Sebagai seorang muslim, mencari kelemahan Islam sedemikian sulitnya. Dalam berbagai aspek, agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw., sedemikian indah. Agama ini tidak saja mengajarkan tentang kegiatan ritual, melainkan juga mengajak umatnya untuk mencintai ilmu pengetahuan, menjadikan umatnya hidup berkualitas, menjunjung tinggi kejujuran dan keadilan, dan agar umatnya mengerjakan sesuatu secara profesional.
Mendapatkan kritik yang bersifat negatif dari umat Islam sendiri tidak akan ketemu, apalagi kritik itu terhadap isi kitab suci al Qur'an dan tauladan nabinya. Semua ajaran yang terkandung dari kedua sumber tersebut serba indah dan mengandung kebenaran sempurna. Oleh karena itu bagi kaum muslimin, untuk menemukan kekurangan dari ajaran Islam tidak akan ketemu. Menghayati kesempurnaan itu maka seorang muslim akan sulit mengerti, mengapa ajaran yang sedemikian indah itu tidak diakui kebenarannya oleh semua orang. Mungkin saja jawabannya juga bermacam-macam.
Sejak masih muda, saya memiliki kenalan dekat dengan seorang nasrani. Menurut penjelasan yang saya terima, ia masih memiliki hubungan kerabat dengan keluarga saya. Oleh karena itu, saya selalu dipesan agar supaya sekali-kali datang ke rumahnya. Keberagamaan yang bersangkutan bukan sembarangan. Ia masuk kategori seorang tokoh, hingga disebutnya sebagai seorang pendeta. Namun oleh karena ada hubungan dekat, maka ketika saya datang ke rumahnya, bisa berbincang secara leluasa dan terbuka, termasuk memberikan kritik terhadap agama saya.
Sudah barang tentu, perbincangan bebas seperti itu, dan apalagi mengkritik tidak akan dilakukan dalam suasana terbuka dan kepada banyak orang, khawatir menyinggung perasaan dan akan menyebabkan konflik yang tidak perlu. Akan tetapi oleh karena perbincangan itu dilakukan secara pribadi dan terbatas, maka bisa dilakukan secara bebas dan terbuka. Saya yang menjadi sasaran kritik tentu tidak akan tersinggung dan apalagi marah. Saya menganggapnya, kritik itu disampaikan oleh karena ia tidak paham terhadap ajaran Islam.
Kritik yang dilontarkan kepada saya ketika itu adalah tentang kelemahan umat Islam dan bukan menyangkut kebenaran ajaran Islam yang bersumber dari al Qur'an dan hadits nabi. Akan tetapi, ia juga mengatakan, jika kitab suci dan tauladan nabi itu memang benar, maka seharusnya juga akan tampak pada perilaku umatnya. Sementara itu, ia melihat umat Islam dalam berbagai aspeknya berposisi tertinggal. Ia menyebutkan bahwa lembaga pendidikan Islam tidak berkualitas, pada umumnya pemeluknya miskin, tidak mampu berpikir kritis, tidak mudah menerima perubahan, menyukai konflik, dan seterusnya.
Bahkan, pada saat saya masih muda, ------menjadi mahasiswa, kritik itu juga sering disampaikan sedemikian tajamnya. Ia mengatakan misalnya, kamu akan menjadi apa kelak, belajar di perguruan tinggi Islam. Apa yang ingin kamu dapatkan dari perguruan tinggi yang jauh dari bermutu itu. Kamu sehari-hari akan berkumpul dengan orang-orang sarungan, bersandal jepit, dan pekerjaannya hanya meminta sumbangan ke sana ke mari.
Krtitik tersebut sekedar contoh, masih ada lainnya yang lebih tajam. Akan tetapi semua itu tidak pernah saya respon secara negatif. Bahkan pada saat-saat tertentu, saya sengaja berkunjung ke rumahnya lagi untuk mendapatkan kritik tambahan. Mendengarkan sesuatu yang tidak mengenakkan tersebut, saya selalu bersikap positif. Menghadapi orang seperti itu, saya tidak pernah membantah, dan apalagi membela diri. Saya berkeyakinan, oleh karena pada waktu itu, saya masih dilihat sebagai orang yang belum memiliki apa-apa, apalagi kelebihan, maka saya yakin penjelasan saya tidak akan masuk pada pikirannya. Saya memilih mengambil sikap pasif.
Dari mendengarkan kritik itu, pada diri saya justru tumbuh semangat yang tinggi, hingga melahirkan tekat, bahwa pada suatu ketika, manakala ada kesempatan, saya akan menunjukkan bahwa Islam tidak sebagaimana yang digambarkan oleh seorang pendeta itu. Suara hati saya mengatakan bahwa, saya akan tunjukkan bahwa Islam itu adalah ajaran yang sedemikian indah, mampu membangun lembaga pendidikan yang maju, inovatif, dan unggul. Semangat seperti itulah sebenarnya, yang pada akhirnya memotivasi diri saya sendiri untuk melakukan apa saja secara maksimal, agar kritik yang dilontarkan oleh tokoh nasrani itu tidak terbukti.
Namun oleh karena kritik itu selalu dilontarkan pada setiap saya datang ke rumahnya, maka lama kelamaan saya sudah merasa cukup. Saya tidak mau datang lagi ke rumah pendeta itu dalam waktu yang lama. Tetapi, pada suatu saat setelah mendengar bahwa, saya sudah menjadi pimpinan perguruan tinggi Islam, dan mungkin setelah mendapat kabar bahwa, perguruan tinggi yang saya pimpin cukup maju, ia mendatangi saya ke kampus. Ia mengatakan rindu dan berpesan, umpama tidak sempat datang ke rumahnya, ia meminta agar saya menghubungi lewat tilpun.
Sudah barang tentu, permintaannya itu saya sanggupi dan saya berusaha pemperlakukan tokoh nasrani yang kebetulan, ------menurut ceritanya, masih ada hubungan kekerabatan itu, sebaik-baiknya. Ketika itu, saya tidak membalas kritiknya terdahulu. Ketika datang menemui saya, ia menunjukkan kebanggaannya dan memberikan pengakuan bahwa, Islam ternyata tidak sebagaimana yang dulu digambarkan. Di akhir pertemuan itu, ia berpesan agar apa yang saya lakukan, dikembangkan secara terus menerus.
Namun sayang, dalam perjalanan pulang dari menemui saya itu, mobilnya tubrukan dan ia meninggal. Mendengar berita itu, saya merasa sedih dan menyesal, terlalu lama saya tidak berkunjung ke rumahnya, hingga orang tua itu datang ke kantor hingga akhirnya menemui ajalnya. Dari peristiwa itu, saya berpendapat bahwa, kritik tajam atau pandangan negatif dari manapun datangnya, sebenarnya bisa melahirkan energi positif dan bisa mendatangkan manfaat. Wallahu a'lam.



