Musuh-Musuh Pembangunan Bangsa
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 27 Desember 2014 . in Dosen . 1818 views

Keinginan menjadi masyarakat adil, makmur, dan sejahtera bagi bangsa Indonesia ini sudah dimiliki sejak lama. Bahkan kemerdekaan yang diperjuangkan dengan berbagai resiko dan pengorbanan yang tidak terkirakan besarnya juga didorong oleh keinginan untuk meraih cita-cita tersebut. Namun usaha yang telah dilakukan dalam waktu sekian lama dan telah melewati beberapa periode kepemimpinan, ternyata belum berhasil diwujudkan secara maksimal.

Padahal sekedar untuk makmur, bangsa ini memiliki kekayaan yang luar biasa banyaknya. Tanahnya luas dan subur. Apapun yang ditanam pasti tumbuh dan berbuah. Ternak jenis apapun juga bisa hidup dan bisa dikembang-biakkan. Lautannya sedemikian luas. Kekayaaan laut tidak terbatas jumlahnya, sedangkan yang diperlukan hanyalah membudi-dayakannya. Berbagai jenis tambang ada di Indonesia, mulai dari emas, biji besi, batu bara, minyak, dan berbagai jenis berharga lainnya.

Kekayaan yang sulit digambarkan tersebut, masih ditambah lagi, ialah jumlah penduduknya besar, menghuni ribuan pulau, baik yang berukuran besar dan maupun kecil. Lebih dari itu, bangsa Indonesia dikenal memiliki budaya tinggi, misalnya mampu menghormati orang, toleran, bersopan santun, tidak mementingkan dirinya sendiri, dan lebih dari itu, atas agama yang dipeluk, mereka telah memiliki nilai-nilai yang dijadikan pedoman hidupnya sehari-hari.

Melihat kenyataan tersebut, maka seharusnya muncul pertanyaan besar, yaitu apa sebenarnya yang menjadikan bangsa ini masih selalu tertinggal dari bangsa lain. Sekalipun memiliki kekayaan alam melimpah tetapi ternyata masih banyak kemiskinan, jumlah penduduk berpendidikan rendah masih besar, tidak mudah mendapatkan pekerjaan, dan bahkan tidak sedikit warga negara yang harus pergi ke luar negeri, meninggalkan kampong halamannya, hanya sekedar mendapatkan jenis pekerjaan yang berupah rendah. Selain itu, kesenjangan masih sedemikian lebar, sehingga semua itu menggambarkan bahwa cita-cita bangsa Indonesia agar menjadi makmur, adil dan sejahtera masih belum tercapai.

Maka kiranya tidak salah jika banyak orang merasa kebingungan untuk menjelaskan dan apalagi menjawab persoalan yang dihadapi oleh bangsa ini. Tidak sedikit teori atau pandangan yang diajukan oleh para pemimpin bangsa untuk menjelaskan dan menyelesaikan persoalan yang dihadapi untuk meraih cita-cira sebagaimana disebutkan di muka. Akan tetapi, sekalipun sudah sekian lama berbagai pandangan itu diimplementasikan, ternyata belum mampu menyelesaikan masalah dimaksud. Bangsa ini masih saja tertinggal dari bangsa-bangsa maju lainnya.

Bagi orang yang mempercayai agama, dalam kehidupan ini selalu ada kekuatan perusak, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Bangsa Indonesia telah dirusak oleh bangsa lain tidak kurang dari 350 tahun, yaitu melalui penjajahan. Penjajah dimaksud tentu kelihatan dan dikenali oleh siapapun, yaitu Belanda kemudian juga Jepang. Sekarang ini, penjajaham itu sudah usai, Indonesia sejak tahun 1945 sudah merdeka. Belanda maupun Jepang sudah kembali ke negerinya masing-masing.

