sikap dan perilakunya terkait dengan ekonomi, hubungan-hubungannya dengan sesama, dalam berpolitik, berkeluarga, bertetangga, menyangkut terhadap orang lain yang sedang berkekurangan atau kesulitan, ilmu pengetahuan, pengabdian dan pengorbanannya, dan masih banyak lagi lainnya. Aneka ragam jenis kegiatan dimasud tidak akan mungkin berhasil dijalankan secara ideal secara keseluruhan. Bisa saja sementara orang, dalam hal kegiatan ritualnya sedemikian mendalam, akan tetapi dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan, sosial, ekonomi, dan lainnya masih perlu ditingkatkan, dan seterusnya.

Demikian pula, keber-Islaman seseorang juga dilihat oleh orang lain dari penampilannya sehari-hari. Seseorang dianggap seperti sudah sedemikian sempurna. Pada setiap tampil di muka umum selalu mengenakan pakaian, -----orang menyebutnya, Islami, misalnya berkopiyah putih dan bersurban, mengenakan asesoris sebagai tanda kesalehannya, dan lain-lain. Lebih dari itu, mereka juga selalu mengikuti tradisi atau mengenakan simbol-simbol Islam, baik yang terkait dengan pakaian, jenis makanan, dan kebiasaan-kebiasaan lainnya. Sebaliknya, ada saja seseorang yang sudah disebut muslim, tetapi penampilan sehari-hari masih belum tampak kekhasannya. Shalat lima waktu, puasa, zakat, dan lain-lain, dan bahkan sudah berhaji, tetapi masih berpenampakan sebagaimana kebanyakan orang pada umumnya.

Merenungkan tentang hal-hal sebagaimana digambarkan itu, maka ternyata tidak mudah melihat keber-Islaman seseorang. Apalagi tatkala melihatnya harus secara sempurna. Masing-masing orang ternyata mengambil bagian-bagian tertentu, tetapi belum berhasil mengambil bagian-bagian lainnya. Itulah sebabnya hingga disebutkan bahwa, tidak ada seorang pun yang keber-Islamannya mencapai kesempurnaan, kecuali pembawanya sendiri, yakni Muhammad saw. Sedangkan selain Rasulullah adalah masih berada pada tataran proses, yaitu proses menjadi sempurna. Melihat variabel ukuran kualitas keber-Islaman yang sedemikian luas itu, maka tidak seharusnya ada orang yang berani mengklain bahwa dirinya adalah paling benar dan bahkan paling berkualitas. Berbagai tingkatan keber-Islaman seseorang sebenarnya hanya Tuhan sendiri yang mengetahui. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up