Memahami Ucapan Natal Dari Sudut Lain
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 24 Desember 2014 . in Dosen . 1530 views

Di antara boleh atau tidaknya seorang muslim menyampaikan ucapan selamat natal menjadi perdebatan panjang. Sebagian membolehkan dan yang lain sebaliknya, yaitu melarangnya. Kedua belah pihak antara yang membolehkan dan yang melarang mendasarkan pada argumentasinya masing-masing. Bagi saya, silahkan saja dipilih salah satu. Yang tidak saya setujui, manakala di antara keduanya bersitegang, saling menyalahkan, dan apalagi saling menghujat. Sekalipun berbeda pandangan, umat Islam harus saling menghormati dan tetap mamelihara persatuan.

Dalam tulisan ini, saya hanya ingin mengajak untuk memahami ucapan selamat natal itu dari sudut lain, yaitu terutama untuk kepentingan dakwah. Berdakwah, agar berhasil, biasanya harus dilakukan dengan cara mendekat dan bahkan menggembirakan. Berdakwah dengan cara menjauh, maka akan sulit berhasil. Apalagi, berdakwah dengan cara menyalahkan, merendahkan, atau tidak menghargai orang yang dijadikan sasaran dakwahnya, maka jangan berharap usaha itu akan berhasil maksimal.

Orang yang belum beragama Islam, tidak selalu bahwa mereka itu membenci agama yang dibawa oleh Nabi terakhir, yakni Muhammad saw. Mereka yang beragama Kristen, Katholik, Budha, Hindu, dan lain-lain, tidak selalu bahwa mereka itu membenci Islam. Bahkan, mereka itu juga belum tentu, -----sekalipun sedikit, telah mengenal dan mengerti tentang Islam. Mereka itu tidak beragama Islam oleh karena tidak dilahirkan di keluarga muslim. Sehingga, dengan mudah dipahami, jika mereka itu tidak mengerti tentang Islam.

Orang non muslim, biasanya mengetahui tentang Islam adalah dari kehidupan sehari-hari orang Islam. Pengetahuan itu diperoleh dari pergaulannya. Tegasnya, mereka mengetahui Islam bukan dari kegiatan mengaji al Qur'an, membaca hadits nabi ataupun buku-buku tentang Islam. Mereka tidak pernah membaca kitab atau buku-buku yang dimaksudkan itu. Bahkan bisa jadi, menyentuh kitab atau buku yang dimaksudkan itu saja belum pernah dialami. Selain itu, mereka juga tidak pernah mengikuti pengajian, ceramah, atau sekolah di lembaga pendidikan Islam. Sebenarnya, mereka itu tidak mengerti tentang Islam.

Hal itu kiranya adalah sama dengan kebanyakan kaum muslimin. Mereka juga tidak banyak mengerti tentang agama Kristen, Hindu, Budha, dan lain-lain. Kaum muslimin pada umumnya juga tidak pernah membaca kitab injil dan buku-buku tentang beberapa agama tersebut. Oleh karena itu, jika masing-masing pemeluk agama tidak saling memahami agama selain yang dipeluknya sendiri adalah menjadi sesuatu yang dapat dipahami dengan mudah.

Biasanya orang Kristen, Katholik, Hindu, dan lain-lain, ketika orang Islam sedang merayakan hari raya, maka tidak sedikit yang ikut mengucapkan selamat, tentu terutama kepada mereka yang dikenal dan memiliki hubungan dekat. Bahkan tidak saja memberikan ucapan selamat, tetapi ada juga yang ikut merayakannya. Saya pernah melaksanakan shalat Id di Klungkung Bali. Ketika itu, saya menyaksikan sesuatu yang aneh. Para pemuda Hindu banyak yang ikut menjaga keamanan jama'ah yang sedang shalat Id. Bahkan lebih dari itu, sejak pagi-pagi buta, banyak kendaraan roda empat milik orang Hindu ikut menjemput jama'ah yang bertempat tinggal berjauhan dari masjid atau lapangan.

Orang non muslim tersebut, ikut merayakan atau bahkan membantu pelaksanaan shalat Id adalah atas dasar kekeluargaan, kebersamaan, dan merasa harus bergotong royong. Kedekatan seperti itu, ------umpama saja, umat Islam kemudian tidak memberikan respon apa-apa ketika mereka sendiri merayakan hari rayanya, maka menjadi tidak terbayangkan kesan apa yang didapat dari sikap muslim itu. Orang Hindu, Kristen, Budha dan lain-lain yang selalu mendekat itu, tentu tidak boleh disalahkan, umpama saja, mereka mengatakan bahwa kaum muslimin tidak toleran, tidak mau menjaga kebersamaan, dan lain-lain.

Sebaliknya, umpama saja, di waktu natal oleh kaum muslimin dijadikan momentum untuk mendekat dalam rangka berdakwah, yakni mengucapkan selamat natal, -----sekedar sebagai upaya mendekat, maka ucapan itu akan menggembirakan mereka. Dengan ucapan itu, mereka akan memahami bahwa Islam adalah agama yang umatnya selalu menghargai dan menghormati pemeluk agama lain. Orang non muslim juga akan memperoleh kesan bahwa Islam itu adalah baik, mulia, dan ----sebagaimana janjinya, adalah selalu menjadi rakhmat bagi seluruh alam. Inilah, jika ucapan natal dipahami dari sudut lain, misalnya untuk kepentingan dakwah. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up