Saling Menuduh Sesat
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 13 Desember 2014 . in Dosen . 11236 views

Sesat biasanya dikaitkan dengan orang yang sedang dalam perjalanan. Tatkala salah di dalam memilih jalan, maka seseorang disebut sesat. Mengetahui ada orang sesat, biasanya orang akan segera menunjukkan jalan yang seharusnya. Biasanya orang yang ditunjuki, bahwa jalan yang dilalui itu salah, maka yang bersangkutan akan segera menyadari dan mengikuti petunjuk orang yang dianggap tahu jalan dimaksud.

Di mana-mana ada saja orang sesat di jalan. Lebih-lebih ketika seseorang sedang menunaikan ibadah umrah atau haji, dan berada di sekitar masjid al Haram. Oleh karena luasnya Masjid al Haram, juga banyaknya jama'ah, dan apalagi bagi orang yang tidak pernah bepergian, maka sangat berpotensi sesat. Ketika sedang berada di sekitar Masjid al Haram, banyak orang sesat dan berasal dari mana saja, termasuk dari Indonesia.

Untuk menghindari agar orang yang sedang menjalankan umrah atau haji tidak sesat, maka biasanya para jama'ah dipandu oleh petugas, pimpinan rombongan atau keluarganya. Selain itu, untuk mempermudah mencari kembali orang yang terpisah dari rombongannya dan tersesat, maka masing-masing jama'ah diberi tanda khusus, berupa gelang bertuliskan keterangan tentang jama'ah yang memakainya.

Orang sesat di jalan selalu mendatangkan rasa kasihan atau kepedulian dari orang lain yang mengetahunya, apalagi yang tersesat itu adalah orang tua. Biasanya orang yang mengetahui hal itu segera menolong. Oleh karena itu, orang yang baru pulang dari umrah atau haji, biasanya yang dijadikan bahan cerita adalah tentang banyaknya orang tersesat, dan mereka merasa gembira, oleh karena juga berhasil menolong orang yang diketahui sesat.

Hal berbeda tatkala sebutan sesat itu dikaitkan dengan ajaran agama. Seseorang yang dituduh sesat dalam memilih aliran, faham, atau madzhab keagamaan biasanya akan marah. Orang yang dituduh sesat itu akhirnya membalas dengan tuduhan yang sama. Maka terjadilah saling menuduh sesat di antara pengikut aliran, faham, atau madzhab yang berbeda. Suasana saling menuduh sesat itulah yang menjadikan mereka bersitegang, berseteru, dan bahkan konflik berkepanjangan.

Orang sesat di jalan dan kemudian diberi tahu oleh seseorang tentang pilihan jalan yang benar, mereka akan senang dan juga berterima kasih. Tetapi, tuduhan sesat kepada orang yang memilih faham atau aliran keagamaan yang berbeda menjadi tersinggung dan marah. Terhadap pilihan jalan yang harus dilalui adalah sangat berbeda dengan pilihan aliran, faham, atau madzhab. Terhadap pilihan jalan yang harus dilalui adalah bersifat kongkrit atau pasti kebenarannya.

Sementara itu terhadap pilihan faham, aliran, atau madzhab, kebenarannya selalu tidak pasti. Orang yang menuduh bahwa aliran orang lain adalah sesat, sebenarnya belum tentu demikian. Sangat mungkin orang yang menuduh sesat, justru dirinya sendiri yang sebenarnya berada pada jalan yang sesat itu. Kesesatan dalam hal pilihan aliran, faham atau madzhab, sebenarnya tidak pernah jelas.

Bahwa kepastian seseorang itu berada pada jalan sesat atau tidak , adalah bukan berada pada wilayah otoritas manusia. Orang yang benar-benar tidak sesat, dalam arti pasti memperoleh petunjuk Tuhan, amal ibadahnya diterima, dan akan masuk surga adalah hanya diketahui oleh Allah sendiri. Siapapun, selain Tuhan, tidak akan pernah ada orang yang mengetahuinya. Semua hanya berharap, agar mendapatkan keselamatan.

Manakala pandangan tersebut dianggap benar, maka sebenarnya tidak perlu di antara sesama muslim saling menuduh sesat. Jika perbedaan faham keagamaan itu akan melahirkan suasana yang tidak diharapkan, maka cara bijak yang seharusnya ditempuh adalah membiarkan pilihan masing-masing, dan mendo'akan agar semuanya memperoleh hidayah, pertolongan, khusnul khotimah, dan akhirnya memperoleh keselatan bersama. Menuduh sesat menjadi tidak ada gunanya. Tokh, siapa tahu atas kasih sayang yang tidak terbatas, Allah menolong semuanya. Dan akhirnya, baik yang dituduh sesat dan yang menuduhnya akan selamat, dan mendapatkan kebahagiaan semuanya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up