Sekalipun Banjir, Seminar Di Lhokseumawe Tetap Berlangsung
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 25 Desember 2014 . in Dosen . 1032 views

Beberapa hari terakhir, sebagian besar wilayah Aceh dilanda banjir. Pada hari Rabu, tanggal 24 Desember 2014, kebetulan saya diundang oleh STAIN Malikus Saleh Lhokseumawe untuk menjadi pembicara dalam seminar yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi Islam negeri itu. Sekalipun jauh, saya berusaha datang untuk memenuhi undangan itu.

Aceh dikenal sebagai daerah muslim, bahkan disebut sebagai 'serambi makkah'. Sebutan itu menggambarkan tentang betapa Islam telah dijadikan sebagai pegangan yang kuat bagi masyarakatnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Bahkan sejak beberapa tahun yang lalu, pemerintah daerah provinsi Aceh, secara khusus, telah mengimplementasikan hukum syari'ah di wilayahnya.

Sehubungan dengan hal tersebut, perbincangan yang terkait dengan Islam, baik melalui dialog, diskusi, atau seminar, di wilayah itu menjadi sesuatru yang menarik, tidak terkecuali tentang pendidikan Islam. Sudah seringkali, saya diundang oleh beberapa perguruan tinggi Islam yang ada di wilayah Provinsi Aceh untuk membicarakan tentang pendidikan, dan terakhir oleh STAIN Malikus Saleh Lhokseumawe.

Setiap kali saya menghadiri seminar di provinsi itu selalu melihat banyak peserta, sehingga seolah-olah masyarakat Aceh tidak bosan berbicara tentang pendidikan Islam. Beberapa kali saya diundang ke UIN Ar Raniry, Universitas Islam Tamiyang di Langsa, STAIN Langsa yang sekarang sudah berubah menjadi IAIN Langsa, dan pertengahan minggu ini, tanggal 24 Desember 2014, sudah yang ke sekian kali, saya datang ke STAIN Lhokseumawe.

Sekalipun kedatangan saya yang terakhir itu dalam keadaan banjir, ternyata seminar pun tidak dibatalkan. Bersama Prof.Dr. Farid Wajdi, Rektor UIN Ar Raniry, diminta berbicara lagi di seputar pendidikan Islam. Menurut ukuran normal, dalam keadaan hujan dan apalagi banjir, kegiatan semacam itu seharusnya ditunda. Akan tetapi, sekalipun keadaannya tidak normal, kegiatan tetap dilangsungkan. Disebut tidak nomal, oleh karena, dalam menuju ke tempat kegiatan itu saja, para peserta sampai harus melepas sepatu. Di sekitar gedung yang digunakan untuk seminar digenangi air.

Keadaan tersebut menunjukkan bahwa, pendidikan Islam di berbagai wilayah Aceh, termasuk di Lhokseumawe, memiliki daya tarik tersendiri. Hanya persoalan yang dihadapi selama ini adalah, bagaimana menformat pendidikan Islam itu secara tepat. Sementara ini, banyak orang memaknai pendidikan Islam baru sebatas kegiatan yang terkait dengan pelajaran tauhid, fiqh, akhlak, tarekh, dan bahasa Arab. Demikian pula, kajian di tingkat perguruan tinggi Islam juga hanya sebatas meliputi ilmu syari'ah, ushuluddin, dahwah, tarbiyah, dan adab. Melihat kenyataan itu, jika direnungkan secara mendalam, Islam yang sebenarnya memiliki cakupan yang begitu luas tereduksi menjadi sedemikian terbatas.

Dalam seminar itu, saya menyampaikan pandangan bahwa Islam itu adalah bersifat universal. Artinya, meliputi semua aspek kehidupan ini. Al Qur'an dan hadits memberikan petunjuk tentang kehidupan, baik terkait dengan ilmu pengetahuan, kualitas kehidupan manusia, keharusan menegakkan keadilan, berbagai contoh kegiatan ritual, dan juga profesionalisme atau beramal shaleh. Islam tidak cukup hanya dipahami dari aspek ritual, seperti shalat, zakat, puasa, haji, berdzikir, dan sejenisnya.

Oleh karena pada saat berlangsungnya kegiatan tersebut dalam keadaan banjir, maka seharusnya peserta seminar juga memahami, bahwa pendidikan Islam juga terkait dengan persoalan yang sedang melanda itu. Melalui pendidikan Islam, mahasiswa seharusnya didorong untuk mengkaji secara terus menerus tentang perilaku alam, termasuk pencegahan terjadinya banjir. Lebih dari itu, lewat pendidikan Islam juga tidak cukup hanya mengajak mahasiswa melihat banjir hanya dari perspektif fiqh. Di mana dan kapan saja, Islam hadir adalah untuk menyelesaikan berbagai masalah kehidupan.

Akhirnya, seminar yang dilaksanakan di tengah-tengah suasana banjir tersebut justru memberi makna lebih, yakni memberikan contoh kongkrit, bahwa cakupan pendidikan Islam sedemikian luas, yaitu seluas kehidupan itu sendiri. Pendidikan Islam tidak boleh hanya dimaknai secara terbatas sebagaimana yang selama ini dipahami dan dijalankan. Peserta seminar diajak untuk memaknai kembali tentang Islam yang sebenarnya memiliki cakupan yang amat luas itu, dan selanjutnya dijadikan dasar dalam membangun pendidikan Islam yang dipandang ideal. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up