Memahami Seseorang Jangan Sebatas Dari Pakaiannya
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 31 Desember 2014 . in Dosen . 9029 views

Pakaian itu seringkali menggambarkan identitas seseorang. Ketika menghadiri pesta perkawinan, tanpa menanyakan dari mana asal kelahiran orang yang punya hajat, kita sudah bisa menebak. Biasanya orang yang sedang menyelenggarakan pesta itu mengenakan baju adat. Orang Jawa mengenakan pakaian jawa, lengkap dengan kerisnya. Demikian pula orang makassar, orang Madura, orang Kalimantan, Sumatera Barat, Palembang, Aceh, dan seterusnya. Mereka mengenakan pakaian adat daerahnya masing-masing.

Pakaian kadang juga dikaitkian dengan agama yang dipeluk. Seorang muslim Indonesia dan juga Malaysia mengenakan baju koko atau juga disebut dengan istilah baju taqwa lengkap dengan pecinya. Sementara itu wanita atau muslimah mengenakan baju dengan menutup aurat lengkap dengan kerudung atau jilbabnya. Berbeda dengan itu adalah penganut agama lain, misalnya Kristen, Katholik, Budha, Hindu, dan seterusnya.

Tidak sebatas terkait etnis dan juga agama, lewat pakaian juga diketahui status sosial, organisasi, dan bahkan juga asal negara atau kebangsaan seseorang. Pakaian orang miskin biasanya sederhana dan tidak selalu dirawat rapi. Hal itu berbeda dengan pakaian orang kaya. Perbedaan itu semakin tampak ketika sedang dalam pertemuan banyak orang, dalam rapat, pesta, sedang di mall, dan lain-lain.

Pakaian khas juga dikaitkan dengan keanggotaan dalam berorganisasi tertentu. Masing-masing organisasi yang berbeda memiliki pakaian atau seragam berbeda pula. Apalagi orang yang berasal dari negara yang berbeda. Pakaian orang Saudi Arabia berbeda dengan pakaian orang pakistan, orang Bangades, orang philipina, orang Sudan, dan apalagi dengan orang Amerika dan Eropa. Tetapi bisa saja, sekedar meniru, orang Indonesia berpakaian sebagaimana yang dipakai oleh orang Arab atau juga lainnya.

Islam tidak memberi batasan tertentu tentang potongan pakaian yang seharusnya dikenakan. Yang dipentingkan adalah menutup aurat. Bagian mana yang disebut aurat itu antara laki-laki dan perempuan berbeda. Tentang potongan dan warnanya boleh saja menyesuaikan dengan adat kebiasaan masyarakatnya. Seorang muslim Jawa boleh-boleh saja mengenakan pakaian adat Jawa. Begitu pula orang Madura, Kalimantan, Sumatera, dan lain-lain. Sebenarnya seorang Islam, tidak harus meninggalkan pakaian adatnya, asalkan masih menutup aurat.

Identitas ke-Islaman seseorang seharusnya tidak sebatas dilihat dari hal-hal yang bersifat lahir termasuk pakaiannya, tetapi yang lebih penting adalah dari hati dan amal shaleh yang dijalani sehari-hari. Umpama saja identitas itu hanya dilihat dari keadaan lahir dan juga termasuk pakaiannya, maka betapa mudahnya simbol-simbol itu diganti atau diubah. Pakaiannya dalam sehari berubah berapa kali pun, seorang muslim masih tetap menjadi muslim, dan begitu pula sebaliknya.

Saya pernah mengikuti konferensi para pemuka berbagai agama yang berbeda-beda di Moskow. Puluhan pemuka agama diundang dan diberi kesempatan untuk berbicara. Oleh karena jumlah pembicaranya begitu banyak, sedangkan waktunya sangat terbatas, setiap pembicara diberi waktu hanya 10 menit. Termasuk saya, datang ke tempat konferensi itu hingga harus menghabiskan waktu hampir 20 jam di perjalanan, juga hanya diberi waktu 10 menit itu. Hal menarik yang saya perhatikan, bahwa hampir semua pemuka agama yang datang, pakaian mereka serupa. Padahal agamanya berbeda-beda. Ada beberapa orang yang semula dari pakaiannya saya kira muslim, ternyata semuanya bukan.

Pengalaman yang lebih menarik,------ dan saya merasa ikut salah karena tidak memberi informasi, ketika pada suatu waktu mendampingi Pak Menteri Agama ke suatu daerah. Sudah biasa Pak Menteri Agama, ketika berkunjung ke daerah, membawa serta beberapa staf. Mereka itu tidak semuanya selalu muslim. Rupanya staf yang diajak Pak Menteri Agama ingin menyesuaikan diri dengan masyarakat yang dikunjungi. Pejabat kementerian agama yang bukan muslim itu mengenakan baju koko lengkap dengan kopyahnya. Sesampainya di tempat yang dikunjungi Pak Menteri, pejabat non muslim, ketika bersalaman, juga dicium tangannya. Para santri di tempat itu mengira bahwa antara pakaian yang dikenakan selalu identik dengan agama seseorang.

Ternyata memang, tidak cukup memahami orang hanya sebatas lewat baju atau pakaiannya atau identitas yang bersifat fisik atau lahiriyahnya. Pakaian tetap perlu dijadikan sebagai petunjuk identitas seseorang, tetapi dengan pakaian saja tidak cukup untuk menggambarkan pribadi yang sebenarnya. Benar bahwa, pakaian itu penting untuk menunjukkan kepribadian seseorang. Pepatah jawa mengatakan : ' ajining diri songko lathi, ajining rogo songko busono' atau dalam Bahasa Indonesianya : 'bahwa seseorang akan dihormati oleh karena ucapan dan juga pakaiannya. Namun yang pasti bahwa, untuk melihat dan memahami kualitas seseorang, sebagaimana diajarkan oleh Islam, tidak cukup lewat pakaian atau simbol-simbol yang tampak, tetapi seharusnya hingga pada aspek yang lebih mendalam ialah hati dan amal shalehnya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up