Akan tetapi , jangan dikira bahwa hilangnya kekuatan perusak yang bersifat lahir, yang tampak atau yang kelihatan itu berarti sudah tidak ada lagi kekuatan lain yang justru sebenarnya lebih ganas. Kekuatan perusak itu bisa jadi berasal dari dalam negeri sendiri dan dari luar negeri, dan atau bahkan merupakan kombinasi dari keduanya. Menghadapi kekuatan perusak yang tidak tampak, maka pasti lebih sulit dibanding dengan kekuatan yang tampak. Kekuatan perusak yang tidak tampak, bisa saja tidak disadari bahwasanya hal tersebut sebenarnya adalah merusak. Oleh karena tidak disadari itulah, kekuatan perusak itu justru dianggap sebagai kawan, penolong, menawarkan jasa baik, dan sejenisnya.

Dalam keyakinan agama, kekuatan perusak yang tidak kelihatan itu disebut dengan istilah syaithan. Nama makhluk perusak itu dikenal, namun bentuk, rupa, dan ukurannya tidak pernah kelihatan. Semua orang mengenal nama syethan, yaitu makhluk Tuhan yang bertugas mengganggu dan menghancurkan manusia. Syetan yang secara fisik tidak kelihatan dan tidak bisa ditangkap oleh indera manusia itu, justru memiliki kekuatan yang luar biasa. Makhluk itu bisa menjauh, tetapi juga sebaliknya, yaitu mendekat, dan bahkan menyatu ke dalam kehidupan manusia sendiri.

Kekuatan perusak atau musuh bangsa Indonesia pada saat sekarang ini sebenarnya adalah justru berupa yang tidak kelihatan itu. Para penjajah, jelas sudah meninggalkan bangsa ini sejak lama. Bangsa ini sudah merdeka dari perusak yang bersifat fisik. Akan tetapi sebaliknya, kekuatan perusak yang justru tidak kelihatan, semakin bertambah hari, ternyata semakin bertambah dahsyat. Sebagaimana disebutkan di depan, kekuatan dimaksud bisa berasal dari dalam negeri sendiri dan dari luar, atau berasal dari kedua-duanya.

Sudah barang tentu, kekuatan perusak yang tidak kelihatan itu, jenisnya bermacam-macam. Jika makhluk yang dianggap sebagai perusak itu disebut dengan istilah syethan, maka sebenarnya bisa saja mewujud dalam bentuk beraneka ragam, dan tidak terkecuali mewujud sebagai manusia. Oleh karena ganasnya kekuatan perusak itu, maka dalam Islam diajarkan agar kaum muslimin selalu membaca ta'awudz, yakni memohon perlindungan kepada Tuhan atas segala godaan syetan yang terkutuk itu.

Bangsa Indonesia ini tidak segera maju oleh karena musuhnya, atau kekuatan perusaknya yang tidak kelihatan, justru semakin berkembang. Pelaku koruptor, berbagai sindikat atau mafia dalam semua lini kehidupan,------mafia ekonomi, politik, hukum, pendidikan, perdagangan, keuangan, dan lain-lain telah meraja lela. Selain itu, kekuatan pemecah belah, manipulasi, dan berbagai macam kekuatan perusak lainnya melakukan aktivitasnya mencari berbagai jenis keuntungan, dan bahkan secara tidak langsung menghisap dan sekaligus menindas.

Kekuatan perusak dimaksudkan itu, tentu tidak mudah dilawan, oleh karena juga tidak selalu kelihatan. Namun itulah musuh bangsa ini yang sebenarnya, yang dalam literature agama disebut dengan syethan. Mereka itu tidak bisa dilihat, akan tetapi kelebihannya, bisa mempengaruhi dan mewujud dalam bentuk manusia. Seseorang yang terkena bujuk rayuan syethan, dan itu bisa terjadi pada diri siapapun, maka sehari-hari pekerjaan mereka adalah merusak. Mereka itu seolah-olah berbuat baik, menjadi orang baik, dan bahkan menduduki posisi social yang amat strategis, namun pada hakekatnya adalah sebagai syethan yang selalu membuat kerusakan. Di saat menutup tahun ini, mari kita melakukan muhasabah secara saksama, jangan-jangan diri kita sendiri, tanpa menyadari, telah menjadi bagian dari peran yang merugikan itu. Namun, semogalah tidak begitu. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up